YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah – Bulan Ramadhan niscaya istimewa karena adanya puasa. Yakni menempa diri menjadi manusia bertakwa (al-muttaqin). Di lain sisi pun, bulan ini sekaligus dilaunching magnum opus Sang Pencipta berupa Al-Qur’an (nuzulul qur’an)
“Nuzulul Qur'an sebagai proses bersejarah turunnya Al-Qur'an atau diturunkannya wahyu oleh Allah melalui Malaikat Jibril kepada Rasulullah Muhammad Saw,” tutur Deni Asy’ari, Sabtu (7/3) di Grha Suara Muhammadiyah dalam Pengajian Nuzulul Qur’an.
Namun, diperdalam lebih membumi lagi, esensi nuzulul qur’an tidak hanya sekadar memperingati semata. Bagi Deni, yang sudah semestinyalah dilakukan umat Islam yaitu menuzululqur’ankan pada diri sendiri.
“Pada momen Nuzulul Qur'an kali ini tentu kita tidak ingin sekedar mengenang aspek historis dan proses bagaimana wahyu itu diturunkan dan seperti apa wahyu itu diturunkan, tetapi yang jauh lebih penting adalah menuzulkan Al-Qur'an pada diri kita,” kata Deni.
Artinya, umat Islam harus mengimplementasikan Al-Qur’an dalam kehidupan sehari-hari. Getaran kehidupannya mesti berbasiskan Al-Qur’an. Dan, tak ketinggalan menghidupkan pesan-pesannya dalam perilaku sehari-hari.
Lebih-lebih dalam konteks ekonomi jamaah (jam’iyyah). Tentu, menjadi fondasi spiritual dalam membangun kekuatan ekonomi yang berkeadilan.
“PR kita pada hari ini adalah menuzulkan Al-Qur'an pada diri kita dalam konteks bagaimana melahirkan spirit dalam gerakan ekonomi yang kita usung yaitu gerakan ekonomi berbasis jemaah,” terangnya. (Cris)
