Jenderal Sudirman dan Sapta Marga TNI

Jendral Soedirman dengan para sejawat Dok Arsip

Jenderal Sudirman adalah kader Muhammadiyah yang kemudian menjadi Panglima Tentara yang pertama di Indonesia.

Untuk memperbincangkan sisi-sisi kehidupan Jenderal Sudirman, Suara Muhammadiyah mewawancarai dosen pendidikan sejarah Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) Sardiman AM yang juga peneliti kehidupan Jenderal Sudirman. Berikut ini hasil perbincangan kami yang disajikan dalam bentuk dialog:

Sebagai seorang peneliti Jenderal Sudirman, apa yang menarik darinya?

Sikapnya yang bertanggung jawab dan pantang menyerah ini merupakan karakter Jenderal Sudirman yang patut diteladani oleh generasi sekarang ini. Sikap ini ia tunjukkan tatkala Clash kedua. Ia memilih untuk memimpin perang gerilya meski dalam kondisi sakit ketimbang tinggal di kota untuk mengobati sakitnya.

Ada tiga orang yang dicari oleh Belanda pada saat itu untuk melumpuhkan Republik Indonesia yang baru saja berdiri. Ketiga orang tersebut adalah Bung Karno, Bung Hatta dan Jenderal Sudirman. Bung Karno dan Bung Hatta bisa ditangkap dan diasingkan di Bangka Belitung. Sedangkan Jenderal Sudirman yang melakukan perlawanan tidak bisa ditangkap oleh Belanda meski terus dikejar. Ini membuat Jenderal Spoor yang bertanggung jawab untuk menangkap tiga orang tersebut menjadi stress.

Sikap bertanggung jawab dan pantang menyerah dari Jenderal Sudirman ini kemudian diabadikan dalam Sapta Marga Tentara Nasional Indonesia. Dalam Sapta Marga nomer 2 disebutkan: Kami Patriot Indonesia, mendukung serta membela Ideologi Negara yang bertanggung jawab dan tidak mengenal menyerah.

Karakter ini tentu tidak terbentuk begitu saja, bagaimana awal terbentuknya karakter ini?

Karakter ini bisa saja terbentuk sejak kecil, tetapi mulai nampak jelas pada Sudirman ketika di Hizbul Wathan Muhammadiyah. Dimana sejumlah karakter mulia dibentuk dalam kepanduan Hizbul Wathan. Bahkan tidak hanya karakter baik yang dibentuk tetapi juga keterampilan berperang pun mulai dibentuk di Hizbul Wathan ini melalui atihan-latihan yang dilakukan dalam perpanduan ini.

Baca Juga:   Haedar Nashir: Agama dan Pancasila, Alasan Mengapa LGBT Tidak Bisa Dilegalkan

Lebih nampak lagi sikap tanggung jawab dan pantang menyerah ini ketika Sudirman memimpin perkemahan Hizbul Wathan di Batur Banjarnegara. Saat itu hujan deras dan air membanjiri area perkemahan. Semua peserta sudah berlindung ke rumah-rumah penduduk sekitar perkemahan tetapi Sudirman sebagai penanggung jawab perkemahan tetap bertahan di perkemahan dan tidak mau menyerah dengan keadaan meski cuaca buruk dan udara dingin tak tertahankan.

Sikap ini yang membuatnya menonjol dan menjadikan dirinya terpilih memimpin di lingkungannya, Mungkin ini pula yang mengantarkan Jenderal Sudirman menjandi Panglima untuk memimpin tentara Indonesia. Selain juga kepandaiannya dalam menyusun strategi dalam melakukan perjuangan yang dilakukan secara tepat.

Bisa dicontohkan strategi-strategi apa yang menonjol yang dilakukan oleh Sudirman dalam kehidupannya?

Ini bisa dilihat, ketika Pak Dirman memimpin Sekolah Muhammadiyah di Cilacap. Saat itu Sekolah Muhammadiyah akan dibubarkan oleh Jepang. Dengan strategi bahwa pembubaran sekolah akan membuat masyarakat Cilacap tak simpati dengan Jepang, akhirnya Sekolah tidak jadi dibubarkan.

Selanjutnya ketika Pak Dirman dilatih yang kedua oleh Jepang. Pak Dirman di PETA (Pembela Tanah Air) dilatih dua kali oleh Jepang. Latihan pertama memang benar-benar dilatih oleh Jepang untuk menjadi komandan-komandan di lapangan, menjadi panglima-panglima di daerah. Sedangkan latihan kedua sebetulnya adalah upaya Jepang untuk mengisolasi para komandan lapangan agar tidak dapat memimpin pasukannya untuk melakukan perlawanan.

Bahkan ada kemungkinan untuk dibunuh secara massal. Pak Dirman saat itu memimpin teman-temannya untuk demo saat pimpinan Jepang datang di kamp pelatihan agar bisa dibebaskan. Akhirnya sebagian bisa dilepaskan dan sebagian lain masih harus tinggal di kamp pelatihan. Tetapi semuanya bisa selamat.

Dan juga tentunya pilihan strategi perang yang dilakukan Pak Dirman terhadap Belanda pada saat Clash Pertama dan Clash Kedua. Clash Pertama dilakukan secara terbuka untuk mengusir Belanda dan mendesak ke arah Semarang melalui beberapa kontak senjata dan yang terbesar di Ambarawa dengan strategi perang Supit Urang. Tetapi kemudian pada Clash Kedua. Pak Dirman memilih untuk melawan Belanda dengan strategi Perang Gerilya.

Baca Juga:   Tradisi Syiar Muhammadiyah

Jadi pilihan strateginya sangat tepat, baik di waktu perang maupun damai. Inilah keistimewaan Pak Dirman lainnya selain tanggung jawab dan pantang menyerah.

Pak Dirman pernah di Hizbul Wathan, bagaimana hubungan Pak Dirman dengan Persyarikatan Muhammadiyah?

Pak Dirman memang bisa disebut kader Muhammadiyah tulen, selain pernah menjadi murid Sekolah Muhammadiyah, Pak Dirman juga pernah menjadi guru dan bahkan Kepala Sekolah Muhammadiyah.

Selain itu, Pak Dirman juga aktif di Hizbul Wathan. Keaktifannya ini mengantarkan ia menjadi Ketua Pemuda Muhammadiyah di Cilacap dan kemudian mengantar ia menjadi Ketua Pemuda Muhammadiyah se Banyumas (Purwokerto). Kegiatan ini kemudian mengantarkannya menjadi prajurit yang bergabung di PETA.

Bahkan ketika Jenderal Sudirman menjadi panglima di Yogyakarta, ia selalu aktif menjadi peserta pengajian Malam Selasa yang diselenggarakan PP Muhammadiyah di Kauman. Selain sebagai peserta, ia juga kadang menjadi pembicara dalam pengajian itu. Umumnya yang disampaikan berkaitan dengan perjuangan dan kebangsaan. (Lutfi)

Biodata Narasumber

Sardiman AM, MPd adalah Dosen Pendidikan Sejarah FIS UNY yang turut menggagas berdirinya Museum Pendidikan Indonesia. Aktif sebagai penulis dan menjadi pembicara di berbagai seminar baik tingkat nasional maupun internasional. Karyanya tentang Pak Dirman adalah Panglima Besar Jenderal Sudirman: Kader Muhammadiyah dan “Guru Bangsa” Sebuah Biografi Jenderal Soedirman.

Tulisan ini pernah dimuat di Majalah SM Edisi 20 Tahun 2019 berjudul Tanggung Jawab dan Pantang Menyerah