Menela’ah Kembali Kepedulian Kita

Rausan Fikri

Bulan Ramadhan adalah bulan penuh berkah dan kebaikan dan selalu diidentikan dengan berbagi sebagai bentuk kepedulian. Kepedulian adalah ekspresi cinta dalam wujud yang nyata. Memasuki pertengahan bulan Ramadhan di tahun-tahun sebelumnya sudah ada persiapan untuk berbagi kepada sesama meskipun tidak sebagus sekarang euforianya. Dalam surat Al-Baqarah ayat 3 Allah Swt berfirman :

ٱلَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِٱلْغَيْبِ وَيُقِيمُونَ ٱلصَّلَوٰةَ وَمِمَّا رَزَقْنَٰهُمْ يُنفِقُونَ

Artinya : “ (yaitu) mereka yang beriman kepada yang ghaib, yang mendirikan shalat, dan menafkahkan sebahagian rezeki yang Kami anugerahkan kepada mereka.

Menginfakkan harta yang dipunya kepada mereka yang membutuhkan adalah ibadah. Tahun-tahun sebelumnya banyak donatur yang menginfakhan untuk melakukan buka bersama anak yatim piatu atau membagikan takjil di pinggir jalan ketika ingin berbuka.

Ramadhan tahun ini memang dirasa berbeda. Ketika Ramadhan tahun lalu umat muslim menjadi objek komoditas yang bernilai tinggi oleh tempat-tempat makan untuk sekedar mengadakan buka bersama. Tahun ini umat Islam di hadapkan oleh sesuatu yang baru yaitu semua tempat makan ditutup karena menerapkan social distancing untuk menekan  penyebaran virus. Umat Islam dianjurkan untuk beribadah mandiri di rumah adalah kesempatan kita untuk mengenal diri sendiri lebih jauh. Karena kesendirian menghantarkan kita untuk mengenali diri sendiri lebih dalam.

Selain itu, mugkin terobosan infak untuk tahun ini dan tahun tahun berikutnya akan mengalami gradasi (baca : beragam) dan berbeda, tahun ini Ramadhan dihantui oleh virus covid-19 seperti komunisme yang selalu menjadi hantu di Eropa (baca : Karl Marx). Itulah sebuah kutipan yang selalu menjadi sebuah simbol yang menakutkan. Untuk tahun ini infak bisa di selenggarakan dengan cara membagikan Alat Pelindung Diri (APD) kepada orang yang membutuhkan selain bantuan yang tertuju untuk perut ternyata bantuan untuk pelindung virus di tahun ini sangat diperlukan.

Baca Juga:   Antara Covid-19 dan "Paranoid" (1)

Mengingat tidak semua bisa membeli APD dalam skala yang banyak jika dirasa membagikan APD secara langsung dianggap tidak etis karena adanya social distancing maka infak berupa APD bisa di berikan kepada lembaga yang menjadi interpretasi infak APD tersebut, terlepas dari itu fenomena infak ini tidak dilakukan oleh semua masyarakat meskipun sudah dianjurkan karena berbagi menunjukan kita dalam sebuah lingkup kepekaan terhadap manusia, beberapa orang yang ekonominya pas-pasan masih suka berbagi.

Di sisi lain, orang-orang yang secara faktor ekonomi berkecukupan tetapi tidak ingin berbagi karena merasa ekonominya kurang dan belum pantas untuk berbagi. Di tengah pandemi ini sudah seharusnya kita melakukan asas gotong royong atau saling membantu, yang berkecukupan membantu yang tidak adalah hal yang wajib. Bahkan dijelaskan bahwa ketika kita sedang memasak dan harumnya sampai kepada tetangga yang belum makan, kita harus memberi sebagian dari masakan kita.

Sebagaimana adab bertetangga dijelaskan melalui hadis Nabi “Dari Abu Dzarr radhiyallahu ‘anhu, dia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Wahai Abu Dzarr, jika engkau memasak masakan berkuah, maka perbanyaklah kuahnya dan perhatikanlah tetanggamu” (HR Muslim).

Melalui moment bulan Ramadhan di tengah pandemi bagi yang terbiasa berbagi dari tahun sebelum sebelumnya semoga bertahan sampai tahun ini dan juga tahun depan, yang belum berbagi sangat di harapkan berbaginya sekecil apapun, tetapi kebiasaan berbagi jangan sampai putus di bulan Ramadhan saja karena kehidupan terus berjalan.

Rausan Fikri, Ketua Bidang Hikmah dan Kebijakan Publik IMM Cabang Bandung Timur