• Tentang SM
  • Disclaimer
  • Redaksi
  • Media Siber
  • Term & Condition
  • Privacy Policy
  • Hubungi Kami
Kamis, Maret 30, 2023
Suara Muhammadiyah
No Result
View All Result
  • Login
  • Home
  • Berita
  • Khazanah
  • Hadlarah
  • Khutbah
  • Tanya Jawab Agama
  • Wawasan
  • Humaniora
  • Home
  • Berita
  • Khazanah
  • Hadlarah
  • Khutbah
  • Tanya Jawab Agama
  • Wawasan
  • Humaniora
No Result
View All Result
suaramuhammadiyah
No Result
View All Result

Generasi Muda Perlu Belajar dari Sejarah Pemberontakan G30S PKI

Suara Muhammadiyah by Suara Muhammadiyah
30 September, 2021
in Berita
Reading Time: 2 mins read
A A
1
Generasi Muda Perlu Belajar dari Sejarah Pemberontakan G30S PKI
Share

PURWOKERTO, Suara Muhammadiyah – Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Muhammadiyah Purwokerto (UMP) mengadakan Talk Show dengan mengusung tema “Kaum Muda dan Masa Depan Indonesia: Belajar dari Pemberontakan G30S PKI” di selenggarakan secra virtul pada Kamis (30/9/21).

Pada kegiatan tersebut BEM UMP menghadirkan dua narasumber yakni Deni Asy’ari, Tokoh Muda Muhammadiyah dan Elly Hasan Sadeli, Akdemisi UMP.

Baca Juga

Pemerataan Pendidikan, UMP Pengabdian di Bangka Belitung

Tanggap Erupsi Merapi, UMP Kirim Relawan ke Magelang

Deni Asy’ari, Direktur Suara Muhammadiyah menceritakan bagaimana awal mula datangnya paham komunis dan fase-fase pemberontakan yang dilakukan oleh PKI “Sejarah PKI. Sejarah pemberontakan tidak hanya terjadi pada tahun 1965 akan tetapi sejarah pemberontakan ini sudah terjadi di tahun-tahun sebelumnya. Pada tahun 1926 di berbagai daerah, seperti Jawa Timur, Jawa Barat dan Sumatra.

“Belajar sejarah merupakan aspek yang penting apalagi dalam kalangan akademisi, karena hampir semua momentum pemberontakan itu selalu dilakukan dengan cara-cara pertumpahan darah, pembunuhan yang sadis terhadap para ulama, santri, dan para pimpinan ormas,” tutur Deni Asy’ari

Walaupun tidak nampak wujudnya, paham komunis itu tidak akan menghilang. “Secara ideologi, secara paham  komunisme itu tidak akan hilang atau mati. Satu hal bahwa komunis itu anti Tuhan, sesuai dengan fatwa forum ulama,” tandas Deni Asy’ari

Elly Hasan Sadeli memaparkan materi perihal pancasila sebagai benteng melawan komunis, menurutnya Pancasila ini tidak hanya simbolis. Ia menjelaskan mengenai konsep dasar dari komunis dan tantangan idelogi pancasila di masa sekarang.

Ia mengamini apa yang sudah disampaikan oleh pemateri pertama bahwa pemberontakan yang dilakukan oleh PKI di Idonesia memililiki fase-fase dalam melangsungkan pergerakannya. Dan menurutnya paham komunis tidak cocok berada di Indonesia yang berlandaskan asas ketuhan, ini bertolak belakang dengan ideologi komunis termasuk dalam hal berpolitik.

Jebul Suroso, Rektor UMP pada sambutanya menegaskan bahwa sebagai manusia yang beradap, kejahatan terhadap manusia, terhadap sesama insan, terhadap sesama makhluk itu merupakan sesuatu yang tidak termaafkan apalagi dengan pembunuhn terhadap manusia, adanya pengekangan dari praktik-praktik yang telah dilakukan oleh partai komunis. “Bagaimana mungkin bangsa ini bisa bersahabat dengan sekelompok umat yang di dalamnya tidak mengakui keberadaan tuhan dan negara ini perlu dibangun diatas sendi-sendi kemanusiaan,” tambahnya

Terkait dengan kehidupan berbangsa dan bernegara, Jebul menjelaskan bahwa kita tidak akan terlalu lama bernostalgia dengan sejarah, akan tetapi yang perlu di ingat bahwa sejarah harus menjadi pembelajaran agar kita tidak mengulangi kesalahan yang sama. Momentum refleksi dari peristiwa ini diharapkan dapat membentuk kesadaran kolektif, kesatuan kognitif sehingga mahasiswa semakin sadar, samakin kuat dan kedepanya bisa membangun bangsa ini.

Ilyas Rosyid Firdaus selaku Presiden Mahasiswa BEM UMP berkaca dari sejarah mengenai para pemuda masjid, para santri di pondok yang megalami pembantaian secara besar-besaran yang dilakukan oleh PKI, dalam sambutan mengatakan “Ketika petunjuk itu dari Allah adalah petunjuk perlawanan, oleh karenanya Partai Komunis Indonesia (PKI) gentar sehingga mereka mengincar pemuda-pemuda yang dekat dengan masjid dan pondok, oleh karenanya kita sebagai pemuda jangan sampai jauh dari masjid sehinga rohani membawa kita pada petunjuk-petunjuk kebenaran,” ujarnya. (gufron/diko)

Tags: BEM UMPG30S PKImuhammadiyahUMP
Suara Muhammadiyah

Suara Muhammadiyah

Related Posts

Pemerataan Pendidikan, UMP Pengabdian di Bangka Belitung
Berita

Pemerataan Pendidikan, UMP Pengabdian di Bangka Belitung

30 Maret, 2023
Tanggap Erupsi Merapi, UMP Kirim Relawan ke Magelang
Berita

Tanggap Erupsi Merapi, UMP Kirim Relawan ke Magelang

30 Maret, 2023
Propaganda Penetapan Awal Waktu Subuh dan Awal Bulan Hijriah di Indonesia
Opini

Propaganda Penetapan Awal Waktu Subuh dan Awal Bulan Hijriah di Indonesia

29 Maret, 2023
Next Post
Unmuha Bisnis Center, Garap Amal Usaha Ekonomi

Unmuha Bisnis Center, Garap Amal Usaha Ekonomi

Please login to join discussion
  • Kotak Pos
  • Privacy Policy
  • Disclaimer
  • Pedoman Media

© SM 2021

No Result
View All Result
  • Home
  • Berita
  • Khazanah
  • Hadlarah
  • Khutbah
  • Tanya Jawab Agama
  • Wawasan
  • Humaniora

© SM 2021

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In