Majelis Dikti PP Muhammadiyah bersama SM akan Fasilitasi Lokakarya Nasional AIK

Majelis Dikti PP Muhammadiyah bersama SM akan Fasilitasi Lokakarya Nasional AIK

JAKARTA, Suara Muhammadiyah– Majelis Pendidikan Tinggi dan Litbang PP Muhammadiyah bersama Suara Muhammadiyah, berencana akan memfasilitasi kegiatan lokakarya nasional guna mengkaji pengembangan studi Al Islam dan Kemuhammadiyahan untuk perguruan tinggi Muhammadiyah se Indonesia.

Hal ini disampaikan oleh ketua Majelis Diktilitbang PP Muhammadiyah,  Prof. Lincolin Arsyad saat menyampaikan pandangannya dalam launching buku kuliah kemuhammadiyahan dan lokakarya AIK di kampus Universitas Prof.  Hamka, Jakarta pada hari Senin,  (10/12).

“Kita sangat senang,  banyaknya buku-buku tentang studi kemuhammadiyahan,  apalagi hadirnya buku kuliah Kemuhammadiyahaan yang ditulis bapak Haedar,  ini menjadi referensi yang sangat bagus,  karena lengkap dan ditulis langsung oleh ketua umum PP Muhammadiyah.  Selain itu,  juga hadir buku kuliah kemuhammadiyahan karya Tim PTM Se Jabodetabek,  yang lebih praktis,  dengan membawa konsep almaun untuk dijalankan para mahasiswa.  Namun selain itu,  tentu kita juga perlu,  melihat studi kemuhammadiyahan ini dari perspektif lain,  seperti perspektif ekonomi,  demografis dan lainnya.  Sehingga,  kita memiliki sumber yang kaya.  Oleh karena itu,  untuk menyusun kajian studi kemuhammadiyah yang multiaspek ini,  sangat diperlukan lokakarya secara nasional,  khusus membahas masalah ini.  InsyaAllah,  nanti majelis Dikti dan Suara Muhammadiyah,  akan memfasilitasi agenda ini”, ungkap Lincolin Arsyad.

Menyambut pandangan Ketua Majelis Diktilitbang ini,  Deni Asyari,  Direktur Suara Muhammadiyah,  membenarkan dan menyetujui agenda ini,  karena menurut Deni,  persoalan studi kemuhammadiyahan dan keislaman,  bukan semata-mata pada persoalan konten dan materi yang diajarkan.  Namun juga yang sangat perlu adalah cara dan metode menyampaikan pesan kuliah kemuhammadiyahaan ini kepada mahasiswa.  ” kami sangat setuju rencana dari majelis Diktilitbang,  sebab persoalan studi kemuhammadiyahan ini,  bukan saja persoalan menyangkut konten,  melainkan yang juga luput dalam pandangan kita adalah cara dan metodenya.  Sebab,  kita mengetahui,  bahwa mahasiswa yang ada di lingkungan PTM,  tidak semuanya berasal dari kader atau dari keluarga besar Muhammadiyah.  Beberapa PTM saya tanyakan,  paling banyak mahasiswa yang latarbelakangnya Muhammadiyah sekitar 7 – 20%. Artinya ada sekitar 80 -90% dari mahasiswa di PTM yang bukan berlatar belakang Muhammadiyah,  apalagi mahasiswa di PTM NTT,  Maluku Utara,  Sorong dll.  Maka sangat diperlukan model pengajaran yang tepat dan baru untuk generasi ini”, ungkap Deni.

Prof Abdul Munir Mulkhan,  yang juga didaulat sebagai narasumber,  memandang pengajaran kuliah kemuhammadiyahan ini, perlu menyesuaikan dengan kondisi millenial sekarang.  Harus fleksibel dan menyenangkan.  ” kalau model studi kemuhammadiyahan seperti yang terdapat di buku-buku yang sekarang ini, memang berat,  cocoknya untuk kalangan dosen,  namun untuk para mahasiswa yang sangat beragam latarbelakangnya,  perlu pendekatan disruptif,  dengan mengedepankan aspek psikomotoriknya”, ungkap guru besar UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta ini.

Sedangkan Husni Toyar,  selaku ketua BPH Universitas Muhammadiyah Jakarta,  sependapat dengan yang disampaikan oleh Prof Munir,  sebab,  dari pengalaman beliau ber Muhammadiyah,  sejak kecil tidak diajarkan  bermuhammadiyah dalam versi teks,  melainkan dalam pengalaman dan prilaku sehari-hari. “Kalau kita melihat internalisasi nilai-nilai Muhammadiyah saat dulu,  tidak ada pendekatan teks,  melainkan pendekatan psikomotorik,  atau pendekatan pada prilaku.  Sehingga sejak kecil,  tanpa terasa,  kita bahagia dalam bermuhammadiyah dan mengamalkan ajaran-ajaranya”, ungkap sesepuh UMJ ini.

Pandangan semua panelis ini,  diharapkan oleh Prof Yunan Yusuf, Ketua BPH Universitas Prof. Hamka, untuk dikembangkan dan disesuaikan ke depannya.  “Memang buku kemuhammadiyahan ini,  belum final,  dan ini akan terus kita kembangkan.  Bahkan untuk edisi ke 2 nanti,  sudah ada revisinya dan pengembangannya.  Oleh karena itu, jika majelis Dikti dan SM,  memfasilitasi lokarya nasional untuk AIK ini sangat bagus sekali”, kata mantan Ketua Majelis Dikdasmen PP Muhammadiyah ini.

Sebelum lokarya, hadir Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Dr. Haedar Nashir memberikan keynote speake dan Rektor Universitas Prof. HAMKA, Dr. Gunawan serta Zamahsari,.M.Ag menyampaikan pengantar lokakarya AIK. (Red)