BEKASI, Suara Muhammadiyah - Di atas permukaan kolam yang tenang, sebuah speedboat kecil bergerak perlahan tanpa awak. Ukurannya tidak besar—lebar atap 215 sentimeter, lebar bawah 152 sentimeter, panjang bawah 332 sentimeter, dan tinggi 187 sentimeter—namun kehadirannya mengubah suasana. Ketika mesin menyala otomatis dan pakan mulai ditebar sesuai jadwal, riak air mendadak pecah. Ikan-ikan bermunculan, meloncat, berebut butiran pakan yang turun teratur dari lambung perahu pintar itu.
Inilah perahu pakan ikan otonom, inovasi karya Taufiqur Rokhman bersama Aeri Sujatmiko, dua dosen Fakultas Teknik Mesin dan Elektro di Universitas Muhammadiyah Indonesia (UM Indonesia), kampus yang bertransformasi dari Universitas Islam 45 Bekasi (UNISMA Bekasi). Dari ruang laboratorium, keduanya menghadirkan teknologi yang berpotensi mengubah wajah budidaya perikanan air tawar di Indonesia.
Perahu ini bukan sekadar alat penebar pakan. Sistem di dalamnya dirancang untuk bekerja sepenuhnya otomatis:
1. Mengatur jadwal pemberian pakan
2. Menentukan jumlah pakan yang ditebar
3. Menyalakan dan mematikan mesin secara mandiri
4. Bergerak mengikuti rute yang telah diprogram
Seluruh proses berlangsung tanpa campur tangan manusia. Konsistensi menjadi kunci—sesuatu yang sering sulit dijaga dalam praktik budidaya tradisional.
“Seluruh proses berjalan otomatis sehingga lebih konsisten dan hemat tenaga,” ujar Taufiqur saat memaparkan hasil risetnya. Kalimat itu terdengar sederhana, tetapi di baliknya tersimpan persoalan klasik yang selama ini dihadapi pembudidaya: ketergantungan pada tenaga manusia, ketidakteraturan jadwal pakan, hingga pemborosan biaya operasional.
Dengan sistem otonom, ritme pemberian pakan menjadi presisi. Ikan tumbuh lebih seragam, tingkat stres menurun, dan efisiensi pakan meningkat—faktor yang sangat menentukan keuntungan pembudidaya.
Perjalanan inovasi ini tidak lahir dalam semalam. Dukungan datang melalui hibah Program Dana Padanan tahun 2025, yang memungkinkan riset dikembangkan dari tahap konsep hingga prototipe fungsional.
Kolaborasi lintas disiplin juga menjadi kekuatan penting. Penelitian melibatkan HJ. Lis Setyowati dari Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Pemuda, serta M. Husen Hutagalung dari Institut Pariwisata Trisakti. Mahasiswa turut ambil bagian sejak proses desain, perakitan, hingga pengujian lapangan.
Keterlibatan banyak pihak ini menunjukkan bahwa inovasi teknologi tidak berdiri sendiri. Ia membutuhkan ekosistem—akademisi, pendanaan, dan generasi muda—agar benar-benar hidup dan memberi dampak.
Bagi Taufiqur, perahu otonom ini bukan hanya solusi teknis. Ia melihatnya sebagai pintu masuk menuju ekosistem perikanan yang lebih mandiri dan bernilai ekonomi tinggi.
Di banyak daerah, budidaya ikan masih bergantung pada cara manual. Ketika tenaga kerja terbatas atau cuaca buruk menghambat aktivitas, jadwal pakan terganggu. Dampaknya langsung terasa pada pertumbuhan ikan dan pendapatan petani.
Teknologi otonom menawarkan jalan keluar:
1. Efisiensi biaya tenaga kerja
2. Peningkatan produktivitas kolam
3. Standarisasi kualitas panen
4. Peluang integrasi dengan sistem digital dan Internet of Things
Jika dikembangkan lebih luas, sistem ini bahkan dapat terhubung dengan sensor kualitas air, pemantauan jarak jauh, hingga analisis data produksi. Budidaya ikan tidak lagi sekadar pekerjaan fisik, melainkan praktik berbasis teknologi.
Menariknya, riset ini juga membuka peluang di sektor lain: wisata edukasi perikanan. Kolam dengan perahu pakan otomatis memiliki daya tarik visual dan teknologi yang unik. Pengunjung dapat menyaksikan langsung bagaimana ikan merespons sistem pemberian pakan cerdas—sebuah pengalaman yang memadukan edukasi, rekreasi, dan ekonomi lokal.
Di sinilah kolaborasi dengan akademisi pariwisata menemukan relevansinya. Teknologi tidak hanya meningkatkan produksi, tetapi juga menciptakan nilai tambah bagi daerah.
Langkah Taufiqur dan tim mungkin berawal dari satu prototipe di sebuah kolam uji. Namun gagasan di baliknya jauh lebih besar: kemandirian pangan berbasis inovasi lokal.
Indonesia adalah negara dengan potensi perikanan air tawar yang luas. Jika teknologi pakan otonom dapat diproduksi massal dengan biaya terjangkau, dampaknya bisa menjangkau ribuan pembudidaya—meningkatkan produksi, menekan biaya, dan memperkuat ketahanan pangan nasional.
Di tengah tantangan global dan perubahan iklim, inovasi sederhana namun tepat guna seperti ini justru menjadi kunci.
Perahu kecil itu terus bergerak di atas air, menebar pakan dengan ritme yang tak pernah lelah. Dari sana, sebuah harapan tumbuh pelan: bahwa masa depan perikanan Indonesia mungkin sedang berlayar—tanpa awak, tetapi penuh arah. (Achsin)

