Dakwah Sunan Kalijaga Berbasis Kultural, Lakon Dewaruci dan Sehat Bugar Spiritual

Dakwah Kultural

Gelar Seni Budaya Soft Launching Muktamar Gedung Siti Walidah UMS Foto Dok Dwi Agus/SM

Dakwah Sunan Kalijaga Berbasis Kultural, Lakon Dewaruci dan Sehat Bugar Spiritual

Oleh: Wildan dan Nurcholid Umam Kurniawan

Kebutuhan manusia setelah makan dan minum

adalah mendengarkan dongeng.

(Kahlil Gibran, Penyair, Penulis  Lebanon Amerika, 1883 – 1931)

Menurut Kuntowijoyo (2000, dalam Siti ChamamahSoeratno, et al., 2009), Kyai Ahmad Dahlan dalam rangka menghadapi Jawanisme, justru menggunakan metode positive action (dengan selalu mengedepankan amar ma’ruf), dan bukannya menyerang tradisi serta kepercayaan Jawanisme (nahi munkar). Prinsip dakwah yang penuh dengan kesahajaan dan kelembutan kepercayaan masyarakat Jawa telah menjadikan Kyai Dahlan sebagai sosok yang cukup disegani. Pada waktu itu, Kyai Dahlan benar-benar toleran dengan Jawanisme yang berkembang di tengah-tengah kepercayaan masyarakat luas. Dalam konteks kontemporer, metode dakwah yang diterapkan oleh Kyai Dahlan itu merupakan salah satu bentuk dari dakwah kultural. Sebagai sebuah metode, dakwah kultural yang dikedepankan Kyai Dahlan itu ditunjukkan dengan sikap akomodatifnya terhadap tradisi Jawanisme.

Hanya saja, metode kultural yang selalu dikedepankan oleh Kyai Dahlan tersebut lambat laun berlaku surut. Sekilas nampak adanya keterputusan sejarah antara generasi awal Muhammadiyah dengan apa yang terjadi saat sekarang. Hal ini dapat dilihat secara langsung berdasarkan kecenderungan sebagian warga Muhammadiyah yang tidak toleran terhadap tradisi lokal. Kebiasaan sebagian warga Muhammadiyah yang selalu terburu-buru dalam memberikan justifikasi bid’ah, khurafat, dan syirik terhadap tradisi budaya lokal sesungguhnya sangat berseberangan dengan metode positive action yang digunakan oleh Kyai Dahlan.

Sunan Kalijaga adalah putra Adipati Tuban, nama kecilnya Raden Said. Ia merupakan sahabat dekat Sunan Gunung Jati. Masa hidup Sunan Kalijaga diperkirakan lebih dari 100 tahun. Dengan demikian ia mengalami masa akhir kekuasaan Majapahit (berakhir 1478 M), Kesultanan Demak, Kesultanan Cirebon dan Banten, bahkan juga Kerajaan Pajang yang lahir pada 1546 serta awal kehadiran Kerajaan Mataram di bawah pimpinan Panembahan Senopati. Dalam dakwah, ia mempunyai pola yang sama dengan mentor sekaligus sahabat dekatnya Sunan Bonang (Surahman, 2007).

Menurut Purwadi (2007), salah satu wali yang terkenal bagi orang Jawa adalah Sunan Kalijaga. Ketenaran wali ini adalah karena beliau seorang ulama yang sakti dan cerdas. Beliau juga seorang negarawan yang “mengasuh” para raja beberapa kerajaan Islam. Selain itu Sunan Kalijaga juga dikenal sebagai budayawan yang santun dan seniman wayang yang hebat. Bahkan sebagian orang Jawa menganggap sebagai guru agung dan suci di tanah Jawi.

Ajaran spiritual Sunan Kalijaga kepada masyarakat Jawa di antaranya adalah Kidung Rumeksa Ing Wengi. Kidung ini merupakan sarana dakwah dalam bentuk tembang yang populer dan menjadi semacam “kidung wingit” karena dipercaya membawa tuah seperti mantra sakti. Dakwah itu dirangkai menjadi sebuah tembang bermetrum dhandanggula dan seolah-olah sampai saat ini “abadi” sepanjang zaman. Orang-orang pedesaan masih banyak yang hapal dan mengamalkan syair kidung ini. Pendekatan Kanjeng Sunan Kalijaga dalam menyiarkan dakwah Islamiyahnya berdasarkan kepada tiga hal, yaitu momong (persuasif), momor (komunikatif) dan momot (akomodatif).

Sunan Kalijaga melakukan dakwah dengan cara pendekatan kultural, sehingga mendapatkan simpati dan empati dari kalangan yang sangat luas. Secara pelan-pelan kelompok syariat kultural yang diwariskan Sunan Kalijaga ini membangun basis gerakan di relung-relung pedesaan dan pegunungan. Dari sinilah timbul komunitas Islam Kejawen, sebuah kelompok sosial yang berusaha melaksanakan ajaran agama lebih independen, terbuka dan toleran. Komunitas Islam Kejawen dengan ciri khasnya, yaitu keselarasan hubungan antara agama, negara dan budaya.

Adapun karya-karya dan peninggalan Sunan Kalijaga di antaranya, yaitu : 1. Sokoguru Masjid Demak yang terbuat dari tatal; 2. Gamelan Nagawilaga; 3. Gamelan Guntur Madu; 4. Gamelan Nyai Sekati; 5. Gamelan Kiai Sekati; 6. Wayang Kulit Purwa; 7. Baju Takwa; 8. Tembang Dhandanggula;  9. Kain Batik motif garuda dan 10. Syair puji-pujian pesantren.

Sunan Kalijaga adalah seorang sufi yang ajaran-ajarannya diikuti oleh para penguasa waktu itu. Di antara ajaran Sunan Kalijaga adalah

Aja seneng yen lagi darbe panguwasa, serik yen lagi ora darbe panguwasa, jalaran kuwi bakal ana bebendune dhewe-dhewe.

Aja mung kepengin menang dhewe kang bisa marakake crahing negara dan bangsa, kudu seneng rerembugan njaga ketentreman lahir-batin.

Terjemahan:

Jangan hanya senang kalau sedang mempunyai kekuasaan, sakit hati kalau sedang tidak mempunyai kekuasaan, sebab hal itu akan ada akibatnya sendiri-sendiri.

Jangan hanya ingin menang sendiri yang dapat menyebabkan perpecahan negara dan bangsa, melainkan harus senang bermusyawarah demi menjada ketenteraman lahir-batin.

Selain itu, Sunan Kalijaga juga mengajarkan sikap narima ing pandum yang diurainya menjadi lima sikap, yakni rela, narima, temen, sabar dan budi luhur. Kelima sifat itu sebenarnya bersumber dari ajaran agama Islam, yakni rela dari ridha atau ikhlas, narima dari qanaah, temen dari sifat amanah, sabar dari kata shabar, dan budi luhur adalah akhlakul karimah. Tentang budi luhur, kata “budi” berasal dari bahasa Sanskerta  dan mempunyai arti “kemampuan” atau “kecerdasan otak” (intelectual faculty).

Salah satu ciri satria utama adalah alus ing budi. Demikian pula budi pekerti luhur syarat untuk dikatakan sebagai manusia yang baik. Orang yang luhur ing pambudi, adalah orang yang bijaksana. Sedangkan orang yang asor bebudene tidak hanya orang yang bodoh belaka, akan tetapi juga berbahaya. Budi mempunyai arti yang luas yang meliputi seluruh pribadi manusia, yang menggambarkan individualitasnya, yang menjiwai segala aktivitasnya, sehingga menjadikan ia orang yang berbudi atau tidak berbudi.

Tentang wayang bagi Sunan Kalijaga bukan semata-mata pertunjukan cerita, tetapi dimanfaatkan betul sebagai sarana pendidikan masyarakat. Sebagai dalang, Sunan Kalijaga sering memberikan pesan sebagai berikut :

Sing sapa ora gelem gawe becik marang liyan, aja sira ngarep-arep yen bakal oleh pitulungan ing liyan.

Wong ala samangsa kuwasa aja dicedhaki, sebab mbilaheni; saya mundhak angkara murkane, lan meneh bakal dienggo srana menangake kang ala mau.

Wong ala iku lamun kuwasa banjru sawiyah-wiyah nguja hawa napsune, lan uga ngangung-agungake panguwasane, mula aja nganti wong ala bisa nyekel panguwasa.

Wong kang rumangsa nindakake panggawe kang kurang prayoga, nanging emoh mareni, iku aja dicedhaki, mundak nulari.

Wong ala yen bisa kuwasa, kang ala iku diarani becik, kosok baline yen wong becik kang kuwasa, kang becik iku kang ditindakake.

Terjemahan :

Barangsiapa tidak mau berbuat baik terhadap orang lain, janganlah mengharap akan mendapat pertolongan orang lain.

Orang jahat kalau berkuasa jangan didekati, sebab berbahaya; ia akan tambah angkara murkanya, lagipula engkau akan dipakai sebagai sarana untuk memenangkan kejahatan itu.

Orang jahat kalau berkuasa akan bertindak sewenang-wenang, melampiaskan hawa nafsunya dan membanggakan kekuasaannya. Oleh karena itu jangan sampai ada orang jahat memegang kekuasaan.

Orang yang merasa menjalankan pekerjaaan yang tidak sepantasnya, tetapi tidak mau mengakhir, jangan didekati, agar tidak ketularan.

Orang yang jahat kalau dapat berkuasa, segala yang jelek dikatakan baik, sebaliknya kalau orang baik yang berkuasa, maka hal-hal yang baiklah yang dijalankan.

Sunan Kalijaga mengarang lakon-lakon wayang dan menyelenggarakan pergelaran-pergelaran wayang dengan upah baginya sebagai dalang berupa Jimat Kalimasada atau ucapan kalimah syahadat. Beliau mau memainkan lakon wayang yang biasanya untuk meramaikan suatu pesta peringatan-peringatan asal yang memanggil itu mau bersyahadat sebagai kesaksian bahwa ia rela masuk Islam.

Masyarakat kita, khususnya Jawa, masih gemar sekali dengan wayang, mulai zaman dahulu hingga sekarang, baik di desa maupun di kota. Oleh karena itu, Wali Sanga memperhatikan hal tersebut untuk keperluan memasukkan dakwah Islamiyah. Ketika mendalang itulah Sunan Kalijaga menyisipkan ajaran-ajaran Islam. Lakon yang dimainkan tak lagi bersumber dari Kisah Ramayana dan Mahabarata. Sunan Kalijaga mengangkat klsah-kisah carangan. Dengan wayang, Sunan Kalijaga menyajikan kata-kata mutiara yang bukan saja untuk persembahyangan, meditasi, pendidikan, pengetahuan, hiburan, tetapi juga menyediakan fantasi untuk nyanyian, lukisan estetis, dan menyajikan imajinasi puitis untuk petuah-petuah religius yang mampu mempesona dan menggetarkan jiwa manusia yang mendengarkannya. Wayang merupakan cermin bagi kehidupan manusia.

Cerita-cerita baru (lakon carangan) yang tidak terdapat dalam cerita induk Mahabarata dan Ramayana antara lain : Mustakaweni, Petruk Dadi Ratu, Mbangun Candi Sapta Harga, Semar Mbangun Kahyangan dan Dewaruci.

Buat pembaca yang berminat untuk mengetahui lebih lanjut tentang Sunan Kalijaga dan Wali-Wali yang lain, dapat membaca tulisan Agus Sunyoto (I2016) Atlas Wali Songo, Buku Pertama yang Mengungkap Wali Songo Sebagai Fakta Sejarah.

Lakon Dewaruci dan Jalan Mencapai Makrifat

Dewaruci artinya Dewa yang sederhana, musafir yang melaksanakan tasawuf. Tentang pengaruh Islam dalam Serat Dewaruci. Menurut RM Pranoedjoe Poespaningrat (2005) dalam bukunya Nonton Wayang dari Berbagi Pakeliran, Serat Dewaruci adalah cerita mistik Kejawen yang sangat terkenal. Mula-mula memang sarat pengaruh Hindunya, namun kemudian sastra ini digubah dalam Islam dan dinamakan Suluk (dari bahasa Arab salaka, yang artinya jalan menuju Tuhan) Seh Malaya. Dalam kaitan ini, tokoh Bima diganti menjadi Sunan Kalijaga, sedangkan Dewaruci diganti dengan Nabi Khidir. Serat Dewaruci melukiskan kisah sangkan paraning dumadi dalam upaya mencari kasampurnan, ittihad atau manunggal. Mengenal Tuhan berarti mengenal asal kejadian manusia, yang sekaligus tempat kembalinya di kemudian hari. Ini merupakan penafsiran Kejawen atas “inna lillahi wa inna ilahir raji’un”.

Alkisah, mula-mula Bima disuruh mencari banyu perwitasari oleh Drona. Air kehidupan itu dikatakan berada di gunung Gandamagana, kawasan hutan Tikbrasara. Gandamagana berarti pancaindera untuk menghirup bau-bauan yang memabokkan, sedangkan Tibrasara berarti jalan yang sulit, penuh tantangan. Motif penugasan ini adalah untuk mengurangi kekuatan Pendawa. Bila ia tewas maka akan mudahlah bagi Kurawa membunuh kadang Pendawa lainnya. Sebenarnya Drona segan untuk memenuhi niat busuk Duryudana dan Sengkuni ini, namun karena terdesak dan merasa berhutang budi, maka dengan berat hati ia melakukan upaya pembunuhan ini.

Bima berhasil mengalahkan raksasa penjaga hutan yang bernama Rukmuka dan Rukmakala, lambang telinga kanan dan kiri [ yang menurut Prof. Dr. Seno Sastrahamidjojo (dalam Poespaningrat, 2005), telinga kiri lambang kalkulasi, sedangkan kanan inusi (rasa) – manusia harus memakai nalar dan rasa untuk mengetahui jati dirinya]. Artinya ia harus mengalahkan nafsu yang datangnya lewat telinga, yaitu amarah. Setelah tewas mereka badar menjadi Betara Bayu dan Betara Endra.

Endra menjelaskan bahwa banyu perwitasari sebenarnya tidak ada, oleh karena itu ia harus menemui dan menanyakan pada Drona. Drona sangat terkejut melihat ia masih segar bugar. Untuk menutupi akal jahatnya, Drona mengatakan bahwa perintahnya untuk pergi ke Gandamagana adalah dalam rangka untuk menguji keteguhan hatinya. Kemudian Drona menunjukkan laut selatan sebagai tempat keberadaan banyu perwitasari yang sebenarnya.

Sebelum berangkat ke laut selatan, Bima menjumpai ibu dan saudaranya untuk pamit serta mendapatkan restu. Mereka membujuk agar ia mengurungkan niatnya, karena semuanya ini adalah akal Drona untuk mencelakakan dirinya. Namun ia tetap teguh pada pendiriannya, dan dengan tegas mengatakan bahwa apa pun resikonya seorang murid wajib melaksanakan apa yang diperintahkan oleh sang guru. Disamping itu, ia juga berkeyakinan bahwa seorang guru tidak mungkin akan mencelakakan muridnya sendiri.

Jalan menuju ke laut selatan melewati Sunyapringga – hutan yang berbahaya. Di tempat ini ia ditemui oleh empat saudara Tunggal Bayu, yang mencegah kenekadan Bima, namun tidak berhasil. Mereka tetap membantunya dengan cara menyatukan diri dengan Liman Setubanda, yang dijadikan tunggangannya untuk mengarungi laut.

Bima tenggelam dan melayang-layang dalam lautan setelah Liman Situbanda meninggalkannya. Ia harus mengarungi lautan – lambang usus perut manusia, apa saja bisa masuk ke dalamnya. Setelah berhasil menghilangkan nafsu amarah yang dilambangkan oleh Rukmuka dan Rukmakala, ia harus berusaha memerangi nafsu yang masih ada pada dirinya, yaitu nafsu untuk makan, minum, tidur (aluamah), dan nafsu birahi (supiyah), yang dilambangkan oleh Namburnawa, penjaga air kehidupan. Ular ini adalah lambang bahaya atau bencana besar yang mengancam hidup manusia.

Bima harus melakukan sembah rogo, sembah cipto, sembah jiwo, dan sembah roso atau dalam tasawuf sering disebut sebagai sarengat, tarekat, hakikat, dan makrifat. Setelah melakukan keempat macam sembah, ia akhirnya dapat berjumpa dengan Dewaruci. Ia masuk ke tubuhnya melalui telinga kiri, karena ia belum sepenuhnya suci dan masih harus mengatasi segala macam nafsu yang masih ada.

Semula Bima tidak melihat apa-apa di dalam tubuh Dewaruci, namun setelah dibimbing, ia akhirnya dapat melihat cahaya empat warna : hitam, merah, kuning, dan putih. Hitam melambangkan nafsu aluamah atau angkara yang merusak, merah melambangkan nafsu amarah atau sumber kemarahan, seperti nafsu hewan, kuning melambangkan nafsu supiyah atau keinginan untuk kekuasaan dan kesenangan belaka, dan putih melambangkan nafsu mutmainah atau kegandrungan akan ketentraman.

Setelah dapat mengendalikan nafsunya Bima melihat juga tiga boneka berwarna kuning emas. Ini melambangkan bersatunya makrokosmos dan mikrokosmos, yang menyatu ke dalam triloka. Triloka terdiri atas : Jana loka yaitu alam wadag, artinya tubuh atau dunia fana yang banyak godaan ini. Sumber daya kebatinan ini dinamakan kanuragan; Guru loka yaitu alam kesadaran tentang kedudukan sebagai hamba Tuhan, yang merupakan sumber rasa sejati, dan melalui kesadaran ini manusia akan sepi ing pamrih rame ing gawe; dan Hendra loka yaitu alam pikiran dan alam semesta merupakan sumber kadibyan, yaitu daya cipta angan-angan manusia.

Dengan demikian Bima telah mencapai tingkat makrifat, artinya telah dapat melihat kebenaran sejati. Dengan mata batin, bukan dengan pancaindera. Ia dapat menemukan jati dirinya. Ia menjadi lebih percaya diri karena telah mengetahui hakikat hidup.

Menurut Effendy Zarkasi (dalam Poespaningrat, 2005) , dengan mengacu pada pendapat Ki Siswoharsoyo, mengupas lakon Bimasuci dengan nilai-nilai yang dikandung dalam  ajaran Islam. Ia membuat ringkasan cerita per-episode dengan dikomentari tafsirnya. Secara ringkas analisisnya dapat diungkap sebagai berikut :

  1. Bima berguru kepada Drona. Artinya orang yang ingin mendalami ilmu agama, dia harus berguru kepada orang yang berilmu, dan harus selalu berbaik sangka, oleh karena ada orang berilmu yang bertabiat kurang terpuji. Drona, misalnya.
  2. Agar tujuannya tercapai, Bima diminta untuk membongkar gunung Reksamuka. Artinya orang yang mendalami ilmu tarikat harus melakukan hal-hal yang berat, seberat membongkar gunung. Ia harus menghilangkan sifat keduniawiannya.
  3. Bima bertemu dua raksasa, Rukmuka dan Rukmakala ketika membongkar gunung. Artinya orang yang berusaha mensucikan diri harus mampu mengurangi semua godaan yang dilambangkan oleh Rukmuka (kesesatan) dan Rukmakala (lepas kendali).
  4. Bima diberi Sabuk Cindhe Wilis dan Bara Kembar untuk dipakai di paha kanan kiri. Artinya orang yang hendak mensucikan diri harus bertekad bulat sekuat ikat pinggang (sabuk), dan tahan terhadap ejekan orang lain (bara).
  5. Bima diminta menemui Drona untuk menanyakan tempat dimana banyu Perwitasari yang sebenarnya. Artinya bila mentaati perintah sang guru, si murid akan semakin banyak pengalaman yang sebelumnya tidak pernah diketahuinya.
  6. Bima diberi tahu tempat banyu Perwitasari ada di dasar lautan. Artinya bahwa untuk sampai pada tingkat makrifatullah memang sukar, jauh dan dalam letaknya. Semakin kuat orang menuju hakikat agama, maka akan semakin besar pulalah godaannya.
  7. Mendengar niat Bima pergi ke lautan, ibu dan saudaranya menangis dan berusaha mencegahnya, namun tekad Bima tetap kokoh. Artinya seseorang yang sudah terpikat dengan makrifatullah, dia pasti mau melepaskan diri dari segala hal yang paling dicintainya.
  8. Dalam perjalanan Bima bertemu dengan empat saudara tunggal Bayu, yang juga ingin mencegah niat Bima. Mereka adalah Setubanda, Jajagwreka, Maenaka, dan Anoman. Artinya seseorang yang hendak mencapai suatu tujuan mulia akan selalu mendapat godaan dari keempat nafsu yang ada dalam dirinya, yaitu nafsu aluamah, amarah, supiyah, dan mutmainah
  9. Bima heran karena di lautan dia tetap terapung. Baru setelah Gajah Setubanda yang menjadi tunggangannya, melepaskan diri, ia tenggelam ke dasar laut. Artinya seseorang yang telah berhasil melepaskan segala hawa nafsunya, orang tersebut akan terbuka pintu makrifatullahnya.
  10. Ketika Bima hanyut, ada ular besar yang menggigitnya, namun kemudian mati ditusuk kuku Pancanaka. Anehnya ia ikut mati juga. Artinya agar tidak terlalu lama menderita, malaikat (dilambangkan dengan naga menurut ilmu hakikat) akan menolong orang yang tidak tahu tentang nasibnya.
  11. Bima tidak menyadari bahwa dirinya sudah berupa sukma, ketika bertemu Dewaruci. Setelah ia mengatakan akan mencari banyu Perwitasari, maka ia disuruh masuk ke tubuh Dewaruci. Artinya orang yang mencari tingkatan makrifat harus memulainya dengan kalimat syahadat, menempuh jalan sesuai dengan lahir batinnya.
  12. Karena Dewaruci kerdil Bima bingung untuk masuk ke tubuhnya. Ia lalu diberi petunjuk untuk masuk lewat telinga, namun tetap linglung ketika berada di dalam tubuh Dewaruci. Artinya meskipun berwujud sukma, ia tetap mempunyai perasaan dan akal budi. Ia diminta dzikir kepada Allah Swt. Agar jiwanya tenang dan damai.
  13. Bima merasa dirinya berada di dalam alam agung lengkap dengan segala isinya, dan melihat lima cahaya saling bersaing. Artinya orang yang sudah pada tingkat hakikat, maka jiwanya telah makrifat kepada alam kabir (besar) dan alam saghir (kecil). Cahaya melambangkan panca indera yang ingin memuaskan nafsu.
  14. Bima disuruh semedi lagi dan dia melihat golek kencana. Ia merasa di alam indah permai, mulia, wangi aromanyua, sehingga berniat tidak mau pulang ke dunia. Artinya menggambarkan sukma yang telah berada di surge maya, merasa puas dan ingin menetap di sana. Tetapi niat itu tidak mungkin karena dharmanya di dunia masih belum selesai.

Dalam mencari kasampurnan ini, Bima selalu mendapat rintangan dan godaan, namun kesemuanya dapat diatasi. Ia berhasil karena langkahnya dilandasai oleh ketegauhan hati, ketaatan pada guru, sikap yang susila anoraga – merendahkan hati dan berbudi legawa, mandhep, mantep – rela, sungguh-sungguh mantap, dan berserah diri. Ia tidak takut mati meskipun telah diingatkan oleh saudara-saudaranya bahwa bahaya yang akan dihadapinya sangatlah besar. Akhirnya ia dapat menemukan jati dirinya, bahkan ia sudah sampai pada tingkat eneng, ening, eling, pada saat bertemu dengan Dewaruci.

Tasawuf dan Jalan Mencapai Sehat Bugar Spiritual

Memang, kesehatan bukan segalanya tetapi tanpa kesehatan segalanya menjadi tidak ada maknanya, health is not everything but without it everything is nothing (Arthur Schopenhauer, 1788 – 1860). Menurut Undang-Undang RI No. 36 Tahun 2009 Tentang Kesehatan, kesehatan adalah keadaan sehat, baik  secara fisik (jasmani), mental (nafsani), spiritual (ruhani), maupun sosial (mujtama’i) yang memungkinkan setiap orang untuk hidup produktif secara sosaial dan ekonomi.

Bahwa perkembangan kepribadian seseorang adalah proses spiritual (Maslow, 1997). Spiritualitas dari bahasa Yunani, dari kata spiritus yang berarti menyalakan, membuat terang. Dalam kehidupan, spiritualitas mewujud dari dalam upaya mencari makna hidup (the meaning of life). Dengan demikian, spiritualitas tidak dapat dipisahkan dari agama agar hidup manusia bermakna dihadapan Tuhan maupun sesama manusia. Sayangnya, apresiasi masyarakat lebih banyak ke arah sehat fisik (jasmani), bahkan sudah meningkat ke arah upaya mencapai kebugaran fisik (physical fitness). Sedangkan upaya mencapai kesehatan spiritual (ruhani) apalagi kebugaran spiritual (moral fitness), lebih banyak diucapkan daripada diwujudkan. Oleh karena Tuhan mengutus para Nabi kepada umat manusia agar menjadi contoh bahwa para Nabi adalah manusia yang sesungguhnya manusia, manusia yang perilakunya manusiawi tidak hewani, contoh manusia yang bugar spiritual (moral fitness).

Agama berasal dari kata bahasa Sanskerta gam yang artinya pergi, sebagaimana bahasa Inggris go yang artinya sama, karena kedua bahasa itu merupakan cabang dari pohon bahasa yang sama yaitu proto-Eropa. Dapat awalan dan akhiran a, lalu berubah arti menjadi jalan. Jadi agama adalah jalan menuju Tuhan, road to Allah.

Dalam Surah Adz Dzariyaiat [51] ayat 56 Tuhan berfirman :  “ Tidak Kuciptakan  jin dan manusia kecuali untuk tunduk dan patuh kepada-Ku”. Sebenarnya Tuhan tidak berhajat untuk disembah atau dipuja manusia. Tuhan adalah Maha Sempurna dan tidak berhajat kepada apa pun. Di sini lebih tepat kalau diberi arti lain daripada arti beribadat, mengabdi, memuja apalagi menyembah. Arti ini lebih sesuai dengan arti yang terkandung dalam muslim dan muttaqi, yaitu menyerah, tunduk dan menjaga diri dari hukuman Tuhan di Hari Kiamat dengan mematuhi perintah-perintah dan larangan-larangan Tuhan.

Dengan kata lain, manusia diciptakan Tuhan sebenarnya ialah untuk berbuat baik dan tidak untuk berbuat jahat, sungguhpun di dunia ada manusia yang memilih kejahatan. Adapun tujuan ibadat dalam Islam bukanlah menyembah, tetapi mendekatkan diri kepada Tuhan, agar dengan demikian ruh manusia senantiasa diingatkan kepada hal-hal yang bersih lagi suci, sehingga  akhirnya rasa kesucian seseorang menjadi kuat dan tajam. Ruh yang suci membawa kepada budi pekerti baik dan luhur. Oleh karena itu, ibadat, di samping merupakan latihan spiritual, juga merupakan latihan moral.

Untuk kebahagiaan manusia, perbuatan baik dikerjakan dan perbuatan jahat dijauhi. Yang dimaksud dengan perbuatan baik bukan hanya yang merupakan ibadat, tetapi juga perbuatan baik duniawi yang setiap hari dilakukan manusia dalam hubungannya dengan manusia, bahkan juga dengan makhluk lain, terutama binatang-binatang. Demikian pula yang dimaksud dengan perbuatan buruk dan jahat yang dilakukan manusia, terhadap sesama manusia dan juga terhadap makhluk lain di dunia (Nasution, 2001).

Menurut Nasution (2001), ada segolongan umat Islam yang belum merasa puas dengan pendekatan diri kepada Tuhan melalui ibadat salat, puasa, zakat dan haji. Mereka ingin merasa lebih dekat lagi dengan Tuhan. Jalan untuk itu diberikan oleh al-tasawwuf. Al-tasawwuf atau Sufisme ialah istilah yang khusus dipakai untuk menggambarkan mistisisme dalam Islam.

Tujuan dari mistisisme, baik yang didalam  maupun yang diluar Islam, ialah memperoleh hubungan langsung dan disadari denganTuhan, sehingga disadari benar bahwa seseorang berada di hadirat Tuhan. Intisari dari mistisisme, termasuk dalamnya tasawuf, adalah kesadaran akan adanya komunikasi dan dialog antara ruh manusia dengan Tuhan, dengan mengasingkan diri dan berkontemplasi. Kesadaran itu selanjutnya mengambil bentuk rasa dekat sekali dengan Tuhan dalamn arti bersatu dengan Tuhan yang dalam istilah Arab disebut ittihad dan istilah Inggris mystical union.

Bagaimanapun paham bahwa Tuhan dekat dengan manusia, yang merupakan ajaran dasar dalam mistisisme, terdapat dalam Al-Qur’an dalam Surat Al-Baqarah [2] : 186 : “Jika hamba-hamba-Ku bertanya padamu tentang diri-Ku, Aku adalah dekat. Aku mengabulkan seruan orang memanggil jika ia panggil Aku”. Kata do’a yang terdapat dalam ayat ini oleh sufi diartikan bukan berdo’a dalam arti yang lazim dipakai. Kata itu bagi mereka mengandung arti berseru, memanggil Tuhan mereka panggil, dan Tuhan memperlihatkan diri-Nya kepada mereka.

Demikian pula ayat 115 dalam surat itu juga mengatakan : “Timur dan Barat kepunyaan Allah, maka kemana saja kamu berpaling, di situ (kamu jumpai) wajah Tuhan”. Bagi kaum sufi ayat ini mengandung arit bahwa di mana saja Tuhan ada. Di mana saja Tuhan dapat dijumpai. Lebih dari itu lagi ayat 16 Surat Qaaf [50] : “Sebenarnya Kami ciptakan manusia dan Kami tahu apa yang dibisikkan dirinya kepadanya. Kami lebih dekat kepadanya daripada pembuluh darahnya sendiri”.

Bahwa mistisisme, termasuk dalamnya tasawuf, erat hubungannya dengan menjauhi hidup duniawi dan kesenangan materil. Hal ini dalam istilah tasawuf zuhd (asceticism). Mempunyai sifat zuhd merupakan langkah pertama dalam usaha mendekati Tuhan. Orang yang mempunyai sifat ini disebut zahid (ascetic). Setelah itu barulah orang meningkat menjadi sufi (mystic).

Bahwa dalam perkembangan zuhud  terdapat dua golongan zahid. Satu golongan zahid meninggalkan kehidupan duniawi serta kesenangan materil dan memusatkan perhatian pada ibadat karena didorong oleh perasaan takut akan masuk neraka di akhirat. Tuhan mereka pandang sebagai suatu zat yang ditakuti. Perasaan takutlah yang menjadi pendorong bagi mereka. Satu golongan lain didorong bukan oleh perasaan takut, tetapi sebaliknya oleh perasaan cinta kepada Tuhan. Tuhan bagi mereka bukanlah merupakan suatu zat yang harus dijauhi dan ditakuti, tetapi suatu zat yang harus dicintai dan didekati. Maka mereka meninggalkan kehidupan duniawi dan banyak beribadat karena ingin mendekatkan diri kepada Tuhan (Nasution, 2001). Buat pembaca yang ingin mengetahui lebih lanjut dan mendalami tasawuf dapat membaca buku tulisan Dr. Mir Valiuddin (1980) yang buku aslinya berjudul Contemplative Disciplines in Sufism, yang telah diterjemahkan dengan judul Zikir & Kontemplasi dalam Tasawuf oleh MS Nasrulloh.

Menurut Nasution (2001), manusia dalam paham Islam, sebagai halnya dalam agama monoteisme lainnya, tersusun dari dua unsur, unsur jasmani dan unsur ruhani. Tubuh manusia berasal dari materi dan mempunyai kebutuhan-kebutuhan materiil, sedangkah ruh manusia bersifat immateri dan mempunyai kebutuhan spiritual. Badan, karena mempunyai hawa nafsu, bisa membawa pada kejahatan, sedangkan ruh, karena berasal dari unsur yang suci, mengajak kepada kesucian. Kalau seseorang hanya mementingkan hidup kematerian ia mudah sekali dibawa hanyut oleh kehidupan yang tidak bersih, bahkan dapat dibawa hanyut kepada kejahatan.

Dalam Islam ibadatlah yang memberikan latihan ruhani yang diperlukan manusia itu. Semua ibadat yang ada dalam Islam, salat, puasa, haji dan zakat, bertujuan membuat ruh manusia supaya  senantiasa tidak lupa pada Tuhan, bahkan senantiasa dekat pada-Nya. Keadaan senantiasa dekat pad Tuhan sebagai Zat Yang Maha Suci dapat mempertajam rasa kesuciaan seseorang. Rasa kesuciaan yang kuat akan dapat menjadi rem bagi hawa nafsu untuk melanggar nilai-nilai moral, peraturan dan hukum yang berlaku dalam memenuhi keinginannya.

Last but not least, Marcus Annaeus Lucanus (39 – 65 SM), penyair kerajaan Romawi, mengatakan exeat aula, qui vult esse plus, barang siapa ingin jadi orang baik, hendaklah meninggalkan istana. Terjemahan bebasnya, kalau tetap ingin menjadi orang baik, janganlah masuk lingkaran kekuasaan. Selain itu, ada juga pepatah Latin, animo magis quam corpore aegri sunt. Artinya, mereka (yang berkuasa) lebih banyak (terkena) sakit spiritual (ruhani) daripada sakit badan. Dengan demikian, pengunduran diri Ari Kuncoro, Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis UI,  yang menjabat Rektor UI sejak Desembar 2019, sebagai Wakil Komisaris Utama Bank BRI Tbk., patut diapresiasi menunjukkan beliau sehat spiritual.

Sebaliknya, Presiden mengubah Statuta UI, sesuai Peraturan Pemerintah (PP) No. 68 Tahun 2013, melarang rektor merangkap jabatan, termasuk pada BUMN, dengan menerbitkan PP No. 75 Tahun 2021 untuk melegalkan rektor UI menjadi Wakil Komisaris Utama BRI, selain membahayakan kebebasan akademik, juga dapat menimbulkan praktik yang sarat konflik kepentingan dan berpotensi kolutif, akan dan dapat menimbulkan pertanyaan bagi kami rakyat kecil masihkah  Presiden sehat spiritual ? Hidup itu pilihan! Karena manusia diciptakan Tuhan bebas membuat pilihan (free choice), bebas berkehendak (free will) dan bebas bertindak (free act). Oleh karena itu, Tuhan menurunkan Kitab Suci dan mengutus para Nabi sebagai pemandu agar manusia tidak ngawur sak enake wudele dewe !

Tulisan ini kami persembahkan untuk sejawat kami, in memoriam dr. Inu Wicaksana, Sp,KJ, seorang dokter yang juga ahli budaya dan sangat menguasai falsafah Jawa.

Wildan, Dokter Jiwa RS PKU Muhammadiyah Bantul

Nurcholid Umam Kurniawan, Dokter Anak, Direktur Pelayanan Medik RS PKU Muhammadiyah Bantul, Dosen FK-UAD