Donasi Kemanusiaan Palestina: Kepedulian, Akuntabilitas, dan Kepercayaan Publik

palestina

Donasi Kemanusiaan Palestina: Kepedulian, Akuntabilitas, dan Kepercayaan Publik

Oleh: Yudha Kurniawan

Muslim sejati akan menyelamatkan muslim yang lain dengan lisan dan tangannya, maka kita harus bersatu dan jangan suka natoni (menyakiti) liyan (orang lain). Oleh karena itu Warga Muhammadiyah harus menjaga lisannya dengan selalu bertutur kata yang mulia, karena inilah kunci dari silaturrahim. Salah satu cara silaturrohim adalah gemar bersedekah, dengan memberikan yang terbaik dan bermanfaat (tidak harus berwujud uang) kepada orang lain.

Nabi Muhammad SAW juga seorang yang gemar bersedekah dan sangat dermawan. Maka warga Muhammadiyah-pun memiliki spirit sedekah yang luar biasa untuk membantu saudaranya, misalnya dengan gerakan peduli Palestina. Nasihat itu disampaikan oleh Sekretaris Umum PP Muhammadiyah Prof Abdul Mu’ti secara daring dalam acara “Silaturahmi Warga Muhammadiyah Bantul”, Sabtu malam 5 Mei 2021.

Pak Mu’ti pada malam itu juga merujuk data dari Prof Hilman Latif (Ketua Lazismu PP Muhammadiyah) bahwa perolehan dana peduli Palestina yang digalang Lazismu telah mencapai lebih dari 30 Milyar Rupiah. Insya Alloh ketika tulisan ringan ini diterbitkan dana yang terkumpul telah bertambah lagi.

Menurut Pak Abdul Mu’ti, warga Muhammadiyah tak perlu berkecil hati dengan adanya pihak-pihak yang menuding Muhammadiyah lebih mementingkan membantu saudaranya di Palestina dibandingkan menolong saudara setanah air. Tudingan ini tanpa disertai alasan yang dapat dipertanggungjawabkan.

Pak Mu’ti juga merujuk data dari MCCC dan Lazismu bahwa untuk urusan penanganan pandemi covid 19 saja, Muhammadiyah sudah mendistribusikan bantuan 352 Milyar Rupiah. Tentu masih banyak lagi program-program penggalangan dana yang dilakukan Lazismu untuk membantu saudara setanah airnya.

Akuntabilitas Lazismu

Nampaknya masyarakat sama sekali tidak terpengaruh dengan komentar miring atas gerakan donasi peduli Palestina. Akumulasi perolehan dana sedekah Palestina melalui Lazismu terus merangkak naik. Hal ini terkait dengan kepercayaan publik yang berhasil dibangun Muhammadiyah dengan Lazismu.

Sebagai entitas sektor publik kinerja Lazismu sangat dipengaruhi oleh kepercayaan masyarakat. Hal ini karena core bisnis Lazismu adalah mengelola dana masyarakat. Untuk membangun kepercayaan masyarakat maka Lazismu menerapkan transparansi publik melalui akuntabilitasnya.

Akuntabilitas hakikatnya adalah pertanggungjawaban yang tercatat. Oleh karenanya setiap rupiah yang dikelola pertanggungjawabannya harus dapat diakses oleh masyarakat. Entitas sektor publik yang baik harus memiliki laporan keuangan, karena dari sinilah publik dapat mengakses pertanggungjawaban atas dana yang diamanatkan untuk dikelola.

Tempo hari ada pihak yang meminta dana Palestina diaudit, tentu bagi Lazismu ini bukan hal sulit untuk dipenuhi. Lazismu selalu diaudit baik internal oleh LKPP Muhammadiyah maupun eksternal oleh akuntan publik. Audit bagi entitas sektor publik seperti Lazismu sangat penting dalam rangka meraih kepercayaan masyarakat.

Bukan hanya atas dana peduli Palestina, tapi audit telah dilakukan menyeluruh untuk semua program Lazismu. Audit ini sangat bermanfaat untuk meningkatkan kualitas informasi keuangan yang disajikan dalam laporan yang dirilis Lazismu, dengan demikian kepercayaan publik akan terbangun.

Kepercayaan Publik

Patut kita syukuri bahwa Lazismu telah mendapat tempat di hati masyarakat sebagai entitas publik yang akuntabel dan terpercaya, sehingga semua program-program yang digulirkan terlaksana dengan dukungan dana publik.

Kepercayaan publik harganya sangatlah mahal, kita bisa bercermin dari fenomena dana haji yang akhir-akhir ini dituntut transparansi pengelolaannya oleh masyarakat. Tuntutan ini barangkali sebagai buntut dari kebijakan pemerintah tidak memberangkatkan jamaah haji tahun ini.

Sebaiknya publik tidak buru-buru memvonis pengelolaan dana haji ada penyimpangan. Namun demikian pertanyaan publik atas dana haji yang konon mencapai 150 Triliun Rupiah semestinya segera dapat dijawab, sehingga kepercayaan masyarakat tidak semakin merosot.

Pengalaman ini adalah pelajaran yang bagus terkait perlunya  transparansi publik atas pengelolaan dana haji, karena pertaruhannya kepercayaan masyarakat kepada pemerintah. Letupan pertanyaan atas pengelolaan dana haji barangkali adalah api dalam sekam. Mungkin publik selama ini hanya diam, dan akhirnya tahun ini meletup cukup besar seperti gunung api Sinabung yang terlalu lama tidak erupsi.

Tidak mudah untuk memulihkan kembali kepercayaan publik atas pengelolaan dana haji. Hal ini sebaiknya menjadi pengalaman berharga bagi Lazismu dan entitas publik lainnya agar selalu membangun citra transparan dengan dukungan akuntabilitas yang memadai.

Yudha Kurniawan, Ketua Umum Pimda 02 Tapak Suci Putera Muhammadiyah Kabupaten Bantul