Bisnis dalam Islam Adalah Ibadah, Bukan Sekadar Cari Untung

Publish

4 August 2025

Suara Muhammadiyah

Penulis

1
1294
Foto Istimewa

Foto Istimewa

BANDUNG, Suara Muhammadiyah – Dosen Program Studi Ekonomi Syariah Universitas Muhammadiyah (UM) Bandung Yudi Haryadi menekankan pentingnya menjalankan bisnis secara etis dan bertanggung jawab sesuai dengan nilai-nilai Islam.

Hal tersebut ia sampaikan dalam kajian Gerakan Subuh Mengaji (GSM) Aisyiyah Jawa Barat yang berlangsung belum lama ini. Menurutnya, Islam telah mengatur secara jelas bagaimana etika bisnis harus dijalankan, termasuk tanggung jawab sosial yang melekat dalam aktivitas usaha.

Dalam pemaparannya, Yudi menyoroti berbagai praktik pelanggaran etika bisnis yang marak terjadi, seperti manipulasi takaran di pom bensin mini, penipuan harga di pasar, serta ketidakjelasan label halal pada produk. Ia menegaskan bahwa praktik-praktik tersebut sangat bertentangan dengan prinsip dasar bisnis dalam Islam yang menuntut kejujuran, keadilan, dan integritas sebagai landasan utama.

”Etika bisnis Islam menuntut pelaku usaha untuk menjunjung tinggi transparansi, kepatuhan terhadap hukum, kemudian tidak boleh mengabaikan tanggung jawab sosial terhadap masyarakat dan lingkungan. Bisnis yang berkelanjutan harus memperhatikan keseimbangan antara keuntungan ekonomi dengan kemaslahatan sosial dan pelestarian alam,” tegas Yudi.

Lebih jauh, Yudi menyampaikan bahwa dalam pandangan Islam, bisnis bukan semata aktivitas ekonomi, melainkan bagian dari ibadah. Oleh karena itu, tujuan utama aktivitas bisnis haruslah mencari keridaan Allah, bukan sekadar mengejar keuntungan materi. Ia mengajak para pelaku usaha untuk menjadikan nilai-nilai spiritual sebagai panduan dalam mengelola bisnis mereka.

Dalam menghadapi tantangan bisnis pada era digital, Yudi menekankan pentingnya penguasaan teknologi, peningkatan kualitas sumber daya manusia, dan penguatan pendidikan kewirausahaan berbasis nilai Islam. Pendekatan dakwah yang humanis, menurutnya, perlu diperluas untuk membangun kesadaran etika di kalangan pelaku UMKM dan masyarakat luas.

Yudi juga menyoroti pentingnya Corporate Social Responsibility (CSR) sebagai bentuk nyata dari tanggung jawab sosial perusahaan. CSR tidak boleh sekadar menjadi kewajiban administratif. Namun, harus menjadi bagian dari spiritualitas pengusaha muslim yang peduli terhadap pemberdayaan masyarakat dan pelestarian lingkungan.

Ia mengingatkan bahwa keberhasilan bisnis tidak hanya diukur dari laba semata, tetapi dari sejauh mana bisnis tersebut memberikan manfaat luas bagi umat. Bisnis yang dijalankan secara jujur dan adil akan membawa keberkahan serta membangun kepercayaan publik, yang pada akhirnya menciptakan usaha yang berkelanjutan dan profesional.

”Tentu kami berharap pelaku usaha, khususnya di lingkungan Muhammadiyah, dapat menginternalisasi prinsip-prinsip etika bisnis Islam dalam setiap aktivitasnya. Dengan begitu, bisnis tidak hanya berkembang secara ekonomi, tetapi berkontribusi positif bagi masyarakat dan lingkungan dalam bingkai nilai-nilai Islam yang rahmatan lil ‘alamin,” tandas Yudi.***(FA)


Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Berita

BUKITTINGGI, Suara Muhammadiyah – Lembaga Hikmah dan Kebijakan Publik (LHKP) Pimpinan Pusat Mu....

Suara Muhammadiyah

2 September 2025

Berita

SURAKARTA, Suara Muhammadiyah - Ketua Umum Pimpinan Pusat ‘Aisyiyah Salmah Orbayinah mengataka....

Suara Muhammadiyah

19 May 2024

Berita

YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah - Bertempat di Asrama Haji Yogyakarta,  Jln. Ringroad Utara No.1....

Suara Muhammadiyah

9 March 2024

Berita

SOLO, Suara Muhammadiyah – Puluhan anggota Majelis Pembinaan Kader dan Sumber Daya Insani (MPK....

Suara Muhammadiyah

28 July 2024

Berita

JAKARTA, Suara Muhammadiyah – Dalam rangka menyiapkan pengusaha Muhammadiyah masuk 100 orang t....

Suara Muhammadiyah

24 January 2025

Tentang

© Copyright . Suara Muhammadiyah