Berguru Kepada KH AR Fakhruddin

KH AR Fakhruddin

KH AR Fachruddin Dok Pusdalit SM

Berguru Kepada KH AR Fakhruddin

Kantor PP Muhammadiyah Jl KHA Dahlan suatu pagi. Sepi. Saya langsung nyelonong ke ruang kerja pak AR Fakhruddin. Tentu setelah memberi salam dan mengenalkan diri sebagai Cah Kotagede, cucunya Mbah Jumairi. Kata kunci atau password istimewa ini langsung membuat wajah Pak AR cerah dan menanyakan kabar Kotagede. Saya jawab kalau Ibu-ibu Aisyiyah masih selalu pengajian. Saya bilang  menurut ibu saya, sehabis mendengar pengajian Pak AR pulang dengan kepala enteng sampai lupa pada hutang. Tentu saya bercerita dengan gaya bercanda, dan Pak AR tertawa. “Wah kamu’ ini ada-ada saja,” katanya. Lalu saya tanya, kenapa pak AR yang sudah punya kedudukan tinggi sebagai Ketua Umum PP Muhammadiyah masih suka mengisi pengajian di Ranting, bahkan di tingkat jamaah.

“Lho, Ranting itu pusatnya Muhammadiyah. Dan pengajian itu nyawanya. Jadi kalau Ranting hidup, pengajian jalan, Muhammadiyah masih ada harapan,” tuturnya dengan kalem.

Setelah ngobrol beberapa lama, saya pun menyampaikan maksud sebenarnya kedatangan saya di kantor PP Muhammadiyah menemui beliau. Saya mengeluarkan dummy buku yang sudah dijilid rapi. Beliau memperhatikan dummy ini dan bertanya, “Lho ana apa Le?”

“Begini Pak AR, ini karya orang Muhammadiyah Temanggung. Dia menulis terjemahan juz ‘Amma dalam bentuk tembang Mocopat. Ini akan kami terbitkan menjadi buku. Kan bagus Pak. Grup Mocopatan di desa-desa dan kampung-kampung bisa berlatih menggunakan buku ini. Seni-nya dapat dakwahnya tidak ketinggalan,” kataku sambil menyerahkan dummy atau rancangan buku itu.

Pak AR Fakhruddin membuka-buka halamannya, membaca isinya lalu mengangguk-anggukkan kepala.

“Terus apa yang bisa saya bantu?”

“Kami minta tolong Pak AR untuk membuat Kata Pengantar. Semua sudah siap cetak. Tinggal pengantar dari Pak AR.”

Pak AR Fakhruddin kembali mencermati isi calon buku itu. Agak lama.

“Begini saja. Kalau menunggu saya menulis Kata Pengantar waktunya lama. Oleh karena itu, bagaimana kalau saya sampaikan inti-intinya saja dan Sampeyan yang menyusunnya menjadi Kata Pengantar.”

“Baik Pak.”

“Pertama, saya sangat menyambut dan menghargai sekali upaya penulis buku ini. Kedua, saya menghargai upaya untuk menerbitkan buku ini. Ketiga, dalam berdakwah kita dianjurkan untuk mempergunakan bahasa yang sama dengan orang atau masyarakat yang kita dakwahi. Di depan orang Jawa kita menggunakan bahasa Jawa. Cara bijak seperti ini ada hadisnya lho. Ini,” kata Pak AR sambil menyodorkan selembar kertas kecil berisi matan atau teks hadits itu.

Beberapa bulan kemudian saya datang lagi ke kantor PP Muhammadiyah untuk menemui Pak AR Fakhruddin.

“Ada apa lagi Le?”

“Ini, pak AR bukunya sudah jadi,” kataku sambil menyerahkan buku kumpulan tembang Mocopat yang isinya terjemahan ayat ayat dalam Juz ‘Amma.

“Waduh, saya senang. Alhamdulillah.”

Ketika Pak AR Fakhruddin membaca Kata Pengantar dan membolak-balik halaman buku, saya mengambil amplop berisi honor pembuatan Kata Pengantar dan menyiapkan kwitansi serta ballpoint.

Pak AR Fakhruddin selesai membaca buku Itu. Saya menyodok kwitansi dan amplop

“Lho, iki apa meneh Le?”

“Ini honor penulisan Kata Pengantar. Tolong diterima dan ditandatangani kwitansi ini”

Ketika melihat angka yang tertera di kwitansi, Pak AR bilang kok jumlahnya banyak sekali. Saya jawab, itu yang mampu kami berikan.

Pak AR Fakhruddin menghitung uang di amplop lalu menekan angka di pesawat intercom.

“Tulung undangna si Anu. Ditunggu Pak AR di ruangannya,” kata pak AR memberi perintah kepada pegawai kantor PP Muhammadiyah.

Tidak lama kemudian orang yang beliau sebut datang  disuruh duduk

“Kowe wingi cerita kan kalau besuk anakmu ulangan dan belum bisa melunasi SPP. Sekarang kamu pulang membawa uang ini langsung ke sekolah, jangan mampir-mampir. Lunasi SPP anakmu sehingga besok bisa ikut ulangan. Sudah cepat sana. Pak Guru dan anakmu sudah menunggu.”

Pegawai kantor PP Muhammadiyah itu mengucapkan terimakasih, bersalaman lalu cepat melangkah ke luar.

Saya yang terbengong menyaksikan adegan itu ditegur pak AR Fakhruddin,”Nggak usah heran Le. Rejeki yang tidak terduga dari Allah SWT sebaiknya memang diteruskan kepada orang yang paling membutuhkan.”

“Betul Pak, terimakasih.” Kataku sambil bersalaman dan pamit pulang.

Nasehat pak AR tentang kalau berdakwah harus menyesuaikan dengan pihak yang didakwahi selalu saya ingat-ingat. Saya menyaksikan banyak tokoh kalau menggunakan bahasa yang sederhana, dan lugas mudah diikuti pendapatnya. Juga ketika Muktamar Muhamadiyah ke 47 di Makassar 2015 lalu saya ketemu dengan alumnus kampus saya waktu masih bernama Akademi Tabligh.

“Semua mahasiswa wajib menguasai bahasa Jawa, bisa ceramah dan khutbah Jum’at dalam bahasa Jawa. Bahkan pertunjukan wayang kulit di gedung Sasono Hinggil Dwi Abad Alun-alun Selatan dijadikan bahan ujian. Kami harus nonton wayang kulit dari awal sampai selesai dan wajib membuat laporan tentang pesan Ki Dalang dan cerita wayang itu,” katanya.

Saya langsung ingat pesan pak AR Fakhruddin yang tertulis di Kata Pengantar buku tembangisasi terjemahan juz ‘Amma dalam bahasa Jawa itu. (Mustofa W Hasyim)