SEMARANG, Suara Muhammadiyah — Pembukaan Tanwir Tapak Suci Putera Muhammadiyah yang digelar di Universitas Muhammadiyah Semarang (UNIMUS), Kamis (6/8), menjadi momentum penting guna memperkuat konsolidasi organisasi sekaligus mengarahkan pengembangan Tapak Suci sebagai pusat keilmuan, dakwah, dan kesehatan.
Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Agung Danarto, dalam amanat pembukaannya menegaskan bahwa Tapak Suci selama ini memiliki modal besar berupa mentalitas unggul yang harus terus dipelihara dan dikembangkan. Menurutnya, keunggulan Tapak Suci tidak hanya terletak pada kemampuan bela diri, tetapi juga pada kemampuannya memadukan karakter sebagai perguruan pencak silat sekaligus organisasi yang berorientasi pada dakwah dan pembinaan kader.
"Tapak Suci memiliki mentalitas yang unggul. Kemampuan memadukan antara perguruan dan organisasi harus menjadi perhatian sehingga keduanya dapat berkembang secara seimbang," ujarnya.
Agung melihat Tanwir menjadi momentum strategis untuk membawa Tapak Suci melangkah lebih jauh dalam pengembangan ilmu pengetahuan. Jaringan Perguruan Tinggi Muhammadiyah-'Aisyiyah (PTMA) yang tersebar di berbagai daerah dinilai memiliki laboratorium, sumber daya akademik, dan fasilitas penelitian yang dapat dimanfaatkan untuk mengembangkan kajian ilmiah tentang pencak silat.
Ia pun mendorong lahirnya pusat-pusat riset dan laboratorium yang mampu mengkaji Tapak Suci dari berbagai disiplin ilmu, sehingga warisan bela diri Muhammadiyah tidak hanya berkembang melalui latihan, tetapi juga memperoleh penguatan secara akademik.
Selain pengembangan keilmuan, Agung juga menyoroti pentingnya pembenahan tata kelola organisasi. Menurutnya, organisasi yang semakin besar membutuhkan sistem yang semakin tertata.
"Sistem organisasi juga harus dirapikan. Perlu ada leveling dalam organisasi agar jalannya organisasi semakin tertib dan efektif," tegasnya.
Dalam pandangannya, Tapak Suci memiliki keistimewaan yang tidak dimiliki banyak organisasi lain. Salah satu kekuatan tersebut terlihat dari kiprahnya di tingkat internasional. Bahkan, penetrasi dakwah Tapak Suci di luar negeri dinilai telah berkembang sangat pesat.
"Tapak Suci memiliki keistimewaan tersendiri. Penetrasi dakwah Tapak Suci di luar negeri saya kira lebih maju daripada Muhammadiyah. Saat ini Tapak Suci telah eksis di 24 negara," ungkapnya.
Pencapaian tersebut, menurut Agung, harus menjadi modal untuk memperluas dakwah Muhammadiyah melalui pendekatan seni bela diri yang mengedepankan nilai-nilai Islam berkemajuan.
Lebih jauh, ia mengajak Tapak Suci memperluas orientasi pengembangannya. Selama ini pencak silat kerap dipandang hanya sebagai cabang olahraga prestasi dan arena kejuaraan. Padahal, Tapak Suci memiliki potensi besar sebagai instrumen pembinaan kesehatan masyarakat.
Ia menilai keberadaan puluhan Fakultas Kedokteran dan Fakultas Ilmu Keolahragaan di lingkungan PTMA membuka peluang besar bagi lahirnya kolaborasi riset mengenai manfaat Tapak Suci bagi kesehatan, rehabilitasi, kebugaran, hingga pencegahan penyakit. Dari sinilah gagasan pendirian Pusat Studi Silat di lingkungan PTMA menjadi sangat relevan untuk diwujudkan.
"Pengembangan Tapak Suci ke depan bukan hanya untuk prestasi dan kejuaraan, tetapi juga untuk kesehatan. PTMA memiliki banyak Fakultas Kedokteran dan Keolahragaan yang dapat menjadi mitra pengembangan, termasuk melalui pendirian Pusat Studi Silat," katanya.
Menutup amanatnya, Agung berharap Tanwir Tapak Suci Putera Muhammadiyah mampu menghasilkan langkah-langkah strategis untuk memperkuat organisasi sekaligus menghimpun seluruh kekuatan yang dimiliki.
Ia menegaskan bahwa konsolidasi organisasi harus menjadi prioritas agar seluruh potensi terbaik Tapak Suci dapat diakomodasi dan diberdayakan untuk kemajuan persyarikatan, umat, dan bangsa.
"Harapan kita, Tanwir ini menjadi langkah penting untuk mengonsolidasikan organisasi. Kita harus mampu mengakomodasi seluruh potensi terbaik yang dimiliki Tapak Suci agar semakin memberikan manfaat bagi Muhammadiyah dan masyarakat luas," pungkasnya. (diko)

