Allah Memperkenalkan Diri (28) Mengenalkan Golongan Fasik

Oleh: Lutfi Effendi

Al-Qur’an adalah kitabullah  (kitab Allah). Diturunkan pertama kali di bulan Ramadhan diperuntukkan bagi manusia. Karenanya, selama Ramadhan ini, penulis akan menyajikan bagaimana Allah memperkenalkan dirinya kepada manusia lewat Al-Qur’an. Tentu hanya sebagian saja yang bisa disajikan selama 30 hari di bulan Ramadhan ini.  

Tulisan yang lalu membahas Qs Al Baqarah ayat 26, kali ini membahas Qs Al Baqarah ayat 26-27:      

اِنَّ اللّٰهَ لَا يَسْتَحْيٖٓ اَنْ يَّضْرِبَ مَثَلًا مَّا بَعُوْضَةً فَمَا فَوْقَهَا ۗ فَاَمَّا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا فَيَعْلَمُوْنَ اَنَّهُ الْحَقُّ مِنْ رَّبِّهِمْ ۚ وَاَمَّا الَّذِيْنَ كَفَرُوْا فَيَقُوْلُوْنَ مَاذَآ اَرَادَ اللّٰهُ بِهٰذَا مَثَلًا ۘ يُضِلُّ بِهٖ كَثِيْرًا وَّيَهْدِيْ بِهٖ كَثِيْرًا ۗ وَمَا يُضِلُّ بِهٖٓ اِلَّا الْفٰسِقِيْنَۙ

الَّذِيْنَ يَنْقُضُوْنَ عَهْدَ اللّٰهِ مِنْۢ بَعْدِ مِيْثَاقِهٖۖ وَيَقْطَعُوْنَ مَآ اَمَرَ اللّٰهُ بِهٖٓ اَنْ يُّوْصَلَ وَيُفْسِدُوْنَ فِى الْاَرْضِۗ اُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْخٰسِرُوْنَ

innallāha lā yastaḥyī ay yaḍriba maṡalam mā ba’ụḍatan fa mā fauqahā, fa ammallażīna āmanụ fa ya’lamụna annahul-ḥaqqu mir rabbihim, wa ammallażīna kafarụ fa yaqụlụna māżā arādallāhu bihāżā maṡalā, yuḍillu bihī kaṡīraw wa yahdī bihī kaṡīrā, wa mā yuḍillu bihī illal-fāsiqīn

allażīna yangquḍụna ‘ahdallāhi mim ba’di mīṡāqihī wa yaqṭa’ụna mā amarallāhu bihī ay yụṣala wa yufsidụna fil-arḍ, ulā`ika humul-khāsirụn

Sesungguhnya Allah tidak segan membuat perumpamaan seekor nyamuk atau yang lebih kecil dari itu. Adapun orang-orang yang beriman, mereka tahu bahwa itu kebenaran dari Tuhan. Tetapi mereka yang kafir berkata, “Apa maksud Allah dengan perumpamaan ini?” Dengan (perumpamaan) itu banyak orang yang dibiarkan-Nya sesat, dan dengan itu banyak (pula) orang yang diberi-Nya petunjuk. Tetapi tidak ada yang Dia sesatkan dengan (perumpamaan) itu selain orang-orang fasik,

(yaitu) orang-orang yang melanggar perjanjian Allah setelah (perjanjian) itu diteguhkan, dan memutuskan apa yang diperintahkan Allah untuk disambungkan dan berbuat kerusakan di bumi. Mereka itulah orang-orang yang rugi.

Baca Juga:   Sup Jagung Buatan Umi (Belajar Menulis di Masa Pandemi)

Pada pembahasan Qs Al Baqarah ayat 26 telah dibahas respon 3 golongan manusia terhadap amsal yang disampaikan Allah lewat Al Qur’an,  pembahasan pada Qs Al Baqarah ayat 26-27 ini membahas lebih lanjut istilah fasik yang disampaikan Allah pada ujung ayat 26 surat Al Baqarah. Tentang istilah fasik yang diperkenalkan Allah ini, apakah masuk dalam salah satu golongan yang telah disampaikan Allah pada ayat-ayat sebelumnya.  Yaitu golongan orang yang ada di jalan lurus, yang dimurkai Allah dan golongan yang sesat.

Mengenai orang fasik dijelaskan Allah lebih lanjut dalam Qs Al Baqarah ayat 27:

الَّذِيْنَ يَنْقُضُوْنَ عَهْدَ اللّٰهِ مِنْۢ بَعْدِ مِيْثَاقِهٖۖ وَيَقْطَعُوْنَ مَآ اَمَرَ اللّٰهُ بِهٖٓ اَنْ يُّوْصَلَ وَيُفْسِدُوْنَ فِى الْاَرْضِۗ اُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْخٰسِرُوْنَ

allażīna yangquḍụna ‘ahdallāhi mim ba’di mīṡāqihī wa yaqṭa’ụna mā amarallāhu bihī ay yụṣala wa yufsidụna fil-arḍ, ulā`ika humul-khāsirụn

(yaitu) orang-orang yang melanggar perjanjian Allah setelah (perjanjian) itu diteguhkan, dan memutuskan apa yang diperintahkan Allah untuk disambungkan dan berbuat kerusakan di bumi. Mereka itulah orang-orang yang rugi.

Dari ayat 27 di atas ada tiga tanda orang fasik:  pertama, orang-orang yang melanggar perjanjian Allah setelah (perjanjian) itu diteguhkan. Kedua, memutuskan apa yang diperintahkan Allah untuk disambungkan. Dan ketiga, berbuat kerusakan di bumi.

Dari tiga tanda-tanda ini, lebih dekat ke golongan mana dari tiga golongan yang telah disampaikan sebelumnya.  Tentu bukan golongan lurus, karena untuk golongan ini responnya telah diwakili oleh orang beriman yang tergambar pada potongan ayat 26: fa ammallażīna āmanụ fa ya’lamụna annahul-ḥaqqu mir rabbihim, (Adapun orang-orang yang beriman, mereka tahu bahwa itu kebenaran dari Tuhan.). Sedangkan untuk orang kafir sudah tergambar jelas dalam ayat 26 sebutannya, karenanya yang memungkinkan orang fasik ini adalah masuk golongan orang ad-dlalin atau orang sesat.

Baca Juga:   Meluaskan Hati untuk Mensyukuri Takdir Ilahi

Dari tiga tanda itu, adakah yang termasuk tanda orang sesat yang telah disebutkan sebelumnya? Paling jelas disebutkan sebagai golongan orang sesat adalah ciri ketiga orang fasik, yaitu berbuat kerusakan di muka bumi. Ini bisa dilihat dalam Qs Al Baqarah ayat 11 dan 12:  wa iżā qīla lahum lā tufsidụ fil arḍi qālū innamā naḥnu muṣliḥụn (Dan apabila dikatakan kepada mereka, “Janganlah berbuat kerusakan di bumi!” Mereka menjawab, “Sesungguhnya kami justru orang-orang yang melakukan perbaikan.”). alā innahum humul-mufsidụna wa lākil lā yasy’urụn  (Ingatlah, sesungguhnya merekalah yang berbuat kerusakan, tetapi mereka tidak menyadari).

Sedangkan dua ciri yang lain disebutkan secara samar. Untuk ciri pertama (orang yang melanggar perjanjian Allah setelah (perjanjian) itu diteguhkan bisa dilihat dalam Qs Al Baqarah ayat 8 dan 9:  wa minan-nāsi may yaqụlu āmannā billāhi wa bil-yaumil-ākhiri wa mā hum bimu`minīn (Dan di antara manusia ada yang berkata, “Kami beriman kepada Allah dan hari akhir,” padahal sesungguhnya mereka itu bukanlah orang-orang yang beriman.). yukhādi’ụnallāha wallażīna āmanụ, wa mā yakhda’ụna illā anfusahum wa mā yasy’urụn (Mereka menipu Allah dan orang-orang yang beriman, padahal mereka hanyalah menipu diri sendiri tanpa mereka sadari.). Secara lahir mereka berjanji dengan Allah sebagai orang beriman, tetapi secara batin tidak mengakuinya. Batin memutus perjanjian lahiir yang telah mereka lakukan.

Sementara ciri kedua, memutuskan apa yang diperintahkan Allah untuk disambungkan. Bisa dilihat dalam Qs Al Baqarah ayat 14: wa iżā laqullażīna āmanụ qālū āmannā, wa iżā khalau ilā syayāṭīnihim qālū innā ma’akum innamā naḥnu mustahzi`ụn (Dan apabila mereka berjumpa dengan orang yang beriman, mereka berkata, “Kami telah beriman.” Tetapi apabila mereka kembali kepada setan-setan (para pemimpin) mereka, mereka berkata, “Sesungguhnya kami bersama kamu, kami hanya berolok-olok.”). Tindakan memperolok-olokan mempunyai potensi untuk memutus silaturahmi yang harusnya disambung.