JAKARTA, Suara Muhammadiyah - Malam Ramadan ke-29 di Masjid At-Tanwir PP Muhammadiyah Jakarta, dalam ceramahnya Bendahara Umum PP Muhammadiyah Hilman Latief mengajak untuk merefleksi kembali secara mendalam tentang tantangan kemanusiaan dengan mengajak umat Islam merenungkan esensi yang diabadikan dalam Al-Qur’an, khususnya melalui Surah Al-Balad, Selasa (17/3). Konsep fundamental ‘aqabah’, sebuah metafora untuk rintangan berat yang harus dihadapi dan dilalui oleh setiap individu dalam perjalanan menuju kebaikan sejati dan keberkahan ilahi.
Selanjutnya, Hilman Latief lebih menekankan bahwa ‘aqabah’ bukanlah sekadar kesulitan biasa, melainkan sebuah situasi yang menuntut energi, ketabahan, dan tekad luar biasa untuk diatasi. Suatu kondisi yang menggambarkan ‘aqabah’ sebagai puncak yang terjal, panas, gersang, dan sulit dijangkau, yang mensyaratkan bahwa tidak banyak orang mampu menaklukkannya tanpa perjuangan yang sungguh-sungguh.
Dalam konteks kekinian, imbuh Hilman Latief, seorang tokoh cendekiawan Muslim terkemuka, melalui ceramah yang menggugah hati, menjelaskan dua bentuk ‘aqabah’ utama yang secara eksplisit disebutkan dalam Surah Al-Balad dan relevansinya tetap kuat hingga saat ini, yaitu:
Kesatu, membebaskan manusia dari keterikatan (membebaskan budak). Konsep ini secara historis merujuk pada pembebasan budak, yang diinterpretasikan ulang oleh Hilman Latief dalam konteks modern sebagai tindakan memberikan kebebasan, martabat, dan otonomi kepada mereka yang berada dalam posisi rentan atau terpinggirkan. Ini mencakup upaya memberdayakan individu agar mampu menentukan arah hidupnya sendiri, terlepas dari belenggu kemiskinan, ketidakadilan, atau ketergantungan. Beliau menekankan bahwa tindakan pembebasan semacam ini adalah sebuah ‘aqabah’ yang sangat sulit, namun esensial bagi terwujudnya masyarakat yang adil dan beradab.
Kedua, memberi makan pada hari kelaparan. Hal ini menyoroti urgensi untuk memberikan pertolongan kepada anak yatim dan orang miskin yang berada dalam kondisi sangat membutuhkan. Beliau memperluas pemahaman tentang ‘yatim’ tidak hanya dalam pengertian harfiah (anak yang kehilangan orang tua), tetapi juga secara sosiologis, yaitu anak-anak yang meskipun memiliki orang tua, namun tidak mendapatkan pendidikan dan perhatian yang memadai. Sementara itu, istilah ‘miskin’ merujuk pada golongan masyarakat yang benar-benar tidak memiliki apa-apa dan sangat bergantung pada uluran tangan sesama.
Tindakan ini merupakan manifestasi nyata dari kasih sayang dan solidaritas sosial. Dalam hal ini, Hilman Latief menegaskan bahwa individu yang berhasil menaklukkan ‘aqabah’ ini yaitu mereka yang berjuang membebaskan sesama dan memberi makan orang yang kelaparan—akan digolongkan sebagai Ashabun Maimanah (golongan kanan), yakni orang-orang yang berbuat kebaikan dan akan mendapatkan balasan yang mulia. Sebaliknya, mereka yang mengabaikan panggilan kemanusiaan ini akan tergolong sebagai Ashabun Masy’amat (golongan kiri), yang akan menghadapi konsekuensi dari kelalaian mereka.
Pada akhir ceramah, Hilman mengajak seluruh umat Islam, khususnya di bulan suci Ramadan yang penuh berkah ini, untuk mengimplementasikan nilai-nilai luhur tersebut sebagai jalan mencapai kesempurnaan spiritual dan menaklukkan berbagai kesukaran hidup. Hal terpenting, menurut Hilman Latief, adalah menjadikan hal ini sebagai pengingat kuat akan tanggung jawab sosial dan kemanusiaan yang melekat pada setiap individu.
Pesan Ia sangat relevan dalam menghadapi kompleksitas tantangan sosial dan ekonomi global saat ini, mendorong umat untuk tidak hanya beribadah secara ritual, tetapi juga bertindak nyata dalam membantu menciptakan masyarakat yang lebih adil, berempati, dan berkelanjutan. (Nadri)
