Menanamlah, Meski Esok Kiamat

menanam pohon merupakan satu bentuk amal utama

menanamlaj meski mungkin kita tidak akan dapat menikmatinya di dunia

Menanamlah, Meski Esok Kiamat

Oleh: Bahrus Surur

Barangsiapa yang mengerjakan amal yang saleh maka (pahalanya) untuk dirinya sendiri dan barangsiapa mengerjakan perbuatan jahat, maka (dosanya) untuk dirinya sendiri; dan sekali-kali tidaklah Rabb-mu menganiaya hamba-hamba-Nya.” (QS. Fushilat: 46)

Semasa masih di pesantren, guru saya, Ust Chairuman Ilham, Lc., dengan bahasa Arab yang fasih pernah bercerita tentang seorang raja Persia yang terkenal bijaksana. Dia adalah Kisra Anusyirwan yang menguasai Persia antara tahun 1344–1357 Masehi.

Di sela waktu luangnya, Kisra Anusyirwan bersama pengawalnya keluar istana untuk sekedar melihat kondisi rakyatnya. Di tengah perjalanan, ia melihat seorang petani tua renta tengah menanam pohon zaitun (dalam versi lain ada yang mengatakan menanam pohon kurma. Namun, intinya, dua pohon itu sama: membutuhkan waktu yang lama untuk memanen buahnya). Sang raja berhenti sejenak sambil memperhatikan apa yang tengah diperbuat oleh lelaki tua itu. Sang raja berbisik dalam benaknya, “Lelaki itu telah melakukan pekerjaan sia-sia.” “Sebab”, pikir sang raja, “Jika pun pohon zaitun itu tumbuh besar dan berbuah, tokh lelaki tua itu tidak mungkin dapat menikmatinya, karena pada saat itu umurnya sudah tidak mencukupi dan telah tiada.

Karena penasaran, Kisra pun turun dari kudanya dan bertanya kepada kakek tersebut, ”Wahai Pak tua, apa yang sedang engkau tanam?”

”Saya sedang menanam pohon zaitun,Tuan,” ujar petani tua.

”Mengapa engkau bersusah payah menanam pohon ini, bukankah pohon ini perlu waktu lama untuk berbuah? Usiamu yang sudah sangat sepuh seperti ini, kayaknya engkau tak akan sempat menikmati buahnya.”

 “Wahai Kisra, orang-orang sebelum kita telah menanam berbagai tanaman dan buah-buahan yang mereka sendiri kadang tidak menikmatinya. Namun, lihatlah sekarang, kita ikut menikmatinya. Jadi, kalau kita menanam berbagai macam tanaman dan buah-buahan hari ini, siapa tahu anak cucu kita juga akan ikut menikmatinya seperti kita menikmatinya hari ini,” ungkap si kakek.

Mendengar jawaban yang sangat mengesankan itu, raja lantas mengatakan, “Zih!” dalam tradisi yang ma’ruf di tanah Persia, jika seorang raja mengucapkan kata “zih” kepada seseorang, maka dia semestinya memberi hadiah berupa uang kepada orang yang mendapat ucapan itu. Untuk itu, sang raja kemudian memberikan sekeping uang dinar pada petani tua itu atas jawaban yang mengesankan itu.

Tidak mau kalah bijak dengan sang raja petani renta itu pun berkata sambil menunjukkan kepingan dinar yang diberikan Kisra,”Wahai Kisra, cobalah lihat. Pohon ini baru saja ditaman langsung ‘berbuah’.”

“Benar sekali,”kata Kisra Anusyirwan. Karena kagum dengan ungkapan sang kakek Kisra pun memberikan lagi sejumlah uang kepada kakek tersebut.

Kemudian petani tua itu berkata lagi, “Wahai Kisra, setiap tanaman pada umumnya hanya berbuah sekali dalam setahun. Tetapi, hari ini, tanaman saya ini berbuah dua kali hanya dalam beberapa menit saja.”

“Zih, benar juga,” kata Kisra Anusyirwan membenarkan untuk ketiga kalinya. Kemudian Kisra memberikan sejumlah uang lagi untuk yang ketiga kalinya kepada kakek tua tersebut.

Kemudian Kisra memerintahkan kepada anak buahnya untuk segera meninggalkan kakek petani tua tersebut, “Sebaiknya kita cepat pergi dari sini, karena kalau tidak, semua dinar yang kita bawa akan habis,” tegas Kisra pada anak buahnya.

Kisah ini memberi pelajaran kepada kita bahwa tidak semua kebaikan yang dilakukan oleh seseorang akan berbalas hari ini juga. Kebaikan sebagai energi positif akan selalu mendatangkan kebaikan-kebaikan yang lain, meski tidak mesti hari ini. Ibarat sebuah tabungan, amal kebaikan itu pasti akan dinikmati yang melakukannya pada saat ia berhadapan langsung dengan Allah di Hari Akhir nanti.

Hanya saja, amal kebaikan yang kita lakukan tidak semata-mata untuk mencari kepentingan dan tujuan sesaat di dunia. Ketika amal kebaikan itu hanya dimaksudkan untuk mencari kepentingan tertentu di dunia, maka cukuplah ia hanya akan mendapatkan maksud dan tujuannya di dunia. Di akhirat nanti ia tidak akan mendapatkan apapun, karena telah tercapai tujuannya. Sebaliknya, jika amal kebaikan itu diniatkan untuk mencari ridha Allah, maka amal kebaikan itu akan langgeng hingga Hari Kiamat Nanti.

Terlebih lagi jika amal kebaikan itu hasilnya bisa dinikmati oleh orang lain setelah kita meninggal dunia. Ia akan menjadi amal jariyah yang pahalanya akan mengalir bagi orang yang mengerjakannya. Dan akan semakin bertambah manakala perbuatan baiknya itu dicontoh oleh orang lain untuk dikerjakannya.

Karenanya, alangkah indahnya jika kita tidak menunda untuk berbuat kebaikan dan bersegeralah.  Rintangan dan tantangan akan selalu menghadang, namun kebaikan tetaplah harus dilakukan. Rasulullah pernah bersabda, “Jika Hari Kiamat akan tiba sesaat lagi dan engkau masih membawa tunas sebatang pohon untuk kamu tanam di semak belukar, teruskan niatmu dan tanamlah.Wallahu a’lamu..