Nadjib Hamid, Anak “Mbogor” yang Cemerlang

Nadjib Hamid

Nadjib Hamid, Anak “Mbogor” yang Cemerlang

Oleh: Fathurrahim Syuhadi

Masa Kecil Nadjib Hamid

Nadjib Hamid dilahirkan pada  tanggal  17 Desember 1964, di lingkungan keluarga yang agamis dan sangat sederhana. Ayah ibunya adalah seorang petani musiman. Bila musim hujan ia menanam  jagung atau padi di sawah. Bila musim kemarau fokus membuat legen dan gula aren yang berbahan dari siwalan.

Nadjib Hamid anak pertama dari sembilan bersaudara pasangan dari Abdul Hamid dan Kholifah. Saudara Nadjib Hamid yaitu Mahfudlo (alm), Kembar : (Wahab-Wahib)-(alm), Nur Kholis (alm),  Masruroh, M.Aziz (alm), Hazim  dan  Maftuhah.

Sebagai saudara tertua, layaknya hidup di kampung Paciran yaitu menjadi bagian tulang punggung keluarganya. Nadjib Hamid tergolong anak yang prigel. Ia diserahi momong adik adiknya yang masih kecil tatkala ditinggal ke sawah orang tuanya. Ia juga pandai membantu ibunya memasak di dapur, dan mengirim bekal orang tuanya ke sawah.

Ia sangat piawi momong adik adiknya dengan permainan kreatif ala di desa, seperti membuat layangan. Ia sangat pandai memanjat pohon siwalan untuk diambil airnya (legen). Nadjib Hamid dikenal anak yang pinter Mbogor (Bahasa Paciran : aktivitas orang yang mengambil legen atau air siwalayan dari pohon dan mengolah menjadi gula merah). Jualan siwalan, gula dan tetap bersekolah dengan mandiri.

Nadjib Hamid tidak bisa naik sepeda ontel. Ke sana ke mari ia berjalan kaki. Sekali kali ia ikut naik ontel temannya bila bepergian atau ke sawah. Di rumah Nadjib Hamid tidak ada fasilitas sepeda ontel. Orang tuanya tidak memiliki sepeda ontel itu. Sedangkan Nadjib Hamid merasa tidak nyawan kalau harus pinjam untuk belajar.

Riwayat Pendidikan

Nadjib Hamid menyelesaikan pendidikan di lingkungan pondok pesantren. Siswa laki dan perempuan belajar secara terpisah. Bahkan satu angkatan tapi tidak kenal. Ia menyelesaikan pendidikan di Madrasah Ibtidaiyah Muhammadiyah Paciran lulus pada tahun 1976. Madrasah Tsanawiyah Muhammadiyah Paciran ia selesaikan pada tahun 1979.  Sedangkan Madrasah Aliyah Muhammadiyah Paciran lulus pada tahun 1982.

Motivasi sebagai anak dari keluarga yang sederhana, mendorong ia untuk bisa mandiri.  Nadjib Hamid selepas lulus dari Madrasah Aliyah Muhammadiyah Paciran pada tahun 1982, ia melanjutkan ke Ma’had Ali Lil Fiqh Wad Dakwah Bangil, Pasuruan Jawa Timur binaan KH Muamal Hamidy lulus pada tahun 1987. Alasan Nadjib Hamid belajar di kota adalah “Kalau hanya belajar di Paciran, maka saya tidak bisa berkembang”, Ia berkeinginan terus bergerak dan bermanfaat bagi orang banyak. Memilih hidup di kota, agar tidak jadi katak dalam tempurung, yakni hanya hebat di dalam tapi kecil di luar.

Bahkan setelah lulus dari Bangil ia bercita-cita ingin belajar ke Timor Tengah. Ia mahir berbahasa Arab dan Inggris. Ia beberapa tahun mengambil kursus Bahasa Arab dan Inggris di Pare Kediri. Ia tidak sendirian, ia bersama aktifis IPM binaannya antara lain Uzlifah dari Parengan Lamongan.

Nadjib Hamid lulus Sarjana Fisip Jurusan Administrasi Negara Universitas Bhayangkara Surabaya pada tahun 2000. Ia juga sempat kuliyah di Universitas Terbuka (UT) Jurusan Administrasi Negara.  Ia menyelesaikan pasca sarjananya pada Program Ilmu Administrasi Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya pada tahun 2005. Sedangkan S3 Institus Agama Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya (sedang disertasi)

Aktivis Tulen

Nadjib Hamid adalah aktivis tulen dan dikenal luas di masyarakat. Sejak sekolah di Madrasah Aliyah Muhammadiyah Paciran ia sudah aktif di IPM (Ikatan Pelajar Muhammadiyah) Kelompok (Ranting di tingkat desa)  dan  Cabang Paciran. Menjadi Pimpinan Daerah IPM Lamongan, Pimpinan Wilayah IPM Jawa Timur. Jabatan Ketua dan Sekretaris pernah dipegang

Pada saat ia berdomisili di Bangil sebagai mahasiswa Ma’had Ali lil Fiqh wad Dakwah, ia sering wira wiri pulang ke Paciran untuk mengurus IPM. Mengadakan kajian, mengadakan turba ke beberapa ranting atau desa tanpa lelah. Bahkan sebulan bisa lebih dari satu kali. Saat itu transportasi tidak semudah sekarang. Luar biasa lagi, ia tidak bisa bersepeda motor.

Nadjib Hamid bersama Ahnaf Yusuf (alm), Muhyidin, Nur Aini, Yusup Ismail, Ahmad El Hanif, dkk membangkitkan IPM Daerah Lamongan pada tahun 1988 yang fakum cukup lama. Dalam Musyda IPM di Sedayulawas Brondong  tahun 1988 ia mendapat suara terbanyak. Tetapi ia tidak mau menjadi ketua. Akhirnya, terjadilah duet Ahnaf Yusuf – Nadjib Hamid, sebagai ketua dan sekretaris Pimpinan Daerah IPM Lamongan periode 1988-1990. Selanjutnya pada Musyda IPM ke 5 di Babat,  regenerasi beralih ke Fathurrahim Syuhadi dan Mohammad Hanif sebagai Ketua dan Sekretaris periode 1990-1992. Pada saat itu, Nadjib Hamid sudah bertempat di Masjid Ummul Mu’minin Jalan Baratajaya VIII/8 Surabaya sejak akhir Desember 1987.

Di Pemuda Muhammadiyah Jawa Timur, Nadjib Hamid juga pernah menjadi Sekretaris dan Wakil Ketua. Pada periode 1989-1994 dengan ketua dan sekretaris Ir M Najib dan Drs Itok Wicaksono, ia menduduki salah satu anggota Departemen. Kemudian ia berduet dengan Nanang H Kaharudin sebagai ketua, sedangkan ia sebagai Sekretarisnya tahun 1994-1999. Pada periode 1999-2003 kepemimpinan Muhammad Mirdash-Tamhid Mashudi masing masing sebagai Ketua dan Sekretaris Nadjib Hamid sebagai Wakil Ketua.

Pada periode Nanang H Kaharudin- Nadjib Hamid, inilah Pemuda Muhammadiyah Jawa Timur menjadi pemantik reformasi. Tepatnya tahun 1996 mengadakan Tabligh Akbar Muhammadiyah Jawa Timur yang dipelopori Pemuda Muhammadiyah dengan mengerahkan ribuan KOKAM dan warga Muhammadiyah bertempat di lapangan Gelora Tambaksari Surabaya. Sebagai ketua panitianya Muhammad Mirdash, putra dari KH Abdur Rahim Nur ketua PWN Jawa Timur.

Begitu juga di PWM Jawa Timur. Nadjib Hamid pernah menduduki jabatan mulai dari Wakil Sekretaris periode 2000-2005, Sekretaris 2005-2010 dan Wakil Ketua  2010-2015 sampai saat ini.

Sewaktu mendapat amanah sebagai Sekretaris Eksekutif PWM Jawa Timur (1996-2005). Yang mana pada saat ia akan menjabat sebagai Sekretaris Eksekutif ia ditest terlabih dahulu oleh H Nurcholis Huda selaku sekretaris PWM Jatim.  Di tangan Nadjib Hamid inilah terjadi perubahan system manajemen di PWM Jawa Timur. Selaku Sekretaris Eksekutif ia melakukan pembenahan administrasi organisasi. Termasuk pembenahan SDM pelaksana tugas tata usaha.

Di tangan Nadjib Hamid, dokument organisasi yang berserakan diubah menjadi dokumen permanen dalam wujud buku yang enak dibaca di bawah ke mana mana. Salah satunya adalah Buku Agenda Muhammadiyah Jawa Timur yang legendaris. Mengapa Nadjib Hamid bisa melakukan ini ? Karena ia mempunyai instink literasi yang sangat kuat dan mempunyai relasi luas di percetakan.

Dari sinilah, kemudian PWM Jawa Timur memiliki amal usaha penerbitan Hikmah Perss yang dikomandani Nadjib Hamid

Tidak Bisa Naik Sepeda : Bukan Hambatan

Sejak kecil di kampungnya Paciran, Nadjib Hamid tidak bisa mengendarai sepeda ontel. Apalagi sepeda motor. Tapi bagi Nadjib Hamid itu bukan hambatan yang penting. Ia pun rela berjalan kaki berkilo kilo untuk menghadiri kegiatan IPM dan pengajian. Kalau tidak begitu itu, ia harus nebeng salah seorang temannya.

Pada saat sudah di Bangil dan di Surabaya, Nadjib Hamid tetap istiqomah tidak bisa mengendarai sepeda motor. Ia tidak surut langkah. Ia tetap getol melaksanakan dakwah dengan berbagai kendaraan. Sewaktu bermukim di masjid Ummul Mu’minin Surabaya, ia rela diantar jembut kendaraan ambulan untuk mengisi berbagai pengajian jamaahnya.

Pada tahun 1995-1996, Nadjib Hamid menjadi guru Madrasah Aliyah Muhammadiyah Pondok Modern Paciran. Ia setiap Sabtu Ahad rela pulang pergi Surabaya-Paciran untuk mengajar. Ia terbiasa dengan naik angkutan umum sambil tetap membaca sebagai hobinya. Nadjib Hamid sangat menikmati perjalanan yang cukup melelahkan ini. Saat itu Nadjib Hamid tinggal di Jalan Gembili lll nomor 42 Surabaya, yang merupakan markas besar aktifis AMM Jawa Timur, khususnya IPM

Penulis Produktif

Nadjib Hamid adalah penulis produktif.  Ia gemar menulis sejak duduk di Madrasah Aliyah Muhammadiyah Paciran. Ia sering menulis makalah dan dipresentasikan di kegiatan IPM. Begitu juga setiap ada kegiatan organisasi, ia pasti menulis untuk dipresentasikan. Sering makalah tersebut digandakan sendiri dan dibiayai dari sakunya

Pada saat menjadi mahasiswa Ma’had Ali lil Fiqh Wad Da’wah Bangil Pasuruan ia semakin rajin menulis. Ia adalah mahasiswa dan santri KH Muamal Hamidy yang dikenal luas sebagai ahli fiqih dan penulis yang sangat luas pandangannya. KH Muamal Hamidy juga menjadi wakil ketua PWM Jawa Timur beberapa periode sampai wafat.

Nadjib Hamid merintis beberapa bulletin Jum’at. Warta organisasi Pemuda Muhammadiyah Jawa Timur. Nadjib Hamid juga merintis majalah bulanan Semesta sebagai ladang da’wahnya. Ia type aktifis yang merintis media dakwah.

Tulisan Nadjib Hamid banyak dimuat dibeberapa media. Termasuk  menulis di beberapa media (Jawa Pos,  Semesta, Surya, Semesta, Suara Muhammadiyah, Matan, dll.). Tulisannya khas dengan bahasa arus bahwa. Pesan pesan moral sangat kuat dalam tulisan Nadjib Hamid

Dari pengalaman itulah ia kemudian mendirikan majalah Matan dan menjadi Pemimpin Umum. Sedangkan di PWMU.CO ia menjabat sebagai Dewan Pengarah

Karya Nadjib Hamid antara lain  Fikih kekinian; Al-Islam dan Kemuhammadiyahan,  Memberi dan Mencerahkan

Nadjib Hamid juga menjadi beberapa editor buku yaitu Menembus Benteng Tradisi,  Berdamai dengan Hari Tua,  Islam dalam Kehidupan Keseharian, Rumput Tetangga Tidak Lebih Hijau,  Hidup Bermakna dengan Memberi,  Islam itu Mudah, dan lain-lain.

Selalu Melibatkan Keluarga Dalam Berdakwah

Sebagai aktifis Nadjib Hamid selalu melibatkan keluarga. Hampir setiap aktifitas dakwahnya, ia selalau mengajak anak dan istrinya. Bahkan seringkali ia mengajak anak asuh binaanya. Lebih lebih pada saat ia berkeliling daerah dalam rangka jihad politik mendapat amanah sebagai calon DPD pada pemilu 2019.

Hal yang dilakukan Nadjib Hamid ini jarang atau bahkan tidak dilakukan oleh para aktifis lainnya dalam berdakwah. Tetapi Nadjib Hamid selalu bisa. Sehingga mobilisasinya yang di luar nalar itu karena saking padatnya, ia tetap bisa berkumpul dengan keluarga.

Bahkan saat bepergian ke luar negeri dalam rangka “Rihlah Dakwah” ia pun tetap memboyong Hj Luluk Humaidah,  dan tiga putranya yaitu  M Ulun Nuha, Aunillah Ahmad,  dan Aulia Azmi untuk membersamai ke Malaysia, Singapura dan Thailan. Apa yang dilakukan Nadjib Hamid bagi orang lain sulit, tapi bagi dia tidak ada masalah.

Tokoh Lintas Ormas

Aktifitas Nadjib Hamid di luar persyarikatan sangat padat juga. Ia sangat dikenal di komunitas ormas lain sebagai ahli fiqih. Disamping itu ia juga dikenal sebagai kolomnis dan jurnalis. Nadjib Hamid bergaul dengan siapa pun tanpa cangging. Tidak nampak formil walau beberapa jabatan disandang

Beberapa jabatan Nadjib Hamid di luar persyarikatan yaitu Anggota Panwaslu Provinsi Jawa Timur (2003-2004). Anggota KPU Provinsi Jawa Timur (2008-2014). Tim Assistensi Bawaslu Jawa Timur (2015). Tenaga Ahli Komisi E DPRD Jawa Timur (2015).

Ia menjadi Wakil Ketua Forum Kerukunan Umat Beragama Jatim 2015-2020. Wakil Ketua BAZNAS Provinsi Jawa Timur 2015-2020 dan Sekretaris Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme  Provinsi Jawa Timur  2018-2021

Partisipasi Internasional

Aktifitas Nadjib Hamid tidak hanya seputar Jawa Timur. Ia memiliki pengalaman internasional sebagai  peserta kunjungan Tokoh Jawa Timur ke China 2011 dan 2017. Sebagai Kordinator Rihlah Dakwah Malaysia-Singapura 2017 dan Kordinator Rihlah Dakwah Malaysia-Thailand 2017 dan 2018. Kemudian sebagai Peserta International Visitor Program on Religion and Ethnic Diversity, Amerika

Saya merasakan sekali peran beliau di luar negeri. Pada tahun 2017 saya mendapat kesempatan rihlah dakwah ke Malaysia dan Singapura. Saya mewakili Majelis Pendidikan Kader (MPK) PDM Lamongan bersama 10 daerah lain yang dianggap aktif berkegiatan perkaderan. Beliau benar benar membimbing saya yang pertama kalinya berkunjung ke luar negeri.

Kepergian Nadjib Hamid pada Jumat 9 April 2021 pukul 08.20. di RS Siti Khodijah Sepanjang Surabaya dan dimakamkan di kampung halamannya Paciran Lamongan menorehkan kesedihan yang sangat mendalam bagi warga persyarikatan dan masyarakat Jawa Timur, bahkan di Indonesia. Jenazahnya disalatkan berulang kali baik di Surabaya maupun di Paciran. Ribuan orang mendoakan agar Nadjib Hamid mendapat tempat terbaik di sisi Allah Swt.

Fathurrahim Syuhadi, Ketua Majelis Pendidikan Kader PDM Lamongan