Agung Danarto: Kekayaan Muhammadiyah Ada di Warga Persyarikatan

Agung Danarto: Kekayaan Muhammadiyah Ada di Warga Persyarikatan

Sleman– Persyarikatan Muhammadiyah yang terkenal sebagai organisasi dengan kuantitas Amal Usaha terbesar dan terbanyak di dunia merupakan hasil dari kolektifitas dan kerja keras. Bagi Persyarikatan, semua aset yang dipunyai merupakan hasil dari harta infaq dan waqaf dari para kader, anggota, simpatisan, dan masyarakat yang mempercayakan pengelolaannya pada organisasi Muhammadiyah. Bergerak dan membangun dari bawah dengan semangat “fastabiqul khairat” merupakan salah satu dari keberhasilan organisasi yang didirikan oleh KH. Ahmad Dahlan ini. Fatabiqul khairat dalam artian memberi dan melakukan yang terbaik atau diistilahkan dengan “why not the best?”

“Muhammadiyah itu kaya. Tapi kekayaan Muhammadiyah tidak berada di kantor Pimpinan Cabang Muhammadiyah, tidak berada di kantor Pimpinan Daerah Muhammadiyah, tidak berada di kantor Pimpinan Wilayah Muhammadiyah, juga tidak berada di kantor Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Kekayaan Muhammadiyah ada di tangan para warga dan simpatisan Muhammadiyah, yang kemudian diinfaqkan untuk dakwah Muhammadiyah.” Hal itu dikemukakan oleh Dr. Agung Danarto, M.Ag. di hadapan ribuan warga yang hadir dalam acara Pengajian dan Silaturahmi yang diadakan oleh SMP Muhammadiyah Pakem bekerjasama dengan PCM dan PCA Pakem, Sleman, Yogyakarta pada Minggu pagi (13/03/2016).

Menurut sekretaris Pimpinan Pusat Muhammadiyah itu, Muhammadiyah besar merupakan wujud dari kerja keras dan kerja ikhlas dari segenap warga Persyarikatan untuk mensejahterakan masyarakat. “Karena niat yang tulus untuk kepentingan umat dan masyarakat luas, maka yang kemudian ikut mendukung dan berpartisipasi juga banyak,” ujar dosen UIN Sunan Kalijaga itu.

Di bagian lain, dirinya juga menyatakan bahwa Muhammadiyah telah berperan jauh sebelum Indonesia merdeka. Pada tahun 1926, penyebaran Muhammadiyah berlangsung sangat massif ke seluruh pelosok Nusantara. Muhamamdiyah di Papua, Belitung, hingga daerah-daerah terpencil dan perbatasan masuk pada tahun 1926. “Dari para anggota Muhammadiyah yang menyebar ke seluruh pelosok negeri ini kemudian menjadi awal mula berlangsungnya kesepakatan untuk mengadakan Sumpah Pemuda. Saat itu, Muhammadiyah juga sudah mempelopori, menggunakan, dan menjadikan bahasa Melayu sebagai bahasa persatuan, yang kemudian hari dikenal sebagai bahasa Indonesia.”

Turut hadir dalam kegiatan pengajian itu, Bupati Kabupaten Sleman Drs. Sri Purnomo, M.Si., PDM Sleman, Majelis Dikdasmen dan Majelis Tabligh Sleman, Muspika Kecamatan Pakem, Wakil ketua DPRD DIY, Komite sekolah, wali murid, kepala desa se-Pakem, KUA, Polsek, camat, dan ortom se-Sleman. (Ribas)