Haedar Nashir Ajak Pimpinan PTMA Ambil Peran Leadership

Suara Muhammadiyah

14 July 2026

99
Leadership Training PTMA angkatan XII

Leadership Training PTMA angkatan XII

YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah – Tercatat sebanyak 51 pimpinan Perguruan Tinggi Muhammadiyah dan Aisyiyah (PTMA) berkumpul di ballroom Student Dormitory UMY. Mereka duduk membentuk huruf U. Masing-masing mengenakan tanda pengenal bertuliskan, “Peserta Leadership Training Pimpinan PTMA.” Beberapa peserta bersiap dengan pulpen dan kertas, sebagian yang lain mengandalkan ingatan.

Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Haedar Nashir dalam amanatnya menegaskan bahwa kegiatan ini amat sangat penting. Leadership menurutnya menjadi faktor utama penentu kemajuan dan kesuksesan sebuah institusi pendidikan tinggi. Melalui kepemimpinanlah seorang rektor atau wakil rektor dapat membedakan mana agenda yang bersifat operasional dan mana yang bersifat strategis. Dan untuk mengelola keduanya secara tersistem, diperlukan kekayaan pemikiran.

“Memimpin adalah melakukan pilihan-pilihan,” ujarnya.

Meski bukan sesuatu yang mudah, memimpin merupakan seni yang menuntut seseorang untuk memaksimalkan seluruh potensi diri. Memimpin berarti menjadi aktor yang bertindak dan kemudian memberikan dampak. Dan untuk menjadi aktor yang sejati, diperlukan proses pergumulan yang panjang dan letih. Karena hanya melalu pengalaman, seorang pemimpin akan tahu dan mampu melihat yang penting dari yang terpenting.

“Poinnya adalah, agenda seperti ini penting, karena kita dipaksa untuk terus belajar,” ia menegaskan sekali lagi.

Baginya, seorang pemimpin PTMA harus mampu menerjemahkan visi Persyarikatan ke dalam perguruan tinggi yang ia pimpin. Mentranformasikan segala ide serta gagasan Islam berkemajuan pada etos dan daya juang yang tak kenal lelah. Namun, tanpa pikiran yang maju dan terbuka, serta dibarengi dengan mentalitas yang kuat, langkah-langkah transformatif tersebut akan sulit diwujudkan. 

“Maka saya bepesan kepada segenap pimpinan PTMA, biasakan diri untuk mengambil peran kepemimpinan, jangan bersembunyi,” ujarnya dihadapan para akademisi Muhammadiyah.

Menurutnya, Tuhan selalu memberi manusia kesempatan untuk berkembang dan naik kelas. Namun sayang, tidak semua manusia mau mengambil kesempatan itu. Yang pada akhirnya, instansi pendidikan tinggi yang ia pimpin tidak mengalami kemajuan yang berarti, bahkan stagnan dan kemudian mati secara mengenaskan. 

Untuk mengatisipasi hal itu terjadi, Haedar mengajak pimpinan perguruan tinggi untuk kembali mempertajam 5 visi di PTMA. Pertama, memperkuat konsep, norma, dan nilai gerakan Muhammadiyah. Dalam hal ini, Al-Islam dan kemuhammadiyahan sejatinya menjadi sebuah nilai yang menghidupi, sekaligus kerangka untuk membangun ekosistem PTMA yang unggul dan berkemajuan. “Dari dalam, ini bisa menjadi kekuatan PTMA di masa yang akan datang. Dari luar, Al-Islam dan kemuhammadiyahan menjadi distingtif kita,” ucap Haedar.

Kedua, membenahi pimpinan dan organisasi di PTMA. Salah satunya melakukan reformasi etos kerja menjadi swasta. Yang mana etos swasta menurut Haedar erat kaitannya dengan mandiri, hemat, dan memiliki ketahanan untuk berjuang dan menderita. Oleh sebab itu ia pun mewanti-wanti para pimpinan PTMA untuk tidak bergaya seperti juragan di kampung. Yang mana segala sesuatunya dilakukan sendiri, mulai dari mengelola keuangan, mengatur sumber daya, hingga menentukan harga dan lain sebagainya.

“Rektor dan wakil rektor di PTMA harus mampu menjadi pemimpin yang transformatif. Pemimpin yang dapat memobilisasikan potensi, berorientasi pada masa depan, dan mengagendakan perubahan,” paparnya.

Ketiga, memperkuat networking. Dengan networking, seorang pemimpin dapat menciptakan hegemoni. Dengan ini, seorang pemimpin bisa melakukan banyak hal untuk memajukan institusi yang ia pimpin.

Keempat, mendorong pengembangan sumber daya. Meningkatkan kualitas dosen dengan cara memotifasinya untuk terus belajar. Bagi dosen yang belum menempuh S3, seorang pemimpin harus mendorong yang bersangkutan untuk meneruskan studi.

Sedangkan untuk sumber daya non manusia, PTMA dapat mengembangkan berbagai unit bisnis (amal usaha kampus) dengan tujuan membantu menopang biaya operasional universitas yang relatif cukup tinggi.

“PTMA harus berorientasi pada kemajuan dan keunggulan. Perguruan tinggi kita harus unggul, pertaruhan kita di situ,” tegasnya. (diko)


Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Berita

MAKASSAR, Suara Muhammadiyah - Ketua Majelis Pembinaan Kesejahteraan Sosial (MPKS) Pimpinan Pusat (P....

Suara Muhammadiyah

7 October 2023

Berita

YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah - "Tujuan nikmat itu dilimpahkan dan diberikan kepada umat Islam yait....

Suara Muhammadiyah

23 March 2024

Berita

TASHKENT, Suara Muhammadiyah – Hj. Zesmita Umar, SH, Kepala SMA Muhammadiyah 25 Setiabudi Pamu....

Suara Muhammadiyah

1 May 2024

Berita

BANDUNG, Suara Muhammadiyah - Majelis Pendidikan Dasar Menengah dan Pendidikan Nonformal Pimpinan Pu....

Suara Muhammadiyah

6 March 2024

Berita

MALANG, Suara Muhammadiyah - Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) tidak bosan-bosan melahirkan berb....

Suara Muhammadiyah

23 September 2023

Tentang

© Copyright . Suara Muhammadiyah