Efisiensi Energi, Dakwah Ramah Lingkungan yang Sesungguhnya

Suara Muhammadiyah

21 August 2025

805
Training of Trainers (ToT) Audit Energi dan Penguatan Dakwah Ramah Lingkungan Muhammadiyah (21/8).

Training of Trainers (ToT) Audit Energi dan Penguatan Dakwah Ramah Lingkungan Muhammadiyah (21/8).

YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah – Bangunan ternyata menjadi salah satu penyumbang terbesar konsumsi energi sehari-hari. Dari pencahayaan, pendingin ruangan, hingga perangkat elektronik, semua membutuhkan energi yang tidak sedikit. Hal ini diungkapkan oleh Rachmawan Budiarto, Dosen Teknik Fisika Universitas Gadjah Mada, dalam acara Training of Trainers (ToT) Audit Energi dan Penguatan Dakwah Ramah Lingkungan Muhammadiyah, program kolaborasi antara 1000 Cahaya dengan LPCRPM Pimpinan Pusat Muhammadiyah (20/8).

Rachmawan menjelaskan, sebagian besar bangunan masih bergantung pada energi listrik dari jaringan umum. Namun, beberapa institusi mulai melengkapi diri dengan sumber energi alternatif, seperti genset maupun Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS). Kehadiran sumber energi terbarukan ini bukan hanya mengurangi ketergantungan pada pasokan eksternal, tetapi juga membantu menekan emisi karbon.

Menurutnya, memahami konsumsi energi bukan hanya soal menghitung besar daya dalam satuan watt, tetapi juga melihat energi dalam jangka waktu tertentu—misalnya kilowatt-jam (kWh). “Perbedaan utama daya dan energi terletak pada waktu. Energi memperhitungkan durasi pemakaian,” jelasnya.

Pola konsumsi energi pun bersifat fluktuatif, bergantung pada waktu dan aktivitas. Sebagai contoh, ruang kelas akan menyerap energi lebih banyak saat jam kuliah berlangsung. Sedangkan di malam hari atau saat libur, pemakaian turun signifikan. Jika ditotal, konsumsi energi institusi merupakan akumulasi dari seluruh ruang dan fasilitas yang ada.

Dalam audit energi, tiga variabel penting biasanya menjadi tolok ukur. Pertama, intensitas konsumsi energi (jumlah energi per meter persegi bangunan per tahun). Kedua, biaya operasional (pengeluaran untuk listrik dan bahan bakar). Ketiga, intensitas emisi karbon (jumlah emisi gas rumah kaca per tahun). Semakin rendah angka-angka tersebut, semakin efisien dan ramah lingkungan operasional sebuah bangunan.

“Melalui pemahaman ini, kita bisa mengelola energi dengan lebih bijak, sekaligus mengintegrasikan semangat dakwah ramah lingkungan di Muhammadiyah,” tegas Rachmawan. (diko)


Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Berita

JAKARTA, Suara Muhammadiyah - Kepala Badan Penjaminan Mutu Universitas Muhammadiyah Jakarta (BPM UMJ....

Suara Muhammadiyah

27 July 2024

Berita

BATAM, Suara Muhammadiyah – Gerakan menuju Green Hajj atau Haji Ramah Lingkungan kembali digau....

Suara Muhammadiyah

16 October 2025

Berita

SLEMAN, Suara Muhammadiyah - Pasca Muktamar Nasyiatul Aisyiyah  ke XIV, peta jalan NA periode 2....

Suara Muhammadiyah

14 October 2023

Berita

MALANG, Suara Muhammadiyah – Temu Bisnis Akbar Serikat Usaha Muhammadiyah Malang x Jatim Happy....

Suara Muhammadiyah

18 December 2024

Berita

SURAKARTA, Suara Muhammadiyah- Baru-baru ini, lembaga pemeringkatan Webometrics merilis daftar kampu....

Suara Muhammadiyah

6 February 2025

Tentang

© Copyright . Suara Muhammadiyah