Gerakan Perempuan Mengaji ‘Aisyiyah DIY Waspada Inses

Publish

20 June 2026

Suara Muhammadiyah

Penulis

0
101
Foto Istimewa

Foto Istimewa

Mencegah Terjadinya Hubungan Seks Sedarah dan Solusinya

YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah - Dalam rangka meningkatkan peran ‘Aisyiyah dalam penguatan ketahanan keluarga, maka Majelis Tabligh dan Ketarjihan (MTK) Pimpinan Wilayah ‘Aisyiyah (PWA) DIY menggelar kembali Gerakan Perempuan Mengaji (GPM) pada Ahad, 14 Juni 2026, di aula Gedung AR Fachrudin B Kampus Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) Jalan Brawijaya,Tamantirto, Kasihan, Bantul, DIY. 

Dihadiri oleh PWA DIY, MTK dan Perwakilan Majelis dan Lembaga PWA DIY, Korps Muballighat ‘Aisyiyah (KMA) DIY, Para Muballighat bersama MTK dari seluruh daerah di DIY. Dan karena masih adanya kasus-kasus yang terkait hubungan sedarah dengan berbagai dampak yang melingkupinya, maka tema kajian yang diangkat adalah “Peran ‘Aisyiyah dalam Mencegah Terjadinya Hubungan Seks Sedarah dan Solusinya.”

Sambutan PWA DIY, disampaikan oleh Wakil Ketua Koordinator Bidang Tabligh, Dyah Sulistyawati, S.Pd, M.Pd. yang menyampaikan bahwa banyak terjadi hubungan seks sedarah (inses) adalah karena kurangnya pondasi agama, disinilah ‘Aisyiyah dituntut untuk meningkatkan perannya dalam dakwah penguatan keluarga dengan memberi edukasi pada masyarakat tentang resikonya, karena secara medis mengakibatkan resiko kelainan genetis, seperti cacat bawaan hambatan mental seperti syndroma down atau yang lainnya. Dyah yang juga kepala SLB negeri 2 Yogyakarta juga mengungkapkan pengalamannya saat melakukan assesmen menemukan ABK (Anak Berkebutuhan Khusus) banyak yang akibat hubungan sedarah (kerabat dekat).  

“Sangat pas kalau dalam GPM ini MTK PWA DIY mengangkat tema kajian tentang peran kita ‘Aisyiyah dalam mencegah terjadinya hubungan sedarah, karena resikinya yang sangat berat, terutama untuk generasi penerus.” Tegasnya. Selanjutnya Dyah memberi beberapa pesan untuk pencegahan dengan membangun tauhid yang kuat dan ahlak mulia, membangun komunikasi terbuka dalam keluarga sehingga kalau sedang mengalami masalah bisa bercerita yang ditanamkan sejak dini, seperti berani mengatakan  tidak kalau ada sentuhan tidak patut sekecil apapun.

Dra. Hj. Hasta Dewi Ketua MTK PWA DIY, dalam sambutannya mengemukakan rasa syukurnya dipertemukan kembali para aktivis perempuan berkemajuan yang sangat beragam dari seluruh DIY dalam acara GPM yang rutin digelar setiap 3 bulan sekali. “Mari kita semarakkan pengajian-pengajian ‘Aisyiyah dari wilayah daerah cabang dan ranting sesuai dengan tagline pengajian kita “Ngaji Menyenangkan dan Mencerahkan.” Kita hadirkan suasana nyaman senang semua orang untuk hadir, dengan berbagi ilmu, ada pojok kesehatan, bazar produk ‘aisyiyah dan yang lainnya.” Ajaknya.  Selanjutnya Hasta mengemukakan bahwa sesuai dengan semangat dakwah amar ma'ruf nahi munkar, ‘Aisyiyah juga terus bergerak untuk mencegah hal-hal yang tidak diinginkan, seperti hubungan sedarah yang dilarang dalam Islam karena untuk menjaga kehormatan manusia. 

“Karena larangan hubungan sedarah dalam Islam bukan sekadar aturan tanpa makna, melainkan bentuk perlindungan terhadap manusia, keluarga, dan generasi mendatang. Dan hari ini kita menghadirkan Ibu dr. Ida Rochmawati, M. Sc., Sp. Kj.  staff ahli Bupati Gunung Kidul yang akan memperkaya perspektif kita dari ahlinya di bidang kesehatan. Kita sangat berharap para Muballighat ‘Aisyiyah semakin giat menyampaikan edukasi melalui pengajian-pengajian, di BKIKSA supaya tidak terjadi hubungan/perkawinan sedarah.” Ujarnya.

Sebagai pemateri dalam GPM MTK PWA DIY tersebut adalah dr. Ida Rochmawati, M. Sc., Sp. Kj. Dokter influencer yang pernah menjadi ketua PCNA (Pimpinan Cabang Nasyiatul ‘Aisyiyah) Paliyan, memulai dengan penjelasan antara Nafsu dan Cinta yang segar dan menarik. Berbicara  tentang seks dan seksualitas manusia yang tidak hanya dipengaruhi faktor sosial dan lingkungan, tetapi yang terutama merupakan hasil kerja kompleks antara otak dan hormon. Otak, sebagai "pusat kendali" kerja antara PFC (Pre Frontal Cortex) sebagai komandan pengambil keputusan, Amigdala untuk perlindungan diri, dan Hippocampus yang mengkonsolidasikan ingatan untuk referensi akan mengatur hasrat, emosi, serta ikatan emosional. Sementara itu, hormon seperti testosteron, estrogen, oksitosin, dan dopamin bekerja untuk memperkuat rasa tertarik, gairah, hingga ikatan kasih sayang. 

Selanjutnya Dokter Ida yang pernah mendapatkan penghargaan Pemerintah Provinsi DIY kategori Gender Champions 2019 mengemukakan tentang proses jatuh cinta terbagi dalam 3 bentuk. Pertama adalah “Lust” atau hasrat seksual yang didominasi oleh hormon testosteron dan estrogen, ketertarikan fisik (hasrat seksual). Kedua adalah “Attraction” atau tarik-menarik romantis yang dipengaruhi oleh dopamin yang menimbulkan rasa bahagia, norepinephrine yang menciptakan sensasi kuat, dan serotonin yang menimbulkan kecemasan. Ketiga adalah “Attachment” atau keterikatan yang diperkuat oleh hormon oksitosin dan vasopresin. Jika disederhanakan, “Lust” sebagai "aku menginginkan tubuhmu", “Attraction” sebagai "aku ingin bersamamu", dan “Attachment” sebagai "aku merasa aman dan nyaman denganmu".

Batasan ketertarikan seksual pada saudara kandung dapat dijelaskan melalui beberapa aspek. Pertama, dari sisi biologis dan perkembangan, dikenal dengan Efek Westermarck. Manusia yang tumbuh bersama sejak kecil cenderung mengembangkan mekanisme psikologis yang menekan munculnya ketertarikan seksual satu sama lain, karena otak mengasosiasikan mereka sebagai keluarga. Kedua, ada aspek perlindungan genetik, kenyataan dengan adanya hubungan sedarah berisiko menyebabkan gen resesif yang buruk bertemu dan bersatu, sehingga meningkatkan peluang lahirnya keturunan dengan kelainan. Ketiga, sistem penghargaan otak juga bekerja berbeda pada hubungan keluarga. Rasa kasih sayang dalam keluarga tidak mengaktifkan jalur dopamin yang sama seperti pada hubungan romantis. 

Selain faktor biologis, terutama Islam sangat melarang hubungan/perkawinan sedarah (mahram) demikian juga dengan norma sosial dan budaya di seluruh dunia juga melarang hubungan seksual terutama antar saudara kandung. Dokter Ida memberi beberapa rekomendasi, untuk mencegah terjadinya hubungan sedarah, yaitu : menetapkan batasan peran keluarga yang jelas dengan prinsip "dekat tetapi tidak romantis", memberikan pendidikan seksual yang tepat termasuk menjaga anggota tubuh dan menyadari bahwa suara pun bisa menimbulkan dorongan seksual, menghindari ketergantungan emosional yang berlebihan, serta peka terhadap tanda-tanda awal pergeseran batas.

(S. Intani) 


Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Berita

YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah - Di tengah pragmatisme gerakan, Dewan Perwakilan Daerah (DPD) Ikatan....

Suara Muhammadiyah

12 July 2025

Berita

KLATEN, Suara Muhammadiyah – Tata kelola keuangan yang baik menjadi kunci utama dalam menjaga ....

Suara Muhammadiyah

27 September 2024

Berita

OGAN ILIR, Suara Muhammadiyah - SMK Muhammadiyah Tanjung Raja turut berpartisipasi dalam pameran pro....

Suara Muhammadiyah

8 January 2025

Berita

KUALA LUMPUR, Suara Muhammadiyah - Di penghujung masa libur semester, dua orang pengurus Pesantren M....

Suara Muhammadiyah

22 February 2024

Berita

MAKASSAR, Suara Muhammadiyah - Pondok Pesantren Puteri Ummul Mukminin ‘Aisyiyah Wilayah Sulawe....

Suara Muhammadiyah

10 December 2025

Tentang

© Copyright . Suara Muhammadiyah