Hari-Hari Menjelang Ramadhan, Cerpen Suratini

Hari-Hari Menjelang Ramadhan, Cerpen Suratini

Ustadz Aslam, Ketua Takmir mengamati kalender di dekat pintu masjid. Ia membuka-buka lembar kalender. Tiba-tiba dia berteriak, “Bri, Sobri, kesini sebentar.”

“Ada apa Pak,” Sobri mendekat.

“Lihat, ini kurang dari tiga bulan lagi kita sudah memasuki bulan Ramadhan”

Sobri mengamati lembar kalender yang ditunjukkan Ustadz Aslam.

“Benar,” celetuknya.

“Kau sebagai Sekretaris Takmir, tolong buat undangan untuk rapat besok malam. Kita bersiap-siap menyongsong dan mengisi bulan Ramadlan.”

“Siap, pak. Undangan pakai WA saja nggih pak. Saya takut kalau hari gini mengantar undangan kertas keliling kampung malah diketawain orang.”

“Tentu saja pakai WA saja, lebih praktis,”

Orang-orag yang selesai shalat sunnat bakda Isyak, keluar dari ruang dalam, ke serambi ikut mendekati ustadz  Aslam dan Sobri. Mereka gembira. Sebentar lagi Ramadhan tiba.

Mereka pulang ke rumah dengan membawa kabar gembira. Anak istri, suami, saudara di rumah dan orang yang mereka temui di jalan menuju rumah, semua dikabari. Serentak, kampung itu seperti mendapat limpahan cahaya dari langit. Semangat untuk menyongsong dan mengisi Ramadhan. Tidak ada yang bersedih mendengar itu, kecuali Mbok Karso seorang janda yang hidup sendirian. Ia justru sedih dengan datangnnya Ramadlan, sebab dia kehilangan kesempatan untuk bergunjing dan menggunjingkan orang lain. Pengalaman tahun lalu begitu pahit dia terima. Ketika itu di warung sayur tempat ibu-ibu membeli makanan dan penganan untuk berbuka, dia mulai menggunjing orang, tiba-tiba ibu-ibu itu berteriak bergantian,”Stop! Mbah! Ini bulan puasa. Setan saja dibelenggu kok Mbah Karso malah mau menggantikan perannya menjadi setan!”

Dengan menanggung rasa malu yang amat sangat, Mbah Karso pulang. Ia tidak jadi belanja sayur. Di rumah ia terpaksa menggoreng telur untuk berbuka puasa. Gara-gara itu, orang sekampung mengucilkan dia selama Ramadhan. Tidak ada orang yang mau diajak bicara, kecuali Bude Kasan, pemilik warung sayur itu.

”Kau sendiri yang salah Kok Yu. Bulan puasa kok mau memusimkan gunjingan, jelas ditentang orang banyak. Orang inginnya menabung pahala, kau malah ingin mengajak berbuat dosa.”

Bude Kasan menyalahkan Mbok Karso.

”Tapi cara orang kampung mengucilkan saya selama Ramadhan ini sudah keterlaluan kan?” dia mencoba membela diri.

”Ya diterima saja, walau menyakitkan hati. Soalnya Yu Karso yang keterlaluan selama ini. Dimana-mana suka menggunjing, siapa saja digunjing. Lama kelamaan kan warga kampung ini sebel juga kepada Yu Karso. Kalau tidak tahan dengan pengucilan warga desa ini, ya Yu Karso untuk sebulan ini kan bisa mengungsi di tempat saudara di luar kampung ini.”

Itu yang dia lakukan. Mbok Karso mengungsi untuk sementara, dia tinggal di rumah adiknya. Itu saja adiknya buru-buru berpesan agar selama tinggal disitu jangan sekali-sekali menggunjing orang. Pesan itu disampaikan sampai tiga kali.

”Apa Dik Murni benci kepada saya sampai berpesan kayak gitu.”

”Tidak Yu. Aku tidak benci sampeyan. Tetapi benci kepada kelakuan sampeyan yang tukang bergunjing itu.”

Baru setelah Idul Fitri dia berani pulang ke rumah sendiri, ia takjub melihat tetangga menjadi ramah dan mau bercakap-cakap dengan dia.

Sekarang mendengar para tetangga membicarakan akan datangnya bulan Ramadlan dia gemetar. Apalagi kemudian ada pngumuman untuk kerja bakti membersihkan masjid di hari Ahad mendatang. Semua warga, lelaki dan perempuan, anak-anak dan orang tua sekali, boleh membantu. Ingin sekali Mbok Karso ntuk datang ke masjid, tertapi ia takut. Kalau-kalau orang kampung masih menyimpan rasa benci kepadanya.

”Aku bertekad tahun ini memperbaiki diriku. Aku bukan lagi Mbok Karso yang dulu. Aku ingin menjadi wong apik atau manusia baik. Bukan lagi Mbok Gunjing seperti kata orang. Tentu menjadi manusia baik tidak mudah. Ada saja halangan. Tetapi aku bertekad untuk menepis halangan, termasuk halangan di dalam diriku. Jadi aku bertekad untuk datang ke masjid besuk Ahad,” katanya mantap.

Benar. Hari Ahad, dia memakai pakaian bersih, berkerudung. Mencangklong tas berisi mukena kumal. Mengenakan topi, membawa sapu dan serok berjalan mantap menuju masjid. Wajahnya ramah. Orang-orang heran.

”Mbo Karso datang, Mbok Karso datang.”

”Benar.”

”Benar Pak. Boleh kan Mbok Karso datang. Dia membawa sapu, bertopi dan membawa serok.”

“Wah, kalau begitu dia ingin bekerja bakti. Dipersilakan saja,” kata Ustadz Aslam.

Semua yang hadir dsitu menyalami Mbok Karso. Mbok Karso terharu. Menangis. Lalu mulai menyapu halaman masjid.

Waktu kerja bakti selesai, setelah shalat Dhuhur, dan makan siang, Bu Aslam, istri Ustaz Aslam berkata lantang,” Hari ini Allah memberikan karunia berharga kepada kampung. Yatu, kembalinya Mbok Karso menjadi warga kampung. Dan untuk menyambut bulan Ramadlan, ini dari Takmir memberikan mukena baru untuk Mbok Karso, Mau nggih Mbok? Bisa untuk jamaah tarweh nanti.”

Mbok Karso menerima mukena baru itu. Ia ciumi mukena itu sambil air matanya deras membasahi kain putih.

 

Yogyakarta, 2019

Suratini adalah penulis cerpen tinggal di Yogyakarta.

Artikel ini pernah dimuat di Majalah SM No 7 Tahun 2019