Muhammadiyah, Gerakan Keilmuan, dan Gerakan Berkemajuan

Keilmuan UMM

Foto Dok UMM

Muhammadiyah, Gerakan Keilmuan, dan Gerakan Berkemajuan

Zulfatman, M.Eng., Ph.D

Dari awal pendrian, Ahmad Dahlan sudah menasbihkan Muhammadiyah sebagai sebuah gerakan pembaharu. Dalam hal ini sudah banyak yang telah dilakukan oleh Muhammadiyah. Termasuk dalam menjalankan peran-peran keummatan, kebangsaan, dan kemanusiaan dari sejak awal berdiri.

Salah satu yang paling menonjol dan menjadi penegas Muhammadiyah sebagai gerakan pembaharu adalah kepemilikanya atas ribuan sekolah serta 174 perguruan tinggi. Dari sejumlah Perguruan Tinggi Muhammadiyah dan Aisyiyah (PTMA) tersebut, 53 di antaranya merupakan universitas. Sementara sisanya berupa sekolah tinggi, institut, akademi, dan politeknik. Jumlah yang memberikan optimisme bahwa gerakan pembaharuan oleh Muhammadiyah akan terus berlangsung.

Dalam perjalanannya, Muhammadiyah kemudian tidak hanya memperkenalkan dirinya sebagai gerakan Islam pembaharu, tetapi juga sebagai gerakan Islam berkemajuan (Din al-Hadlarah). Istilah yang menurut Ahmad Najib Burhani (2016), sempat terlupakan dan bergaung kembali menjelang Muktamar Muhammadiyah ke-46 di Yogyakarta. Terkait hal ini, dalam tulisannya Din Syamsuddin (2015) dan Haedar Nashir (2018) sama-sama memandang bahwa Islam merupakan agama yang mengandung nilai-nilai kemajuan dan keberlanjutan untuk membangun peradaban yang utama dan menjadi rahmat bagi semesta. Sebuah gerakan yang memiliki tanggung jawab yang lebih besar dalam mengawal kemajuan peradaban. Artinya, Muhammadiyah tidak hanya menjadi bagian dari arus perubahan peradaban, namun juga pemberi warna perubahan peradaban tersebut.

Menurut Hilman Latief, ciri dari gerakan Islam berkemajuan adalah adanya peradaban ilmu (gerakan keilmuan) yang masif dan semarak. Dengan gerakan keilmuan yang kuat, maka banyak hal yang dapat disumbangkan kepada peradaban. Di samping itu, ia juga memiliki resonansi yang lebih kuat dalam mempengaruhi perubahan peradaban dibandingkan dengan bentuk gerakan lain. Sebagai contoh, resonansi gerakan intelektual Jalaluddin Al-Afghani dan Muhammad Iqbal begitu besar dan memberi pengaruh kuat pada dunia Islam untuk melakukan pembaharuan. Demikian juga dengan gerakan keilmuan yang terjadi pada masa Bani Umayyah dan Bani Abbasiyah, telah memberikan Islam puncak kejayaan peradaban selama enam abad lamanya.

Jika berkaca dari hal di atas, harus jujur diakui bahwa apa yang telah dilakukan oleh Muhammadiyah selama lebih dari satu abad meski sudah cukup baik, namun belum sepenuhnya menjadi gerakan Islam berkemajuan. Gerakan amaliah masih lebih dominan dari pada gerakan keilmuan. Keberadaan sedemikian banyak PTMA, harus diakui terlihat masih lebih didasari oleh semangat gerakan amaliah, yaitu semangat mencerdaskan kehidupan bangsa. Namun, belum masuk pada ranah gerakan keilmuan yang masif dan semarak. Gerakan yang melahirkan banyak konsep-konsep keilmuan baru, serta temuan-temuan sains dan inovasi teknologi yang berpengaruh. Resonansi intelektualnya juga dirasa masih kurang memberi getaran dan pengaruh signifikan pada gerak peradaban global atau setidaknya pada dunia Islam.

Transformasi menuju Gerakan Keilmuan

Muhammadiyah tentu tidak boleh selamanya terlena dengan kebesaran amal usahanya, sebagai simbol dari masifnya gerakan amaliah yang telah dilakukan. Jumlah PTMA yang besar sejatinya sudah merupakan modal awal yang kuat bagi Muhammadiyah untuk bertransformasi menuju gerakan keilmuan yang sama baiknya dengan gerakan amaliah. Karenanya harus dibangun paradigma baru dalam pengembangan PTMA, bahwa tugas PTMA kedepan tidak hanya mencerdaskan kehidupan bangsa, namun juga secara serius bertransformasi menjadi ujung tombak gerakan keilmuan bagi Muhammadiyah. PTMA diharapkan tidak hanya menghasilkan banyak sarjana, namun juga memproduksi pikiran-pikiran baru, konsep-konsep keilmuan baru, temuan-temuan sains baru, dan inovasi-inovasi teknologi mutakhir. Di sinilah peran sentral PTMA dalam fungsinya meneguhkan Muhammadiyah sebagai gerakan Islam berkemajuan.

Dalam bertransformasi menuju gerakan keilmuan, diperlukan sebuah model gerakan keilmuan. Sebagai referensi, ada tiga model gerakan keilmuan yang pernah berkembang dalam sejarah peradaban manusia. Model pertama adalah gerakan yang berbasis pada akal, yaitu eranya para filsuf Yunani kuno. Model kedua adalah gerakan yang berbasis teks yang melahirkan sains dasar dan kedokteran. Yakni eranya filsuf sekaligus ilmuwan hebat Islam yang lahir pada masa Bani Umayyah dan Bani Abbasiyah. Model kedua ini lahir dan diinspirasi oleh eranya para filsuf Yunani awal, baik yang beraliran Platonic maupun Aristotelian. Sementara bentuk ketiga berbasis ilmu-ilmu dasar, ilmu terapan, dan teknologi. Bermula dari era renaissance/aufklarung hingga berkembang sampai saat ini. Di bawah pengaruhi oleh aliran Aristotelian dari model gerakan kedua. Periode model ketiga ini bukan lagi eranya para filsuf dan ilmuwan, namun eranya para ideolog, intelektual, ilmuwan, maupun teknokrat.

Dari ketiga model gerakan keilmuan di atas, model gerakan ketiga merupakan model yang paling mungkin dikembangkan oleh Muhammadiyah. Pilihan yang memungkinkan lahirnya banyak kaum intelektual, ilmuwan, dan teknokrat dari kalangan Muhammadiyah. Konsep-konsep baru, temuan-temuan baru, dan inovasi-inovasi teknologi mutakhir merupakan hal yang dapat dihasilkan oleh gerakan keilmuan Muhammadiyah tersebut. Namun, gerakan keilmuan model ini harus didukung oleh komitmen yang kuat, sumberdaya manusia (SDM) yang unggul, fasilitas perpustakaan dan laboratorium yang memadai, serta kerjasama yang luas. Gerakan tersebut sebaiknya berpusat pada berbagai center of excellent (pusat keunggulan). Pusat-pusat keunggulan tersebut dapat berbentuk institute atau research center yang terdistribusi pada PTMA yang ada, sesuai ketersediaan SDM masing-masing.

Gerakan Keilmuan Berbasis Pusat Keunggulan

Mendirikan pusat-pusat keunggulan ilmu pengetahuan pada PTMA tentulah tidak semudah membalikkan telapak tangan. Diperlukan investasi sangat besar untuk mempersiapkan SDM, fasilitas perpustakaan, perlengkapan laboratorium, bahan-bahan dan instrumen uji, fasilitas gedung, dan biaya operasional. Di samping itu pada PTMA yang memiliki pusat keunggulan tertentu juga idealnya sudah memiliki program master (S2), doktor (S3), dan bahkan post-doctoral untuk mendukung program penelitian terkait. Kemudian, pusat keunggulan tersebut juga dituntut memiliki banyak kerjasama dengan berbagai pusat keunggulan sejenis dan pemberi grant penelitian dari dunia Islam, Uni Eropa, maupun funding global lainnya. Bagi PTMA besar sekalipun langkah di atas tentunya masih sangat berat. Namun, perlu segera ada tahapan upaya menuju cita-cita di atas.

Ada banyak pusat keunggulan yang sepatutnya dimiliki oleh Muhammadiyah, baik dalam mendukung langkah gerakan amaliah Muhammadiyah yang sudah ada selama ini, maupun hal-hal yang sebenarnya strategis namun belum disentuh oleh Muhammadiyah. Pusat kajian Islam dan peradaban, perdamaian dan rekonsiliasi, kesehatan masyarakat, pendidikan dan psikologi, ekonomi, ilmu sosial dan politik, hukum dan hak azasi manusia, pangan, energi, lingkungan, kebencanaan, keteknikan, teknologi digital, sistem informasi, dan lain-lain merupakan di antara pusat keunggulan yang perlu segera dimiliki oleh Muhammadiyah. Layaknya sebuah pusat keunggulan, luaran yang dihasilkan adalah buku-buku berkualitas, artikel-artikel jurnal high impact, paten, hak cipta, serta produk-produk yang dapat dihilirisasi hingga memiliki nilai manfaat dan komersil.

Implikasinya, pikiran-pikiran maju Muhammadiyah menjadi rujukan sekaligus penyejuk dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Lembaga-lembaga pendidikan Muhammadiyah dapat dikelola dengan metode pendidikan terkini dan terdepan. Rumah sakit dan fasilitas kesehatan Muhammadiyah menjadi lebih modern. Panti-panti asuhan Muhammadiyah/Aisyiyah akan dikelola dengan pendekatan yang lebih maju. Lazismu juga akan bergerak dengan pendekatan filantropi terdepan. Kemudian juga banyak muncul saudagar baru Muhammadiyah dengan model ekonomi dan bisnis baru. Muhammadiyah punya banyak temuan-temuan baru dalam mendukung swasembada pangan. Energi baru terbarukan (EBT) menjadi model baru dakwah Muhammadiyah terutama bagi kelompok masyarakat terpencil dan pulau terluar. Muhammadiyah selalu muncul menjadi penengah konflik perdamaian dengan berbagai pendekatan terbaik. Muhammadiyah punya kemampuan dalam merespon perubahan iklim, dan lain sebagainya. Itulah gambaran yang mungkin terjadi ketika Muhammadiyah mau secara serius melakukan gerakan keilmuan dengan masif dan semarak.

Dengan tumbuhnya gerakan keilmuan yang masif dan semarak di Muhammadiyah, ada harapan Muhammadiyah dapat merespon isu-isu keummatan dan kemanusiaan global dengan lebih baik. Nilai-nilai universal yang didengungkan oleh Muhammadiyah bagi peradaban juga memiliki resonansi yang lebih kuat dan terdengar merdu pada tataran global. Sehingga pandangan-pandangan Muhammadiyah dapat menjadi acuan bagi masyarakat muslim dan komunitas global. Temuan-temuan dan inovasi teknologi yang dihasilkan juga memberi solusi nyata atas berbagai persoalan ummat dan masyarakat global.  Ketika hal tersebut di atas sudah mampu dilakukan oleh Muhammadiyah, maka Muhammadiyah akan lebih sah menasbihkan dirinya sebagai gerakan Islam berkemajuan.

Zulfatman, M.Eng., Ph.D. Dosen FT Universitas Muhammadiyah Malang (UMM)