PULUNG GANTUNG, Cerpen Sura Bani el-Ar’anie

PULUNG GANTUNG, Cerpen Sura Bani el-Ar’anie

Dok. Harian Merapi

Sore yang membayang belum sempurna merampas terangnya siang. Walau lemah, untuk sesaat matahari masih mampu meneroboskan sinarnya  di sela-sela daun klengkeng. Untuk kemudian mulai meredup dan hanya mengguratkan warna tembaga bianglala senja di ujung langit barat.

Hewan-hewan malam semisal kelelawar, codot, mrutu, dan beberapa jenis serangga malam terlihat mulai berhamburan dari tempat-tempat persembunyian mencari penghidupan mereka yang disedikan oleh malam. Sedangkan hewan-hewan siang semisal burung kutilang, pipit, sriti, dan prenjak mulai ribut memanggil kawananya untuk mencari tempat peristirahatan. Menikmati selimut kegelapan yang sebentar lagi dibentangkan. Inilah pergantian jadwal makan para makhluk Tuhan, yang dijatah malam harus keluar dan yang dijatah siang harus segera bersembunyi menikmati mimpi.

Keributan eksotik menyambut pergantain mangsakala (waktu makan) ini menjadi semakin sempurna dengan lantunan suara ayat-ayat Al-Qur’an yang terdengar sayup dari masjid pojok desa. Semua warga desa Tubanan telah paham bahwa ini semua adalah pratanda sebentar lagi waktu maghrib akan tiba. Sesaat lagi adzan akan dikumandangkan, sebagai deklarasi perceraian siang dan memasuki rutinitas kehidupan malam.

Menurut tahayul yang masih dipercayai mayoritas warga Tubanan, waktu senja seperti ini adalah waktu yang sangat rawan. Para penguasa malam mulai keluar mencari mangsa sedangkan para penjaga malam yang menggantikan penjaga siang belum semua turun dari langit dan bersiaga di pos-pos pejagaan mereka. Saat inilah Batara Kala (raksasa buas penjaga waktu) diberi kewenangan oleh penguasa alam untuk mencari mangsanya. Maka, orang-orang tua akan pasti memaksa para anaknya untuk segera masuk rumah agar tidak dimakan Batara Kala dan para anak buahnya.  Menurut tahayul itu, Batara Kala dan anak buahnya akan mudah menerobos penjagaan karena para penjaga waktu belum bersiaga secara sempurna.

Akan tetapi semua tahayul itu tidak berlaku bagi keluarga Pak guru Ikhsan. Keluarga yang telah mengangkat aku sebagai bagian keluarganya, sebagai saudaranya, bukan sebagai pembantu sebagaimana statusku yang sebenarnya. Aku yang dititipkan atau dingengerkan orang tuaku agar bisa melanjutkan sekolah, malah direngkuh secara utuh. Dijadikan adik Mas Surya dan dijadikan kakak bagi Minarni dan Umi Atun. Tiga orang anak kandung Pak Guru Ikhsan.

Pada saat pergantian waktu hari itu, keluarga guru Ikhsan berkumpul di teras rumah mendengarkan cerita ‘Hanuman kembar’ yang dikisahkan oleh Nenek Sudirah, Ibu dari istri guru Ikhsan. Begitulah kebiasaan keluarga itu setiap senja, berkumpul mendengarkan cerita-cerita pewayangan yang disampaikan Nenek Sudirah. Kisah para Nabi serta kisah para pahlawan perjuangan yang diceritakan oleh Ibu Atik isteri guru Ikhsan, Ataupun menyimak cerita tentang kejayaan Majapahit dan Sriwijaya serta kekaisaran Jepang dan Tiongkok ang didongengkan oleh guru Ikhsan sendiri. Ketika adzan maghrib berkumandang, majelis ini akan bubar. Semua menuju masjid secara bersama-sama.

Saat Nenek Sudirah sedang menceritakan ramainya peperangan yang terjadi antara Hanuman melawan Trigangga, dari arah kebun terdengar suara teriakan ketakutan yang kemudian disusul munculnya sosok Nardi, anak tetangga sebelah.  Dia melompati pagar halaman, wajahnya pucat, nafasnya ngos-ngosan seperti tercekam ketakutan yang dalam.

“Ada apa Nardi, kamu kok lari seperti Sugriwa yang dikejar Sarpakenaka?” Umiatun anak terakhir guru Ikhsan teman sepermainan Nardi bertanya

“Ma…ma .. yat.  Mayat Pak Guru” Jawab Nardi terbata-bata.

“Mayat siapa dan di mana?” tanya guru Ikhsan dengan tenang

“Ini minumlah dulu, terus ceritalah  yang tenang!”  Kata bu Atik sambil mengulurkan segelas air putih yang langsung diteguk habis oleh Nardi.

“Mayat Danang, tergantung di pohon klengkeng yang ada di tepi kebun dekat sekolahan.”

“Maksudmu Danang anak Pak Hardjo?”

“Benar Pak Guru”.

“Nardi, apa kamu tidak salah lihat. Jangan-jangan yang kamu lihat tergantung itu bukan mayat tetapi hanya daun pisang yang tersangkut di dahan klengkeng?” Minarni, anak guru Ikhsan yang sejak tadi diam, ikut bersuara.

“Benar mbak, masa saya tidak dapat membedakan mayat dengan daun pisang, saya tadi memanjat sampai di dekat mayat itu untuk mengambil sarang burung kutilang”.

“Sarang burung di pohon klengkeng itu kan sudah dimiliki Mas Sapto, kamu mau mencurinya ya?” Bentak Umiatun jengkel. Sedangkan Nardi hanya diam menunduk. Keceplosan menyatakan niat curangnya.

“Sudah-sudah, ayo ke masjid, sebentar lagi adzan, biar aku mengantar Nardi ke rumah Pak RT untuk melaporkan kejadian ini”. Kata Pak Guru Ikhsan menengahi.

Lima minggu sudah berlalu, mayat Danang mungkin sudah hampir habis dimakan cacing di dalam kuburnya. Semua orang tidak mengira akan begini akhir dari kisah kehidupan pemuda bengal, yang sejak kecil selalu dimanjakan kekayaan orang tua itu.

Namun perbincangan tentang Danang tak juga berhenti. Setiap kali orang berkerumun pasti membicarakan kisah tragis Danang, hampir dapat dipastikan dipenghujungnya pasti membahas tentang keangkeran pohon klengkeng guru Ikhsan yang selalu berbuah lebat itu. Pada ujung pembicaraan, semua orang pasti merekomendasikan untuk menebang pohon itu dan membakar semua batangnya sampai habis tanpa sisa. Apabila tidak, kalau pohon itu dibiarkan saja, pasti akan membahayakan kehidupan warga. Hantu gentayangan yang menjadi penunggunya pasti akan semakin merajalela.

Tidak hanya itu, pulung gantung yang bersemayam di dalamnya pasti akan  terus mengamuk mencari korban-korban yang selanjutnya. Walau setiap hari jadi perbincangan warga, guru Ikhsan, bersikukuh tidak mau menebang pohon klengkeng kesayanganya itu.

Tiga minggu setelah meninggalnya Danang. Di waktu sore aku mendengar sendiri perbincangan yang terjadi di teras rumah antara pak Guru Ikhsan dengan Pak Kepala Desa. Menurut pak Kepala Desa beliau terpaksa  datang sendiri menemui pak Guru Ikhsan karena pak RT tidak berani menemui pak guru Ikhsan untuk membicarakan hal itu. Ketika pamitan Pak kepala Desa menggenggam tangan pak Guru Ikhsan sambil berkata dengan nada setengah putus asa,

“Terserah saja, Pak Guru percaya atau tidak pada kepercayaan ini, itu urusan keimanan  pak Guru sendiri dan itu dilindungi undang-undang. Saya sekedar menyampaikan aspirasi dan kehendak para warga yang masih mempercayai kepercayaan yang Pak Guru sebut sebabagi tahayul itu. Namun, mereka merasa terancam, mereka ketakutan pada semua kutuk yang bakalan jatuh. Selanjutnya semua terserah pada kebijakan Pak Guru. Tetapi sekali lagi saya memohon kepada Pak Guru untuk bersedia kembali memikirkan hal itu secara jernih.”

Empat bulan telah berlalu. Pohon Klengkeng itu tidak juga ditebang. Pohon itu malah memamerkan bakal buah yang lebat. Sebagian besar warga juga sudah tidak mempersoalkan dan mempergunjingkan kekeraskepalaan Guru Ikhsan yang dianggapnya nekat dan mau menang sendiri. Namun, sebagian kecil warga masih tetap belum berani melintas di bawah pohon itu di malam hari.

Namun, pada suatu pagi di hari ahad yang cerah. Desa Tubanan kembali geger. Nenek Sudirah ditemukan tewas tergantung di pohon klengkeng itu. Kali ini Pak Guru Ikhsan tidak bisa melindungi pohon klengkeng kesayangannya yang sedang berbuah lebat. Pohon itu ditebang. Seluruh kayunya dikampak menjadi potongan-potongan kecil disiram minyak tanah dan dibakar. Mengepulkan asap hitam yang gelap. Segelap pikiran Guru  Ikhsan dan keluarganya.

Semua orang menyalahkan kekeraskepalaan guru Ikhsan atas peristiwa tragis yang menimpa Ibu mertuanya itu. Guru Ikhsan hanya terdiam dan membisu tidak tahu apa yang harus dikatakan. Nalarnya buntu. Kalau Danang bunuh diri adalah wajar karena dia kurang beriman tetapi Nenek Sudirah?

Sekembalinya dari pemakaman Pak Guru Ikhsan masih tetap terdiam, beliau hanya duduk di kursi goyang di teras rumah sambil melihat beberapa ekor kupu yang terbang di antara bunga-bunga jambu. Hatinya pilu. Nalarnyapun membeku.

Sampai akhirnya selepas adzan ashar dua orang polisi datang bertamu  ditemani Pak RT, menyerahkan hasil autopsi dari rumah sakit. Ternyata Nenek Sudirah tidak meninggal karena bunuh diri. Sebelum tergantung di pohon beliau sudah meninggal. Ada luka memar di belakang kepalanya.

“Jadi Kesimpulan sementara pihak kepolisan adalah beliau itu korban pembunuhan. Pencuri itu menyangka kalau rumah ini kosong seperti rutinitas pagi di hari minggu, tetapi begitu masuk dia baru tahu kalau ternyata Nenek Sudirah tidak ikut jalan-jalan pagi seperti biasanya, maka karena takut kalau ketahuan dia langsung menghantam beliau dengan palu besi dan untuk menghilangkan jejak pencuri itu menggantung jenazah beliau di pohon klengkeng”.

Mendengar penjelasan itu Pak Guru Ikhsan langsung memanggil semua keluarganya dan beberapa tetangganya untuk berkumpul dan meminta kedua polisi itu menjelaskannya sekali lagi.

“Jadi pohon klengkeng itu benar tidak bersalah kan Ayah?”

Tanya Umiatun dengan lugunya. Semua hanya terdiam tidak ada yang berani menjawab.

Artikel ini pernah dimuat di Majalah SM No 10 Tahun 2019