KLATEN, Suara Muhammadiyah – Di era serba digital, akses terhadap kitab hadis kini tak lagi harus repot membuka puluhan jilid buku fisik. Namun, tidak semua guru madrasah memiliki kemampuan memanfaatkan aplikasi hadis digital untuk memverifikasi keaslian hadis Nabi SAW. Kondisi inilah yang mendorong tim dosen Universitas Ahmad Dahlan (UAD) Yogyakarta menggelar pelatihan literasi hadis berbasis aplikasi digital di MIM Taskombang, Manisrenggo, Klaten, 16 Mei 2026.
Putri, salah satu guru MIM Taskombang, mengakui bahwa para pendidik di madrasahnya selama ini masih bertumpu pada buku-buku hadis cetak yang jumlahnya terbatas. “Proses mencari dan memeriksa derajat hadis memakan waktu lama,” ujarnya.
Kegundahan itulah yang coba dijawab oleh tim pengabdian kepada masyarakat (PkM) UAD. Ketua Tim, Rahmadi Wibowo Suwarno, Lc., M.A., M.Hum., menegaskan bahwa guru madrasah Muhammadiyah wajib memastikan setiap hadis yang diajarkan memiliki sanad yang jelas dan derajat yang kuat. “Kami tidak ingin pembelajaran hadis di madrasah justru menyebarkan hadis dha’if apalagi maudhu’. Ini masalah kehati-hatian dalam beragama,” tegas dosen Ilmu Hadis UAD itu.
Untuk menjawab kebutuhan tersebut, tim yang beranggotakan Fauzan Muhammad, Lc., LL.M., Ph.D., dan Muh Saeful Effendi, M.Pd.B.I., merancang pelatihan dalam dua tahap. Tahap pertama berfokus pada penguatan teori takhrij (verifikasi hadis) dan pengenalan aplikasi Hadissoft. Tahap kedua berupa praktik langsung: menginstal aplikasi, mencari hadis berdasarkan kata kunci, membandingkan redaksi antarkitab, hingga menentukan derajat hadis.
Hasil pelaksanaan pelatihan literasi hadis digital ini cukup menggembirakan. Para guru yang sebelumnya kurang terbiasa dengan teknologi kini menunjukkan peningkatan kemampuan yang signifikan. Mereka tidak lagi merasa canggung atau ragu dalam mengoperasikan perangkat digital. Kecepatan akses terhadap berbagai kitab hadis digital sangat membantu proses pencarian referensi. Ketepatan dalam memilih sumber yang kredibel juga menjadi kebiasaan baru yang terbentuk.
Sebagai langkah nyata untuk mendukung keberlanjutan program, tim pelatihan menghasilkan modul pelatihan literasi hadis berbasis aplikasi digital.
Modul ini dirancang agar dapat diakses kapan saja dan di mana saja oleh para guru. Isinya mencakup panduan teknis, latihan interaktif, serta daftar sumber hadis terpercaya. Keberadaan modul ini memungkinkan guru untuk belajar mandiri setelah pelatihan resmi selesai.
Tidak hanya aspek teknis yang diperhatikan, kegiatan ini juga menanamkan nilai-nilai Risalah Islam Berkemajuan. Salah satu nilai yang ditekankan adalah sikap tabayyun, yaitu verifikasi kebenaran informasi sebelum menyebarkannya. Nilai lainnya adalah tajdid, yang bermakna pembaruan dalam memahami dan mengajarkan ajaran Islam. Kedua nilai ini menjadi fondasi etis dalam penggunaan teknologi digital untuk studi hadis. Para guru didorong untuk tidak mudah menerima informasi tanpa melakukan penelusuran mendalam.
Melalui aplikasi digital yang diperkenalkan, para guru diajak untuk menyampaikan Islam yang mencerahkan, rasional, dan kontekstual dengan kehidupan masa kini. Pendekatan ini membantu menghindarkan pemahaman keagamaan yang kaku atau tekstual semata. Guru juga dilatih untuk menghubungkan pesan hadis dengan realitas sosial dan tantangan zaman modern.
Hasilnya, pembelajaran agama menjadi lebih hidup dan relevan bagi Murid. Nilai-nilai Islam dan Kemuhanmadiyahan yang rahmatan lil 'alamin pun lebih mudah diinternalisasi.
Pelatihan ini turut mendukung target Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) poin ke-4 tentang Pendidikan Berkualitas.
Dengan adanya guru yang kompeten dalam literasi hadis digital, proses belajar mengajar di madrasah diharapkan menjadi lebih otentik. Pembelajaran yang variatif dan tidak tertinggal oleh perkembangan zaman dapat segera diwujudkan. (H.A)

