PP Muhammadiyah Jalin Kerjasama dengan CMA Taiwan

PP Muhammadiyah Jalin Kerjasama dengan CMA Taiwan

TAIWAN, Suara Muhammadiyah- Ketua Umum PP Muhammadiyah Haedar Nashir bersama Ketua PP Muhammadiyah bidang Tarjih dan Tabligh Yunahar Ilyas serta Rektor Universitas Ahmad Dahlan (UAD) Kasiyarno melakukan kunjungan kerja ke Taiwan (15-19/12). Di antara agenda yang dilakukan adalah menggelar pertemuan dengan salah satu komunitas muslim, Chinese Moslem Association (CMA).

“Kerjasama dengan Chinese Moslem Association (CMA) adalah salah satu dari rangkaian agenda kunjungan resmi PP Muhammadiyah ke Taiwan, selain kerjasama dengan beberapa universitas, seperti Taipei University of Technology, dan pelantikan PCIM Taiwan,” jelas Haedar Nashir. “Ada juga masukan dari imam besar masjid Taipei, Prof Dr Ibrahim Choi, terkait pembinaan keislaman bagi masyarakat muslim Indonesia yang ada di Taiwan.”

Dalam pertemuan tersebut, pengurus CMA, Haji Ali Feng dan Sekjen Salahuding MA, memberikan kabar baik bahwa pemerintah Taiwan pada dasarnya sangat simpati dengan keberadaan Islam.

“Kita mendapatkan info bahwa pemerintah Taiwan tidak ada masalah dengan Islam. Agama dianggap sebagai budaya, sehingga masjid besar di Taipei dijadikan bangunan cagar budaya dan imam tetap di masjid itu digaji sampai NT (New Taiwan dolar) 12.000/bulan,” kata Kasiyarno.

Demikian halnya dengan keberadaan warga muslim Indonesia di Taiwan. Kata Kasiyarno, mahasiswa Indonesia ada yang diangkat menjadi salah satu imam di sana, yang bertugas menjadi imam dalam sholat lima waktu, terutama saat pelaksanaan shalat Subuh. Kesan Islamophobia sama sekali tidak ditemukan di Taiwan.

“Masjid bebas didirikan di Taiwan dan tidak ada penolakan dari masyarakat sehingga ada beberapa mushala di Taipei. Cuma adzan tidak boleh dengan speaker sehingga suara terdengar keluar,” ujarnya.

Berbeda dengan Muhammadiyah di Indonesia, CMA mempromosikan Islam melalui pendekatan ekonomi. Semisal, promosi halal food di perusahaan-perusahaan makanan, hotel, restaurant, penyediaan mushola di kampus, dan ruang-ruang publik lainnya seperti bandara.

Sasaran dakwah CMA adalah warga dari keluarga keturunan hasil perkawinan campuran Taiwan-Indonesia yang jumlahnya cukup banyak.

“Umumnya, laki-laki Taiwan suka masuk Islam dengan mengawini wanita Indonesia. Anak-anak mereka yang jadi objek dakwah karena biasanya kurang terjaga kemuslimannya,” tutur Kasiyarno.

Kehadiran mahasiwa Indonesia di Taiwan selama ini, terutama melalui wadah Pimpinan Cabang Istimewa Muhammadiyah (PCIM), diharapkan dapat membantu program dan tugas CMA. Mereka telah mengadakan berbagai pertemuan termasuk pengajian bersama hingga kegiatan pelatihan beladiri Tapak Suci.

Dari pertemuan tersebut, PP Muhammadiyah dan CMA menyepakati beberapa hal yang nantinya akan ditindaklanjuti. Prof Choi sangat berharap adanya kerjasama yang lebih intensif dengan Muhammadiyah di kemudian hari (Ribas).