In Memoriam Nadjib Hamid: Motor Penggerak Muhammadiyah Jawa Timur

nadjib hamid

In Memoriam Nadjib Hamid: Motor Penggerak Muhammadiyah Jawa Timur

Oleh : Haidir Fitra Siagian

Ada benarnya pernyataan Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Prof. Syafii Ma’arif, saat memberikan amanatnya dalam pembukaan Muktamar Muhammadiyah Ke-45 di Stadion Gajayana Malang, enam belas tahun silam. Bagi hadirin yang menyimak dengan hikmat amanat tersebut, tentu pernah mendengar satu testimoni yang sangat penting. Pernyataan yang tidak hanya sebagai sebuah pujian, lebih dari itu, merupakan satu bentuk rasa syukur atas perkembangan maupun kemajuan gerakan Persyarikatan Muhammadiyah di Jawa Timur.

Dalam salah satu bagian amanatnya, pakar sejarah kelahiran tanah Minangkabau Sumatra Barat ini, mengatakan bahwa kemajuan yang dicapai oleh Muhammadiyah Jawa Timur, sudah melebihi ekspektasi, tidak dapat dipandang sebelah mata. Baik dari aspek sumber daya manusia, gerakan keagamaan, maupun amal usahanya. Sehingga, bagi Buya, sekiranya terjadi satu masalah dengan Pimpinan Pusat Muhammadiyah di Yogyakarta, misalnya seperti yang pernah dialami Republik ini tahun 1948, maka Muhammadiyah Jawa Timur sudah siap mengambilalih kepemimpinan Muhammadiyah.

Contoh yang paling nyata adalah keberadaan amal usaha Muhammadiyah, terutama di Malang. Meskipun berada di luar ibu kota provinsi, akan tetapi Persyarikatan Muhammadiyah Jawa Timur mampu menghasilkan berbagai amal usaha, bukan hanya terbaik pada tinggal lokal, justru sudah masuk jajaran elit nasional, yakni Universitas Muhammadiyah Malang. Bahkan enam belas tahun kemudian, universitas ini telah dinobatkan sebagai Universitas Islam terbaik di dunia versi UniRank tahun 2021. Satu pencapaian yang sangat disyukuri oleh seluruh warga Muhammadiyah di seluruh Indonesia maupun dunia.

Tidak sampai di situ, menurut data Pimpinan Pusat Muhammadiyah, di Jawa Timur, terdapat seluruh jenis amal usaha yang dimiliki Muhammadiyah. Mulai dari taman kanak-kanak, perguruan dasar, perguruan menengah, pondok pesantren, hingga perguruan tinggi. Demikian pula dalam bidang dakwah dan sosial, semuanya ada di Jawa Timur. Bukan hanya maju dari segi kuantitas, tetapi bahkan dari aspek kualitas yang sangat menggembirakan. Sering pimpinan dan pengelola amal usaha Muhammadiyah dari wilayah lain berkunjung ke Jawa Timur untuk melakukan studi banding pengelolaan amal usaha. Termasuk pula teman-teman pengelola amal usaha Muhammadiyah dari Sulawesi Selatan. Dengan demikian, tidak berlebihan memang jika Prof. Syafii mengatakan bahwa di Jawa Timur terdapat kekuatan Muhammadiyah yang sangat dahsyat.

Tentu semua kemajuan yang dicapai oleh Muhammadiyah Jawa Timur ini, tidak diraih dengan mudah, bagaikan membalikkan telapak tangan. Butuh perjuangan dan kerja keras dari seluruh pimpinan dan warga Muhammadiyah. Mulai dari tingkat Ranting hingga Wilayah. Mereka semua mencintai dan mengkhayati amanah yang mereka emban dalam menggerakkan roda organisasi. Dengan tidak mengurangi rasa hormat kepada pimpinan yang lain, tidak berlebih jika menyebutkan satu di antara motor perjuangan Muhammadiyah Jawa Timur dalam dua dekade terakhir ini, adalah Drs. H. Nadjib Hamid, M.Si.

Innalillahi wainna ilaihi rajiun. Beliau telah berpulang ke rahmatullah pada waktu yang tepat, Jumat 9 April 2021 di Surabaya. Berbagai ucapan belasungkawa dan iringan doa dari seluruh warga Muhammadiyah sampai kepada Pimpinan Pusat Muhammadiyah menyatakan rasa kehilangan atas kepergian kader asli Lamongan ini.  Muhammadiyah Jawa Timur berduka, kita semua berduka. Itu adalah salah satu kalimat yang banyak beredar di media sosial. Menunjukkan betapa seorang Nadjib Hamid, merupakan sosok yang sangat penting dalam memimpin Muhammadiyah Jawa Timur. Jabatannya sebagai Sekretaris Pimpinan Wilayah dan kemudian menjadi Wakil Ketua adalah bukti nyata bahwa beliau adalah pribadi yang amanah dan profesional.

Meskipun berkiprah di Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Sulawesi Selatan selama hampir tiga puluh tahun dan sekarang ini aktif di Pimpinan Ranting Istimewa Muhammadiyah (PRIM) New South Wales Australia, saya mengetahui kreativitas Bang Nadjib Hamid di Jawa Timur. Beliau adalah pendiri Majalah Matan, salah satu majalah milik Persyarikatan yang cukup  berkembang hingga saat ini. Walaupun diterbitkan oleh Muhammadiyah Jawa Timur, tetapi jangkauannya meliputi seluruh nusantara. Berita yang disajikan oleh majalah ini cukup berisi, bermutu, kredibel, dan memiliki kekhasan kemuhammadiyahan yang sangat kental. Melalui majalah ini, kita boleh mendapati informasi tentang kemajuan dan perkembangan Muhammadiyah di seluruh Jawa Timur.

Terhadap Bang  Nadjib secara pribadi, terdapat dua pengalaman yang membuat saya cukup familiar  dengan beliau. Pertama adalah pada pertengahan tahun 1990-an. Setiap kali mengikuti kegiatan Ikatan Remaja Muhammadiyah (IRM) di pulau Jawa, terutama ke Yogyakarta, kami selalu naik kapal laut, pergi dan pulang. Dari Pelabuhan Soekarno-Hatta Ujung Pandang ke Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya.  Mengingat kapal laut yang berangkat tidak selalu tiap hari, maka jika akan pulang kembali ke Ujung Pandang  dari Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya, perlu menginap sambil menunggu jadwal keberangkatan kapal.

Bagi kami warga IRM, di tengah keterbatasan-keterbatasan yang ada, untuk mendapatkan penginapan gratis, selalunya pergi ke Jalan Gembilih III Surabaya. Di sini ada satu rumah wakaf yang cukup mewah, ada taman bunganya dan terdapat beberapa kamar dengan fasilitas lengkap. Di dalam rumah inilah kami menginap. Dan Bang Nadjib saat itu masih tinggal di rumah ini. Setiap kami menginap, keluarganya selalu menyiapkan sarapan dengan penuh kegembiraan. Semua itu diberikan secara percuma alias gratis. Saya juga ingat ada seorang adiknya, yang bernama Hasyim Hamid. Kami sama-sama pernah mengikuti Taruna Melati Utama di Lembang Jawa Barat tahun 2000.  Sekarang Mas Hasyim ini sedang menempuh pendidikan di Eropa dan dipercaya sebagai Ketua Pimpinan Cabang Istimewa Muhammadiyah (PCIM) Hongaria.

Kedua, pada tahun 2003 saat akan dilaksanakannya Sidang Tanwir Muhammadiyah di Kota Makassar. Meskipun Sidang Tanwir tidak sebesar Muktamar, tetapi memiliki makna yang sangat penting. Pesertanya adalah pimpinan pilihan yang merupakan utusan dari seluruh Pimpinan Wilayah Muhammadiyah se-Indonesia masing-masing empat orang. Saat itu, Bang Nadjib bukanlah peserta Tanwir. Tetapi beliau ingin menghadiri acara ini. Suatu ketika jelang magrib, saya menerima telepon dari beliau. Sambil memperkenalkan diri dan menanyakan berbagai hal tentang pelaksanaan Sidang Tanwir, dimana pada saat itu saya adalah anggota panitia pelaksana. Termasuk yang dia tanyakan adalah lokasi penginapan peserta. Saya pun menjelaskan sesuai dengan keadaan yang ada saat itu.

Dan ketika pelaksanaan Sidang Tanwir yang berlangsung di Auditorium Al Amien Kampus Universitas Muhammadiyah Makassar Jalan Sultan Alauddin No. 259 Tala’salapang, beliau hadir bersama dengan beberapa tokoh Muhammadiyah Jawa Timur. Kedudukan mereka saat itu adalah sebagai penggembira, karena tidak bisa masuk sebagai peserta. Beberapa kali  kami  saling bertegur sapa. Dan itulah kali terakhir saya bertemu dengan beliau. Saat Muktamar di Malang, saya pernah melihatnya dari kejauhan, tapi tak sempat berjumpa langsung, mengingat kesibukan beliau sebagai Sekretaris Panitia Muktamar. Semoga Allah Swt. menerima segala amal ibadah almarhum dan memberikan tempat yang mulia di sisi-Nya. Amiin.

Haidir Fitra Siagian, Dosen UIN Alauddin Makassar, kini tinggal di Australia