Kesuksesan Di Balik Kayuhan Sepeda Tua

Kesuksesan Di Balik Kayuhan Sepeda Tua

Pak Trimo, mungkin tokoh Muhammadiyah tidak dikenal. Dia bukan mubaligh yang memukau saat berceramah, dia juga bukan intelektual yang tulisannya selalu jadi rujukan. Dia bukan siapa-siapa. Namun, ketekunan dan kayuhan sepeda tuanya hadir di semua kesuksesan gerakan dakwah Muhammadiyah di Muntilan

Oleh: Azizah Herawati, S.Ag., M.S.I

Ini bukan kisah tentang Oemar Bakri. Pegawai Negeri pengayuh sepeda kumbang di jalan berlubang yang dilantunkan Iwan Fals. Bukan pula tentang ketegaran seorang Ainun yang begitu tegar berjuang di balik kesuksesan Habibi sampai kisah keduanya diangkat di film layar lebar. Atau tentang kehebatan sutradara Wahyu Agung Prasetyo di balik viralnya Film Tilik dengan tokoh Bu Tejo yang menghebohkan.

Ini kisah tentang sosok sederhana yang masih setia mengayuh sepeda tuanya. Berjalan menyusuri hiruk pikuk jalan Magelang-Jogja sejauh hampir 20 kilometer. Setiap hari mengendarai sepeda sambil menebar senyum penuh semangat dari rumahnya yang berada di wilayah Kecamatan Mungkid menuju tempat kerjanya di wilayah Kecamatan Muntilan, Kabupaten Magelang. Gayanya khas, mengenakan setelan batik nan rapi dan topi yang diletakkan di stang sepedanya. Sesekali membunyikan “kring-kring” sepeda tuanya untuk sekedar orang-orang di jalan yang dilintasinya.

“Yang penting senang mbak! Bagi saya, menegakkan Islam melalui Muhammadiyah sebagai bekal ibadah,” katanya sambil terkekeh. Setiap hari dia jalani rutinitas hariannya layaknya pegawai kebanyakan. Berangkat dari rumah jam 8 pagi dan pulang pada jam 13 siang.

 Dia bukanlah tokoh Muhammadiyah yang berjuang di garda depan. Bukan pula seorang mubaligh kenamaan yang diundang ceramah ke mana mana. Jangankan tokoh sekaliber Amien Rais, Din Syamsudin atau Haedar Nashir. Tokoh kelas kabupatenpun tidak.

Namun namanya begitu akrab di telinga keluarga besar Muhammadiyah, khususnya di wilayah Kecamatan Muntilan dan sekitarnya. Dia begitu dibutuhkan banyak orang. Terutama untuk memperoleh kartu anggota Muhammadiyah. Melayani warga persyarikatan dengan sepenuh hati dari mempersiapkan formulir, melengkapi persyaratan administrasi sampai mengurus tercetaknya kartu. Dia juga tidak meminta imbalan sepeserpun. Warga yang membutuhkan cukup membayar biaya administrasi sesuai ketentuan dan biaya transport Magelang-Jogja.  Meski harus menempuh perjalanan dengan bis umum menuju kantor Pimpinan Pusat Muhammadiyah di Yogyakarta, dia jalani tanpa berat hati.

Guru-guru di lingkungan sekolah Muhammadiyah juga sangat mengenalnya.  Jasanya dalam membantu Majlis Pendidikan Dasar dan Menengah (Dikdasmen) PCM Muntilan untuk menyelesaikan berbagai administrasi terkait Guru Yayasan sangat berarti bagi mereka.

Tulisan tangannya yang rapi bisa dilihat di buku-buku administrasi dan data dinding kantor sekretariat Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Muntilan yang berada di Jalan KHA Dahlan 14 Muntilan. Menerima surat yang masuk ke PCM lalu mengarsipkannya dengan tertib adalah bagian dari tugasnya. Begitu juga mendistribusikan surat ke 13 ranting, beberapa organisasi otonom (ortom) serta sejumlah amal usaha Muhammadiyah di wilayah Kecamatan Muntilan, Kabupaten Magelang. Tentu dengan mengayuh sepeda kesayangannya.

Tugas sampingannya adalah membantu pengurus gedung Darul Arqom Muhammadiyah Muntilan mengatur jadwal pemakaian gedung. Gedung yang tadinya begitu sederhana satu atap dengan Balai Kesehatan Ibu dan Anak (BKIA) ‘Aisyiyah Muntilan itu sering disewa oleh instansi untuk kegiatan atau masyarakat untuk resepsi pengantin. Gedung yang sudah mengalami tiga kali pemugaran dan bergeser tempat akibat perluasan BKIA yang kini telah berubah menjadi Rumah Sakit ‘Aisyiyah Muntilan (RSAM) itulah yang menjadi saksi militansi dan kegigihan lelaki pengayuh sepeda tua itu.

Mengawali karier sebagai penjaga malam di gedung pertemuan milik PCM Muntilan bernama Darul Arqom sambil menjadi loper Koran serta berjualan buku bekas dengan gerobak dorong sejak tahun 1979 adalah pengalaman tak terlupakan baginya. Sampai akhirnya ditarik oleh salah satu tokoh Muhammadiyah Muntilan dan resmi diangkat menjadi full timer kantor sekretariat Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Muntilan pada tahun 1981. Atau bahasa mudahnya, penjaga kantor PCM dengan honor pertama 12.500 rupiah. Jika dihitung sampai saat ini, sudah 8 periode kepemimpinan yang dia alami.

Dialah Hayat Sutrimo. Pria kelahiran Muntilan 71 yang lalu ini lebih akrab dipanggil Pak Trimo. Sesuai dengan namanya, orangnya nrimo, sederhana dan tidak pernah neko-neko. Sejak kecil memang suka berdakwah dari dusun ke dusun dengan menegendarai sepeda. Fathony salah satu  mantan ketua PCM adalah sekian dari banyak saksi kesahajaan dan kesederhanaan pak Trimo, “Dia orang yang rajin, tekun dan tanggung jawab dalam bekerja. Terpancar aura ketulusan dan keikhlasan dari wajahnya. Selalu ceria dan murah senyum. Kalau diajak bicara, dia memperhatikan kata demi kata dengan seksama.”.

Meskipun rutin berangkat ngantor, namun Pak Trimo juga seorang aktifis persyarikatan yang didirikan KHA Dahlan itu. Jabatan pertamanya adalah sebagai Ketua Ranting Pemuda Muhammadiyah Keji, Muntilan  pada tahun 1976. Sejak menikah dengan Rusmiyati, Pak Trimo hijrah ke Paremono, Kecamatan Mungkid, kampung halaman istrinya. Diapun tetap aktif di jajaran Pimpinan Ranting Muhammadiyah (PRM) Paremono. Sempat menjabat sebagai Ketua PRM setelah sebelumnya menjabat sekretaris selama 4 periode.

Menempuh pendidikan dasarnya di Sekolah Rakyat (SR) Keji, Muntilan dan lulus pada tahun 1962. Pendidikan menengahnya ditempuh di SMP Negeri 1 Muntilan pada masa Gestapu. Putra dari Darjo dan Yahmi ini juga menceritakan bagaimana dia harus meninggalkan bangku SMEA Muhammadiyah Karangkidul yang berada di Kota Magelang karena tidak mau merepotkan bibinya, tempatnya numpang tinggal selama di rantau. Kemudian mengikuti kursus kilat selama satu tahun. Itupun tak selesai karena kendala biaya. Namun ketekunan dan kepiawaiannya dalam menata administrasi PCM Muntilan sangat layak diacungi jempol.

Bagaimana tidak? Sebagai sekretaris eksekutifnya PCM, dia sangat hafal kode persuratan dan terus meng-update pedoman administrasi di setiap periodenya. Sesuatu yang sering jadi momok bagi pengurus organisasi pada umumnya. Namun Pak Trimo menjalankannya dengan profesional. Berkat kinerjanya itulah PCM Muntilan menjadi rujukan administrasi PCM se-kabupaten Magelang sejak Periode Muktamar 45. Saat Gebyar Muktamar Muhammadiyah ke 45 di Malang Tahun 2005,  Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kabupaten Magelang mengadakan lomba administrasi dan PCM Muntilan menjadi juaranya.

Disusul prestasi yang masih hangat ketika PCM Muntilan dinobatkan sebagai PCM Unggulan Pertama Tingkat Jawa Tengah pada tahun 2016 lalu. Prestasi ini begitu lengkap dengan terpilihnya salah satu Ranting di Cabang Muntilan yang terpilih sebagai PRM Unggulan Kedua di Jawa Tengah yaitu Ranting Gunungpring. Belum lagi Pimpinan Cabang ‘Aisyiyah (PCA) Muntilan juga pernah meraih penghargaan sebagai PCA tergiat kedua se-Jawa Tengah. Paket komplit.  Sehingga tidak mengherankan jika akhirnya PCM dan PCA Muntilan sering kedatangan tamu untuk study banding terkait kegiatan dan keadministrasian dari beberapa cabang dari luar Muntilan.

Dengan prestasi ini, tentunya PCM tidak tinggal diam. Bahkan jauh sebelum PCM menjadi juara, Pak Trimo pernah dibelikan sepeda. Namun nasib naas menimpanya, sepeda itu hilang. Sampai akhirnya dalam sebuah event lima tahunan yakni Musyawarah Cabang Muhammadiyah Muntilan, ada program motorisasi Pak Trimo alias PCM akan memberi fasilitas sepeda motor kepada Pak Trimo. Namun dengan segala kerendahan hati, dia menolak.

Begitulah Pak Trimo. Sosok sederhana, apa adanya dan tidak mau merepotkan orang lain. Hal yang begitu berat dilakukan orang lain, baginya itu merupakan kenikmatan dari Allah yang luar biasa. Sehingga di mata pak Trimo apa yang dilakukannya selama ini bukanlah kendala baginya. Keistiqomahan, ketawakalan dan kesyukurannya inilah yang membuat dirinya jarang sakit. Bahkan honornya yang masih jauh dari UMR tidak menyurutkan semangatnya untuk mengabdi pada persyarikatan.

PCM tak kurang akal untuk membalas jasa kepada ayah dari Anang Hartono ini. Atas inisiatif kader-kader muda anggota Majlis Pembinaan Kader (MPK) PCM Muntilan, Pak Trimo didaftarkan untuk naik haji. Sebuah anugrah luar biasa yang diterimanya dengan penuh haru. Lebih haru dari keharuan para penerima proyek bedah rumah di layar kaca. Tidak butuh waktu lama untuk mengumpulkan donasi penghajian Pak Trimo. Dan alhamdulillah tahun 2015 Pak Trimo sampai juga ke tanah suci.

Namun bukan Pak Trimo kalau tidak tahu berterimakasih. Kakek dari cucu semata wayang bernama Aji Prabowo ini ngotot ingin mengundang seluruh donatur untuk berterimakasih. Khawatir mengurangi keikhlasan para donatur, akhirnya PCM Muntilan menggelar semacam pengajian walimatussafar bagi Pak Trimo. Kalau dihitung secara matematika, PCM tidak akan pernah mampu membayar lunas terhadapa apa yang telah Pak Trimo lakukan untuk PCM.

Kesan yang begitu mendalam disampaikan oleh salah satu mantan sekretaris PCM Muntilan, Achmad Sirdi. Dia kagum dan merasa sangat terbantu oleh keberadaan Pak Trimo. “Orangnya idealis, namun terukur dan sangat menyukai sesuatu yang tertib. Mengerjakan administrasi dengan rapi. Sangat paham dan hafal kode persuratan serta selalu menyesuaikan dengan yang baru.”  

Ada kata mutiara yang mengatakan “Di balik laki-laki yang sukses, selalu ada perempuan yang hebat di belakangnya.” Nah, tepat pulalah kiranya jika dikatakan, “Di balik PCM yang sukses, selalu ada sosok hebat di belakangnya.” Dan sosok hebat itulah Hayat Sutrimo. Laki-laki sederhana pengayuh sepeda tua. Dialah nyawanya PCM Muntilan. Aktor di balik layar, tidak terlihat dan kadang dilupakan orang. Terimakasih, Pak Trimo. Semoga Allah senantiasa melimpahkan kesehatan dan mencatat pengabdiannya terhadap PCM Muntilan sebagai amal ibadah. Amin.

Azizah Herawati, S.Ag., M.S.I, Wakil Sekretaris Pimpinan Daerah ‘Aisyiyah Kabupaten Magelang berdomisili di Muntilan, Magelang