Gurunya Muhammadiyah Bukan Guru Biasa

Suara Muhammadiyah

19 January 2026

747
Dok Istimewa

Dok Istimewa

LIMAPULUH KOTA, Suara Muhammadiyah - Dalam gelaran apel akbar menyambut seabad Muhammadiyah di Minangkabau, para guru Muhammadiyah mendapat penegasan peran yang lebih dahsyat. Mereka bukan lagi sekadar pengajar kurikulum, melainkan arsitek kecerdasan dan penjaga cahaya spiritual generasi penerus, dengan berpedoman pada metode kenabian.

Dr. Irwandi Nashir, akademisi UIN Bukittinggi, dalam paparannya yang memadukan tafsir Al-Qur'an dan neurosains, menjelaskan bahwa esensi kepemimpinan profetik seorang guru Muhammadiyah dimulai dari menjadi "saksi" (syahid) yang aktif.

"Menjadi saksi bagi siswa berarti memahami bahwa setiap interaksi kita di kelas langsung berdialog dengan 100 miliar sel otak mereka," ujarnya. Setiap stimulus pendidikan yang diberikan seorang guru Muhammadiyah berperan membentuk dan menguatkan triliunan koneksi saraf (sinapsis) pada otak anak didik. Di sinilah peran guru sebagai "arsitek sinapsis" dimainkan—merancang pengalaman belajar yang tidak hanya menambah pengetahuan, tetapi secara fisik membangun jaringan kecerdasan yang kokoh.

Namun, warisan Muhammadiyah yang rasional dan berkemajuan menuntut lebih dari itu. Setelah fondasi kognitif terbangun, guru Muhammadiyah harus naik tingkat perannya. Berdasarkan tuntunan Surah Al-Ahzab, mereka dipanggil untuk menjadi pembawa kabar gembira (mubasysyiraa) yang memotivasi, pemberi peringatan (nadziiraa) yang mengingatkan, dan pemandu menuju kebaikan.

Puncak dari semua peran itu adalah menjadi "cahaya yang menerangi" (siraajan muniiraa). "Ini adalah mandat spiritual," tegas Irwandi. Sebagai cahaya, guru Muhammadiyah bertugas menghalau kegelapan ketidaktahuan dan keraguan. Mereka tidak hanya mentransfer ilmu, tetapi menyalakan pelita akhlak dan karakter dalam jiwa setiap siswa, memastikan kecerdasan yang dibangun berpadu dengan kebijaksanaan dan iman.

Pesan ini diperkuat oleh Wakil Bupati Lima Puluh Kota, Ahlul Badrito Resha, yang mengingatkan akar sejarah perjuangan di tanah tersebut. "Semangat PDRI yang gigih mempertahankan kedaulatan harus diwariskan oleh guru Muhammadiyah kepada anak didik," pesannya. Guru Muhammadiyah diharapkan tidak hanya menguasai materi, tetapi juga memiliki modal sosial dan sejarah untuk membentuk identitas generasi yang tangguh dan mencintai tanah air.

Acara yang dihadiri 250 guru ini menjadi deklarasi komitmen baru. Dengan bekal paradigma profetik dan sains modern, guru-guru Muhammadiyah siap mendidik dengan cara yang holistik: membangun otak yang cemerlang sekaligus menyalakan hati yang bertaqwa, untuk melahirkan generasi yang tidak hanya pandai, tetapi juga menjadi pelita bagi umat dan bangsa.


Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Berita

BATAM, Suara Muhammadiyah – Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kota Batam menggelar kegiatan buka pu....

Suara Muhammadiyah

14 March 2026

Berita

YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah - Krisis iklim yang melanda dunia saat ini, membutuhkan lebih banyak ....

Suara Muhammadiyah

12 January 2024

Berita

ASAHAN, Suara Muhammadiyah - Bertempat di Hotel Sabty Garden Asahan, SMA Muhammadiyah 8 Kisaran &nbs....

Suara Muhammadiyah

4 March 2024

Berita

YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah - Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Haedar Nashir berharap MoU a....

Suara Muhammadiyah

31 July 2025

Berita

YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah – “Memajukan Kesejahteraan Bangsa”, menjadi tema ya....

Suara Muhammadiyah

1 October 2025

Tentang

© Copyright . Suara Muhammadiyah