Allah Memperkenalkan Diri (12) Memperkenalkan FirmanNya

Oleh: Lutfi Effendi

Al Qur’an adalah kitabullah  (kitab Allah). Diturunkan pertama kali di bulan Ramadhan diperuntukkan bagi manusia. Karenanya, selama Ramadhan ini, penulis akan menyajikan bagaimana Allah memperkenalkan dirinya kepada manusia lewat Al Qur’an. Tentu hanya sebagaian saja yang bisa disajikan selama 30 hari di bulan Ramadhan ini.

Tulisan ini membahas Qs Al Baqarah ayat 1 dan 2:

الۤمّۤ ۚ

alif lām mīm

Alif Lam Mim

ذٰلِكَ الْكِتٰبُ لَا رَيْبَ ۛ فِيْهِ ۛ هُدًى لِّلْمُتَّقِيْنَۙ

żālikal-kitābu lā raiba fīh, hudal lil-muttaqīn

Kitab (Al-Qur’an) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertakwa,  

Dalam dua ayat di atas, Allah memperkenalkan firmanNya.

Pertama, firmanNya berbahasa Arab dengan huruf hijaiyah  الۤمّۤ ۚ

(alif lām mīm). (Al Baqarah ayat 1)

Ini didukung hadits Ibnu Mas’ud :

Ibnu Mas’ud radhiallahu ‘anhu meriwayatkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

مَنْ قَرَأَ حَرْفًا مِنْ كِتَابِ اللَّهِ فَلَهُ بِهِ حَسَنَةٌ وَالْحَسَنَةُ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا لاَ أَقُولُ الـم حَرْفٌ وَلَكِنْ أَلِفٌ حَرْفٌ وَلاَمٌ حَرْفٌ وَمِيمٌ حَرْفٌ.


“Barangsiapa yang membaca satu huruf dari kitab Allah, maka baginya satu kebaikan, dan satu kebaikan itu dibalas sepuluh kali lipat. Saya tidak mengatakan ‘Alif Lam Mim’ satu huruf, tetapi ‘Alif’ satu huruf, ‘Lam’ satu huruf, ‘Mim’ satu huruf.” (HR. At-Tirmidzi).

Huruf dari kitab Allah itu di antaranya huruf Alif Lam Mim. Jika hurufnya memakai huruf selain huruf hijaiyah disebut transliterasi. Jika bahasanya bukan bahasa Arab disebut terjemahan.

Kedua, Al Qur’an itu berupa kitab.

 ذٰلِكَ الْكِتٰبُ 

żālikal-kitābu (Qs Al Baqarah ayat 2), Ini juga bisa didukung hadist di atas  yang diriwayatkan oleh Ibnu Mas’ud.

Kitab di sini jangan hanya dipahami sebagai sebuah buku, pada era Nabi kitab Al Qur’an belum ada yang berbentuk buku. Buku di sini bisa dipahami sebagai suatu tulisan yang terstruktur . Karenanya, bentuknya bisa macam macam, bisa buku, bisa e book, bisa digital atau bahkan mungkin yang ada di benak para penghafal Qur’an dan lain lain sesuai perkembangan. Sehingga jika ada kesalahan dalam penulisan ataupun bacaan bisa diketahui.  

Baca Juga:   Allah Memperkenalkan Diri (18) Bertamsil tentang Manusia

Dua ayat ini, Qs Al Baqarah ayat 1 dan 2 juga merupakan jawaban doa yang ada di ayat 6 dan 7 Al Fatihah.

اِهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيْمَ ۙ

صِرَاطَ الَّذِيْنَ اَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ ەۙ غَيْرِ الْمَغْضُوْبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّاۤلِّيْنَ

ihdinaṣ-ṣirāṭal-mustaqīm 

ṣirāṭallażīna an’amta ‘alaihim gairil-magḍụbi ‘alaihim wa laḍ-ḍāllīn

Tunjukilah kami jalan yang lurus,

(yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepadanya; bukan (jalan) mereka yang dimurkai, dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat.

Dalam Al Baqarah ayat 1 dan 2 ini seolah-olah berkata: kalau ingin mendapat petunjuk bacalah Al Qur’an yang di dalamnya tidak ada keraguan. Petunjuk bagi orang yang bertakwa.

Ada beberapa istilah yang muncul bagi orang yang ada di jalan yang lurus, Pertama, orang yang telah diberi nikmat oleh Allah (Qs Al Fatihah 7). Kedua, orang yang bertakwa (Qs Al Baqarah 2). Mungkin saja pada ayat-ayat selanjutnya muncul istilah yang lain untuk maksud yang sama.

Lalu apa yang bisa kita ambil dari  pelajaran  di atas?   Untuk mendapat petunjuk jalan yang lurus, mari kita baca Al Qur’an mumpung berada di bulan Ramadhan tetapi jangan berhenti di bulan Ramadhan harus dilanjut pada bulan –bulan selanjutnya. Membacanya, tidak hanya mendapat petunjuk tetapi juga mendapat pahala.

Dalam membaca Al Qur’an ini, kita bisa memakai metode KHA Dahlan. Dalam hal metode ini, Kiai Dahlan pernah menerangkan bagaimana cara mempelajari Al-Qur’an, yaitu ambillah satu, dua atau tiga ayat, dibaca dengan tartil dan tadabbur (dipikirkan). Pertama, bagaimana artinya? Kedua, bagaimanakah tafsir keterangannya? Ketiga, bagaimana maksudnya? Keempat, apakah ini larangan dan apakah kamu sudah meninggalkan larangan itu? Kelima, apakah ini perintah yang wajib dikerjakan? Sudahkah kita menjalankannya. Waallahu a’lam bisshawab  (***)  

Baca Juga:   Berbisnis untuk Dunia Akhirat