Demi Bahagia di Dunia, Ada Dusta di antara Kita

Suara Muhammadiyah

24 July 2026

272
Foto Ilustrasi

Foto Ilustrasi

Demi Bahagia di Dunia, Ada Dusta di antara Kita

Oleh: Muhammad Fakhrudin

Dusta dilarang di dalam Islam. Allah Subhanahu wa Ta’ala menyiksa orang yang mendustakan ayat-ayat-Nya dan pada Rasul-Nya sebagaimana dijelaskan di dalam di dalam Al-Qur’an misalnya surat al-A’raf (7): 96

وَلَوْ اَنَّ اَهْلَ الْقُرٰٓى اٰمَنُوْا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكٰتٍ مِّنَ السَّمَاۤءِ وَالْاَرْضِ وَلٰكِنْ كَذَّبُوْا فَاَخَذْنٰهُمْ بِمَا كَانُوْا يَكْسِبُوْنَ

“Sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, niscaya Kami akan membukakan untuk mereka berbagai keberkahan dari langit dan bumi. Akan tetapi, mereka mendustakan (para rasul dan ayat-ayat Kami). Oleh karena itu, Kami menyiksa mereka disebabkan oleh apa yang selalu mereka kerjakan.”

Menurut Hamka, di dalam Tafsir Al-Azhar, berkah terdiri atas dua macam, yaitu berkah hakiki dan berkah maknawi. Berkah hakiki misalnya hujan yang menyuburkan bumi. Lalu, tumbuhlah berbagai macam tumbuhan. Tumbuh juga hutan. Keluarlah hasil bumi. Dapat pula berkah itu berupa terbukanya pikiran manusia dan dengan kemampuan berpikirnya itu manusia menggali bumi dan mendapat berbagai macam benda berharga yang terkandung di dalamnya seperti emas, perak, nikel, dan besi.

Sementara itu, berkah maknawi berwujud timbulnya pikiran yang baru dari petunjuk Allah Subhanahu wa Ta’ala dan wahyu yang dibawakan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam atau ilham yang ditumpahkan kepada orang-orang yang berjuang dengan ikhlas. Hanya orang beriman dan bertakwa yang menyadari hal tersebut sehingga mereka secara sungguh-sungguh berusaha melestarikan warisan nenek moyang yang berguna bagi kehidupan. Mereka tidak mendustai ayat-ayat Allah Subhanahu wa Ta’ala dan para Rasul-Nya.

Orang yang tidak beriman dan tidak bertakwa berbuat sebaliknya. Akibatnya berkah dan nikmat Allah Subhanahu wa Ta’ala itu dicabut. Hujan tidak lagi mendatangkan kesuburan tumbuhan, tetapi mendatangkan bencana. Kecerdasan intelektual pun mendatangkan bencana. Kecerdasan itu digunakan untuk berdusta.

Pengatur Rezeki

 Di dalam surat Yunus (10): 31 Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

قُلْ مَنْ يَّرْزُقُكُمْ مِّنَ السَّمَاۤءِ وَالْاَرْضِ اَمَّنْ يَّمْلِكُ السَّمْعَ وَالْاَبْصَارَ وَمَنْ يُّخْرِجُ الْحَيَّ مِنَ الْمَيِّتِ وَيُخْرِجُ الْمَيِّتَ مِنَ الْحَيِّ وَمَنْ يُّدَبِّرُ الْاَمْرَۗ فَسَيَقُوْلُوْنَ اللّٰهُۚ فَقُلْ اَفَلَا تَتَّقُوْنَ

“Katakanlah (Nabi Muhammad), “Siapakah yang menganugerahkan rezeki kepadamu dari langit dan bumi, siapakah yang kuasa (menciptakan) pendengaran dan penglihatan, siapakah yang mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup, serta siapakah yang mengatur segala urusan?” Oleh karena itu, mereka akan menjawab, “Allah” maka katakanlah, “Apakah kamu tidak takut (akan azab Allah)?”

Dari ayat tersebut kita ketahui bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala yang menganugerahkan rezeki dari langit dan bumi. Kita ketahui juga bahwa Dia berkuasa atas penciptaan pendengaran dan pelihatan; mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari hidup, dan mengatur segala urusan.

Oleh karena itu, semestinya setiap muslim menjemput rezeki sesuai dengan ketentuan yang ditetapkan-Nya. Di dalam surat al-Baqarah (2): 168 Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

يٰٓاَيُّهَا النَّاسُ كُلُوْا مِمَّا فِى الْاَرْضِ حَلٰلًا طَيِّبًاۖ وَّلَا تَتَّبِعُوْا خُطُوٰتِ الشَّيْطٰنِۗ اِنَّهٗ لَكُمْ عَدُوٌّ مُّبِيْنٌ

“Wahai manusia, makanlah sebagian (makanan) di bumi yang halal lagi baik dan janganlah mengikuti langkah-langkah setan. Sesungguhnya, ia bagimu merupakan musuh yang nyata.”

Di dalam Tafsir at-Tanwir dijelaskan bahwa seruan makan yang halal dan baik ditujukan kepada seluruh manusia, termasuk orang tidak beriman sekalipun. Dari penjelasan tersebut dapat kita pahami pula bahwa orang yang diseru tidak hanya orang Islam.

Di dalam tafsir tersebut dijelaskan pula tentang larangan mengikuti langkah-langkah setan. Contoh langkah setan adalah menjemput rezeki dengan minta tolong pada dukun karena langkah yang ditunjukkan oleh dukun pasti tidak mengenal jalan halal dan haram.  

Sementara itu, di dalam Tafsir Al-Azhar, Hamka menjelaskan bahwa rezeki yang halal dapat berubah menjadi haram, antara lain, karena cara memperolehnya. Hewan seperti sapi, kerbau, kambing dan ayam yang merupakan hewan halal dapat menjadi haram jika diperoleh dengan jalan mencuri atau tipu daya, baik halus maupun paksaan, dan segan-menyegan. 

Berdasarkan kedua tafsir tersebut, dapat kita ketahui bahwa transaksi jual beli yang di dalamnya terdapat dusta,  misalnya penggelembungan anggaran, berarti haram. 

Perintah menjemput rezeki dengan cara yang baik dapat ketahui juga di dalam HR Ibnu Majah. Di dalam hadis berikut dijelaskan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا اللَّهَ وَأَجْمِلُوا فِى الطَّلَبِ فَإِنَّ نَفْسًا لَنْ تَمُوتَ حَتَّى تَسْتَوْفِىَ رِزْقَهَا وَإِنْ أَبْطَأَ عَنْهَا فَاتَّقُوا اللَّهَ وَأَجْمِلُوا فِى الطَّلَبِ خُذُوا مَا حَلَّ وَدَعُوا مَا حَرُمَ

“Wahai manusia bertakwalah kepada Allah dan pilihlah cara yang baik dalam mencari rezeki karena tidaklah suatu jiwa akan mati hingga terpenuhi rezekinya. Walau lambat, rezeki tersebut sampai kepadanya. Oleh karena itu, bertakwalah kepada Allah dan pilihlah cara yang baik dalam mencari rezeki. Ambillah rezeki yang halal dan tinggalkanlah rezeki yang haram” 

Telah Diprediksi

Rasulullah shalllahu ‘alaihi wa sallam telah mempredikasi bahwa akan datang suatu masa yang pada masa itu orang tidak lagi memedulikan lagi halal atau haramnya cara menjemput rezeki. Hal tersebut dijelaskan di dalam HR al-Bukhari,

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: "لَيَأْتِيَنَّ عَلَى النَّاسِ زَمَانٌ لَا يُبَالِي الْمَرْءُ بِمَا أَخَذَ الْمَالَ أَمِنْ حَلَالٍ أَمْ مِنْ حَرَامٍ" 

“Dari Abu Hurairah radiaallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, Akan datang suatu masa pada umat manusia, mereka tidak lagi peduli dengan cara untuk mendapatkan harta: apakah melalui cara yang halal atau yang haram.” 

Jika isi sabdanya tersebut kita hubungkan dengan kenyataan saat ini di Indonesia, kiranya sangat relevan. Korupsi terjadi di mana-mana. Pelakunya bukan orang biasa. 

Mereka tahu bahwa korupsi, penggelembungan anggaran, menyuap, menerima suap itu haram. Mereka tahu bahwa tindakan itu melanggar hukum, tetapi dilakukannya juga. 

Praktik penggelembungan anggaran dapat terjadi atas inisiatif “pembeli” dan dapat pula atas kesepakatan pembeli dan penjual. Dengan kata lain, mereka bersekongkol. Dalam konteks ini “pembeli” tampak "bahagia" karena uang yang digunakannya bukan uang sendiri. 

Kiranya sulit dibantah bahwa ada dusta di antara kita dalam hal menjemput rezeki. Ada yang serakah. Ada yang membalak hutan. Ada yang gila-gilaan mengeksploitasi sumber daya alam seperti nikel, emas, perak, dan besi. Ada pula yang mengeksploitasi air.  

Hilang Keberkahan

Rezeki yang diperoleh dengan jalan haram tidak mendatangkan keberkahan sebagaimana dijelaskan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di dalam HR al-Bukhari dan HR Muslim,

الْبَيِّعَانِ بِالْخِيَارِ مَا لَمْ يَتَفَرَّقَا فَإِنْ صَدَقَا وَبَيَّنَا بُورِكَ لَهُمَا فِى بَيْعِهِمَا وَإِنْ كَذَبَا وَكَتَمَا مُحِقَتْ بَرَكَةُ بَيْعِهِمَا

“Orang yang bertransaksi jual beli masing-masing memilki hak khiyar (membatalkan atau melanjutkan transaksi) selama keduanya belum berpisah. Jika keduanya jujur dan terbuka, maka keduanya akan mendapatkan keberkahan dalam jual beli, tetapi jika keduanya berdusta dan tidak terbuka, maka keberkahan jual beli antara keduanya akan hilang.”

Sementara itu, di dalam HR ath-Thabrani dijelaskan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

كُلُّ لَحْمٍ وَدَمٍ نَبَتَا مِنْ سُحْتٍ فَالنَّارُ أَوْلَى بِهِمَا

“Setiap daging dan darah yang tumbuh dari perkara haram, maka neraka lebih utama terhadap keduanya.” 

Na’uzubillah!


Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Wawasan

Ketika Idul Fitri Diuji Bukan Oleh Kemiskinan, Tapi Cara Kita Meminta Oleh: Nashrul Mu'minin ....

Suara Muhammadiyah

27 March 2026

Wawasan

Pertaruhan Menjaga Marwah Pesantren Muhammadiyah Tanpa Kekerasan Seksual Oleh: Agus Rosid, Pekerja ....

Suara Muhammadiyah

12 May 2026

Wawasan

Mengenali Fatwa Tarjih Muhammadiyah Oleh: Prahasti Suyaman Perkembangan ilmu pengetahuan dan tekn....

Suara Muhammadiyah

28 August 2024

Wawasan

Mukjizat di Balik Hukum Alam: Memahami Kuasa Ilahi di Tengah Tantangan Hidup Oleh: Donny Syofyan, D....

Suara Muhammadiyah

13 August 2025

Wawasan

Harapan Dunia dan Akhirat dalam Timbangan Al-Qur’an dan As-Sunnah Oleh: Suko Wahyudi, PRM Tim....

Suara Muhammadiyah

17 December 2025

Tentang

© Copyright . Suara Muhammadiyah