MADRID, Suara Muhammadiyah – Di balik kokohnya pilar-pilar sejarah Islam yang pernah tegak selama enam abad di bumi Spanyol, sebuah langkah besar sedang dirajut oleh keluarga besar Persyarikatan Muhammadiyah. Pagi itu di Kota Madrid, delegasi Universitas Muhammadiyah Riau (UMRI) tidak sekadar datang untuk berkunjung, melainkan untuk membawa misi besar untuk membawa perguruan tinggi Muhammadiyah menuju panggung dunia.
Duta Besar Indonesia untuk Spanyol, Dr Muhammad Najib menggarisbawahi tiga poin krusial yang menjadi peluang emas bagi pengembangan UMRI di tanah Eropa. Hal pertama yang ia soroti adalah keinginan kuat UMRI untuk menjalin kerja sama konkret dengan universitas-universitas di Spanyol, terutama dalam program pertukaran mahasiswa dan dosen.
"Saya melihat ada potensi besar di sini," ungkap sang Dubes, Sabtu 18 April 2026. Menariknya, fokus kerja sama ini tidak hanya bersifat umum. Kehadiran sejumlah dosen dari Fakultas Kedokteran UMRI dalam rombongan tersebut menarik perhatian khusus sang Duta Besar. Ia menginformasikan bahwa saat ini, rumah sakit universitas dan fakultas kedokteran di Spanyol sedang berada dalam tren antusiasme yang tinggi untuk membangun kemitraan dengan institusi kesehatan di Indonesia.
Lebih jauh, diplomasi pendidikan ini terasa semakin strategis karena posisi Dr. Saidul Amin sebagai Rektor UMRI juga menjabat sebagai Rektor Universitas Muhammadiyah Malaysia (UMAM). Sang Duta Besar melihat hal ini sebagai jembatan internasional yang kokoh. Ia menekankan bahwa pintu kerja sama internasional antara universitas di Indonesia (dan Umam di Malaysia) dengan Spanyol sangat terbuka lebar, khususnya untuk jenjang pascasarjana—program S2 dan S3. "Apalagi Umam menyediakan beasiswa untuk mahasiswa asing," tambahnya, yang ia nilai sebagai nilai tawar yang sangat positif dalam pergaulan akademik internasional.
"Kerja sama internasional antara universitas di Indonesia dengan Spanyol sangat terbuka lebar," ungkap sang Duta Besar, yang berjanji akan segera menindaklanjuti pertemuan ini secara konkret.
Di sisi lain, Dr Saidul Amin beserta delegasi melangkah masuk ke gedung Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Madrid, dirinya mengungkapkan pertemuan dengan Duta Besar RI untuk Spanyol tersebut bukan sekadar seremoni diplomatik biasa, melainkan sebuah dialog intelektual yang bernas.
"Kami bertemu dengan sosok Duta Besar yang pakar di bidang politik, arif di bidang sejarah, dan sangat memahami seluk-beluk sejarah Islam secara paripurna," ujar Saidul Amin dengan nada terkesan. Sang Dubes, yang juga dikenal sebagai penulis produktif dengan tujuh karya buku, menyambut hangat keinginan UMRI untuk memperluas jejaring internasionalnya.
Fokus kunjungan ini sangat spesifik yaitu internasionalisasi akademik. UMRI membidik kerja sama strategis dengan universitas-universitas di Spanyol yang siap melakukan pertukaran mahasiswa maupun dosen. Menariknya, sejumlah dosen dari Fakultas Kedokteran turut serta dalam rombongan ini, seiring dengan tingginya antusiasme rumah sakit dan fakultas kedokteran di Spanyol untuk membangun kolaborasi dengan Indonesia.
Pertemuan tersebut, menurutnya, telah membuahkan banyak "pencerahan" yang sangat menginspirasi bagi gerak perjuangan Persyarikatan di masa depan. Saidul Amin melihat keberadaan diplomasi Indonesia di Spanyol sebagai jembatan penting, tidak hanya bagi dunia akademik, tetapi juga bagi masa depan umat Islam secara luas.
Ia berharap, sinergi yang terbangun antara perguruan tinggi Muhammadiyah dengan KBRI Madrid dapat membawa angin segar bagi umat Islam di tanah air serta memberikan harapan baru bagi komunitas muslim di Spanyol. Ada sebuah cita-cita besar yang ia sematkan dalam kunjungan ini untuk melihat Islam kembali berkembang dan berjaya di bumi Spanyol, sebagaimana sejarah kejayaan Islam yang pernah terukir indah di sana.
Bagi Ketua Badan Pembina Harian (BPH) UMRI, Prof Nazir, kunjungan ke Spanyol membawa beban emosional dan spiritual yang mendalam. Baginya, Spanyol adalah cermin masa lalu sekaligus kompas masa depan bagi umat Islam.
"Di sini bekas sejarah umat Islam yang sangat hebat, pernah berjaya selama enam abad lebih," tutur Nazir. Inspirasi dari kejayaan masa lalu itulah yang ingin dibawa pulang ke tanah air untuk membangun institusi pendidikan yang berkelas dunia. Semangat ini sejalan dengan visi besar Muhammadiyah untuk terus menyebarkan cahaya pencerahan (dakwah pencerahan) di mana pun berada, termasuk di bumi Eropa.
Pertemuan di Madrid ini seolah menjadi pesan kuat bahwa dari Bumi Lancang Kuning, Muhammadiyah siap mengepakkan sayapnya lebih jauh, menjangkau ujung benua, demi mengembalikan kejayaan intelektual Islam yang pernah bersinar di tanah Andalusia. (Riz)
