Berguru Kepada Wildan Hamzah

Perusakan Budaya

Mustofa W Hasyim Foto Dok SM

Berguru Kepada Wildan Hamzah

Di Yogyakarta ada empat  kakak beradik Hamzah yang semua menjadi jurnalis dan penulis, dan semua tumbuh dan berkembang secara otodidak. Ini masih punya jalur saudara dengan orang Kauman. Salah satu ibu penjual kicak klasik mereka panggil Mbah. Mbah kicak, pemasak kicak yang selalu bikin heboh setiap Pasar Ramadhan  Kauman tinggal d Kauman Utara dan ketika saya masuk dan bertempat tinggal di Kauman, beliau masih hidup.

Kembali ke empat bersaudara Hamzah. Keempatnya pernah mewarnai jagad jurnalistik dan penulisan di Yogyakarta pada zamannya. Saya masih sempat menikmati zaman itu. Dari empat orang itu, ada yang menjadi tokoh teater dan sastra dan ada yang suntuk dengan dunia jurnalistik.

Keempat orang itu pertama A Ajib Hamzah yang menjadi pemimpin redaksi Suara Muhammadiyah dan pemimpin Teater Ramada dan pernah suntuk di dunia pemikiran filsafat sampai seorang penyair besar Darmanto Yatman kalau bertanya soal filsafat eksistensialisme kepada A Ajib Hamzah. Kedua Wildan Hamzah, wartawan senior di Harian Masa Kini yang nanti saya kisahkan bagaimana saya berguru kepadanya. Ketiga Hadjid Hamzah, redaktur senior di Kedaulatan Rakyat dan Mingguan Minggu Pagi Yogyakarta, yang setiap hari Rabu menyajikan rubrik khusus seni budaya di Kedaulatan Rakyat, khusus memuat isu sastra dan budaya yang berbobot, kadang panas menimbulkan polemik. Emha dan teman seangkatan yang sepeninggal Umbu Landu Paranggi dari Yogya untuk pulang ke Sumba menikah dan punya anak kemudian kembali menjadi burung bebas di Bali, kegelisahan sastrawan dan budayawan Yogya di tampung di Kedaulatan Rakyat hari Rabu ini.

Mas Hadjid juga dikenal sebagai bapak yang baik, ketika sastrawan perlu uang dicarikan dana kemudian ditukar naskah untuk dimuat di hari Rabu atau di Minggu Pagi. Para sastrawan dan aktivis seni yang tidak punya rumah dia perbolehkan mandi di kantor KR dan menggunakan kertas koran sebagai handuk. Dia juga dikenal sebagai cerpenis yang cerpennya unik. Keempat, Amru Hamzah yang lulusan Muallimin, pernah menjadi wartawan Harian Berita Nasional sebelum bergabung dengan Suara Muhamadiyah. Dia termasuk jago reportase.

Wildan Hamzah

Amru Hamzah termasuk wartawan yang suka olahraga. Kalau ada PORWANAS sering mewakili PWI untuk lomba maraton dan sepakbola. Para wartawan walau sering dijuluki jago kapuk, kalau bermain di lapangan bola bersemangat sekali, mirip semangat pemain klub sepakbola nasional atau dunia. Semangat bermain bola ini kemudian oleh Mas Amru Hamzah disalurkan dengan mendirikan Sekolah Sepakbola (SSB) untuk anak-anak. Dulu di Alun alun Utara maupun Selatan kelihatan anak anak berlatih sepak bola, lengkap dengan mengenakan kaos tim dari sepatu bola. SSB ini amat bermanfaat untuk menjaga kesehatan anak dan membuat anak menyukai olahraga. Saya lihat mereka yang pernah ikut SSB ketika sekolah menengah juga ikut klub sepakbola sekolah. Ada anak saya yang ketika kecil ikut SSB, ketika SMA ikut Liga Muhi, kemudian juga gemar main futsal. Ketika mahasiswa dan setelah itu menjadi penonton pertandingan sepakbola yang militan. Maksudnya menjadi penonton serius karena tahu dan memahami teknik dan teori bermain bola. Berbeda dengan penonton yang asal menonton sepakbola.

Kembali ke Mas Wildan Hamzah yang awalnya ketika saya masuk harian Masa Kini saya jarang ketemu. Maklum,  beliau masuk kantor redaksi ketika sore sampai malam dan kantornya di selatan yang menyatu dengan Percetakan Raja Indria (Percetakan RI) di jalan Brigjen Katamso. Sebuah percetakan legendaris dan bersejarah karena di zaman awal kemerdekaan pernah berjasa mencetak Oeang Republik Indonesia (Uang  ORI) yang dicetak untuk melawan peredaran uang penjajah, uang Belanda. Sebenarnya gedung Percetakan yang ada kantor redaksi Harian Masa Kini ini dan waktu itu masih menggunakan timah (teknologi cetak intertipe) yang hadir sebelum mesin cetak stensil dan teknologi cetak offset, ini amat bersejarah dan layak menjadi cagar budaya.

Waktu itu ketika awal bekerja di Harian Masa Kini karena saya mendapat panggilan dari kantor ini (padahal saya tidak pernah melamar pekerjaan di sini) ketika orang redaksi koran ini, tahu saya pulang dari merantau ke Jakarta. Waktu di Jakarta selama setahun lebih saya atas inisiatif saya sendiri mengirim berita-berita, khususnya berita budaya ke Harian Masa Kini. Waktu itu saya sudah mempelajari ilmu jurnalistik secara otodidak dan mempelajari teknik mengedit berita di Balai Pendidikan Wartawan Jakarta. Jadi ilmu jurnalistik saya praktikkan dalam keadaan sehari–hari.

Saya masuk kantor harian Masa Kini awalnya pagi, di kantor Utara, jl Mayor Suryotomo. Begitu masuk langsung diuji mengedit berita, dengan mudah saya kerjakan. Lalu saya diminta mencari berita ekonomi, mencocokkan harga sembako antara yang dimuat di koran dengan yang ada di pasar. Tentu harga barang di pasar sangat dinamis, dan ketika ada orang belanja di pasar protes kenapa harga barang di pasar lebih tinggi dibandingkan yang termuat di koran, dengan enak pedagang menjawab,”Kalau begitu sampeyan belanja di koran saja jangan ke pasar.”

Saya juga ditugaskan untuk mencari berita di pengadilan. Waktu itu yang diadili adalah tokoh mahasiswa penggerak demo anti korupsi di jajaran birokrasi penting. Para mahasiswa yang demo dianggap mencemarkan nama baik pejabat yang diberi hadiah alat kecantikan (kosmetik). Pejabat itu tersinggung karena dianggap sebagai wanita. Dan lucunya, lucu bin lucu, beberapa tahun kemudian sang pejabat itu diadili karena dituduh korupsi. Dia diadili di tempat yang sama dengan demonstran yang diadili karena memprotes korupsi. Jadi yang demo memprotes korupsi diadili dan yang korupsi juga diadili. Waktu itu ternyata saya ditugaskan sebagai wartawan bayangan karena wartawan aslinya adalah wartawan senior yang ahli dalam bidang kriminal.

Dan saya pernah mendapat pengalaman pahit. Saya ditugaskan mengedit dan menulis berita. Setelah selesai saya ketik, sambil berjalan pulang saya ke kantor selatan. Kebetulan sudah ada redaksi sore yang masuk. Berita hasil editing dan tulisan saya pun saya serahkan kepada redaksi sore.

“Pak ini berita,”  kataku sambil menyerahkan kertas berisi berita itu.

“O,ya,” jawab Redaktur senior itu setengah hati.

Saya berjalan keluar, dan sempat mengintip, ternyata berita dan hasil editing yang capek-capek saya ketik itu dia lempar ke kotak sampah.

Saya betul-betul terpukul, sambil berjalan pulang ke Kotagede saya hampir menangis. Saya merasa rugi banyak. Capek mengetik berita yang saya cari sendiri, capek mengedit berita orang lain, dan kalau berita itu masuk kotak sampah kan alamat saya tidak mendapat honor berita. Ditambah lagi pagi berikutnya saya dimarahi oleh redaktur pagi karena dianggap tidak menjalankan tugas. Saya terpaksa membela diri dengan mengatakan,”Tugas sudah saya jalankan Pak. Tapi beritanya dilempar ke kotak sampah.”

Redaktur Utara kaget dan minta maaf.

Itu periode atau episode ketika saya belum kenal dan akrab dengan mas Wildan Hamzah. Waktu kantor harian Masa Kini pindah ke Jl Sultan Agung, lalu pindah ke Gowongan Kidul saya hanya tahu kalau mas Wildan Hamzah itu kalau bekerja cepat sekali dan pendiam. Baru setelah kantor harian Masa Kini pindah ke jl Kolonel Sugiyono saya mulai akrab dengannya.

Sebelum itu saya gemar membaca tulisan dia. Saya kagum ketika dia membuat tulisan bersambung tentang perjalanan karir tinju Mohammad Ali. Saya juga kagum ketika dia membuat laporan bersambung tentang perjalanan dan sejarah perguruan pencak silat dan tokoh pencak silat di  Yogyakarta. Kekaguman dan pujian ini saya sampaikan ke dia waktu ada kesempatan. Dia senang. Kemudian dia menceritakan suka suka melakukan wawancara maraton dengan para pendekar.

“Mus, untuk menggali lebih dalam dunia pencak silat, kadang saya nakal. Tapi kena batunya.”.

“Mengapa Mas?”

“Waktu itu di sebuah kampung kan terkenal ada pendekar bertangan besi. Pendekar itu saya datangi dan saya tanyakan soal tangan besi itu. Dia sepertinya tersinggung, dia anggap saya tidak percaya kalau orang bisa melatih tangannya menjadi sekeras besi. Pendekar itu menyuruh saya untuk memukul dia sekuat tenaga. Begitu saya memukul dia menangkis dengan tangan dan saya langsung menjerit. Tangkisan dengan jurus tangan besi membuat tangan saya bengkak dan sakit sekali. Dia cuma tersenyum melihat saya meringis kesakitan. Kemudian setelah dua kali tepuk dan sekali urut tangan saya sembuh. Saya pun minta maaf kepada pendekar itu,” cerita mas Wildan Hamzah.

Pengalaman menguji pendekar dan kena batunya ini pernah dialami wartawan lain ketika menguji seorang Kiai besar dekat Imogiri. Dia kena batunya karena tubuh dibuat lemas. Dan saya waktu muda juga pernah konyol seperti itu ketika berhadapan dengan seorang Kiai di pedalaman kabupaten Brebes. Saya sengaja bersalaman dengan beliau sambil mengirim ‘tenaga’. Pak Kiai ini sambil tersenyum mengosongkan tenaganya bahkan tenaga saya seperti disedot. Saya lepaskan tangannya sambil meminta maaf.

Saya kemudian akrab dengan mas Wildan Hamzah dan dia kerap memberikan petunjuk tentang bagaimana melakukan pengamatan yang cermat di masyarakat.

“Yuk, ikut saya,” katanya.

Waktu itu hari Jum’at dan pukul sebelas pagi.

Ternyata ini merupakan serial praktek mengamati jamaah jum’at dan khatib. Saya diajak shalat Jum’at di masjid yang agak jauh. Jum’at berikutnya ke masjid di pusat kota, dekat Setasiun Tugu, lagi berikutnya di dekat Pengok, di Pakualaman, Karangkajen dan masjid di lingkungan Keraton, di kompleks Kepatihan.

Sehabis Jum’atan sambil makan siang kami mendiskusikan Khutbah, masyarakat warga sekitar masjid dan menebak figur khatibnya. Menarik, ternyata profil masyarakat sekitar masjid berbeda-beda. Ini yang kemudian hari saya sering diajak dan mengajak seorang teman untuk Jum’atan keliling Masjid Pathok Negara di Yogyakarta. Profil masyarakat santri di sekitar masjid itu berbeda-beda.

Banyak sekali ilmu. Pengetahuan, kiat taktis menjadi wartawan ketika menghadapi masalah di dalam hidup. Dia juga mengenalkan kepada saya menulis berita atau feature dengan struktur bonsai. “Tulisan ringkas, pendek, tidak bertele-tele, tetapi indah, unik dan tetap mewakili fakta- fakta yang ada, ” kata mas Wildan Hamzah suatu hari. (Mustofa W Hasyim)