Jusuf Kalla Terus Dorong PUTM Lahirkan Ulama Berwawasan Zaman

Suara Muhammadiyah

Penulis

0
72
Jusuf Kalla mendorong Pendidikan Ulama Tarjih Muhammadiyah terus melahirkan ulama yang menguasai khazanah keislaman, memahami perkembangan ilmu pengetahuan, serta mampu memimpin umat dengan pandangan yang jauh ke depan.

Jusuf Kalla mendorong Pendidikan Ulama Tarjih Muhammadiyah terus melahirkan ulama yang menguasai khazanah keislaman, memahami perkembangan ilmu pengetahuan, serta mampu memimpin umat dengan pandangan yang jauh ke depan.

JAKARTA, Suara Muhammadiyah — Pimpinan Pendidikan Ulama Tarjih Muhammadiyah (PUTM) melakukan kunjungan silaturahim kepada Wakil Presiden Republik Indonesia ke-10 dan ke-12, Dr. (H.C.) H. Muhammad Jusuf Kalla, di kediamannya pada Kamis, 18 Juni 2026.

Kunjungan tersebut menjadi momentum bagi jajaran pimpinan PUTM untuk memperkenalkan sejarah, sistem pendidikan, kepemimpinan baru, serta arah pengembangan lembaga dalam menyiapkan kader ulama Muhammadiyah. Rombongan diterima Jusuf Kalla dengan hangat dan penuh antusias.

Hadir dalam silaturahim tersebut Buya Anwar Abbas, Ustadz Fahmi Muqoddas (BPH PUTM), Ustadz Rofiq Mudzakkir selaku Direktur PUTM yang baru, Ustadz Dahwan Mukhroji, Ustadz Endi Prasetyo, serta alumni PUTM, Fahmi Firmansyah, yang saat ini mengabdikan diri sebagai guru di Jakarta.

Dalam pengantar pertemuan oleh Ustadz Fahmi Muqoddas, disampaikan bahwa kelahiran PUTM tidak dapat dilepaskan dari kegelisahan Muhammadiyah terhadap krisis kader ulama. Pada masa awal, Muhammadiyah memiliki sekitar 55 ulama yang berpusat di Kauman, Yogyakarta. Seiring berjalannya waktu, satu per satu ulama tersebut wafat sehingga kebutuhan untuk menyiapkan generasi penerus semakin mendesak.

Kegelisahan itulah yang kemudian menjadi salah satu latar belakang didirikannya PUTM pada 1968. Lembaga ini dirancang sebagai tempat pendidikan kader ulama yang memiliki kedalaman ilmu agama, kematangan kepribadian, serta kesiapan untuk mengabdi kepada Persyarikatan, umat, dan bangsa.

Dalam perkembangannya, PUTM menerima peserta didik dari berbagai provinsi di Indonesia. Para calon mahasiswa diajukan melalui rekomendasi Pimpinan Wilayah Muhammadiyah atau Pimpinan Daerah Muhammadiyah di daerah masing-masing. Namun, rekomendasi tersebut tidak otomatis menjamin kelulusan karena setiap calon tetap harus mengikuti proses seleksi dan ujian masuk yang ketat.

Proses penerimaan tersebut dilaksanakan secara objektif berdasarkan kemampuan dan kesiapan calon mahasiswa. Tidak ada rekomendasi pribadi atau intervensi pihak tertentu yang dapat menggantikan hasil seleksi. Sistem ini dijaga untuk memastikan bahwa mahasiswa yang diterima memiliki dasar keilmuan, kesungguhan belajar, serta komitmen yang kuat untuk menjadi kader ulama.

Mahasiswa PUTM menempuh pendidikan selama delapan semester atau empat tahun dalam sistem berasrama. Selama masa pendidikan, mereka tidak dibebani pembayaran uang kuliah atau SPP. Mahasiswa hanya memberikan infak sekitar Rp500 ribu setiap bulan, sedangkan kebutuhan konsumsi dan akomodasi selama mengikuti pendidikan telah disediakan.

Selain memperoleh pembinaan keulamaan secara intensif, para mahasiswa juga mengikuti pendidikan yang terintegrasi dengan jenjang akademik formal. Setelah menyelesaikan masa studi, mereka memperoleh ijazah sarjana strata satu yang diakui secara legal formal.

Pendidikan di PUTM tidak berhenti pada kelulusan akademik. Setelah menyelesaikan studi, setiap lulusan memiliki kewajiban mengabdi selama tiga tahun. Masa pengabdian tersebut menjadi bagian penting dari proses kaderisasi agar ilmu yang diperoleh tidak berhenti di ruang kelas, tetapi benar-benar hadir dan memberi manfaat bagi masyarakat.

Dengan sistem tersebut, PUTM tidak hanya menyelenggarakan pendidikan tinggi, tetapi juga membentuk pola hidup, karakter, kedisiplinan, serta tanggung jawab sosial para calon ulama. Tradisi akademik, kehidupan berasrama, pembinaan keagamaan, dan kewajiban pengabdian dipadukan sebagai satu kesatuan proses pendidikan.

Penjelasan mengenai sejarah dan perkembangan PUTM mendapat perhatian serius dari Jusuf Kalla. Pertemuan yang semula dirancang sebagai kunjungan perkenalan kemudian berkembang menjadi dialog yang akrab dan mendalam selama kurang lebih 120 menit.

Berbagai persoalan mengenai pendidikan ulama, kepemimpinan umat, perkembangan ilmu pengetahuan, tanggung jawab kebangsaan, hingga kepedulian terhadap kelestarian lingkungan turut dibicarakan. Jusuf Kalla juga menyampaikan sejumlah nasihat dan masukan bagi pengembangan PUTM pada masa mendatang.

Di tengah kesibukan dan usianya yang telah mencapai 84 tahun, Jusuf Kalla tetap bersemangat menyampaikan pandangan dan pengalaman kepada jajaran pimpinan PUTM. Tutur katanya tetap kuat dan gagasan-gagasannya memperlihatkan perhatian yang besar terhadap masa depan pendidikan Islam dan kaderisasi ulama.

Suasana pertemuan terasa semakin hangat ketika pembicaraan beralih sejenak mengenai usia. Ketika ditanya mengenai usianya, Jusuf Kalla menjawab bahwa dirinya telah berusia 84 tahun. Ia kemudian balik bertanya kepada salah seorang anggota rombongan yang menjawab telah berusia 82 tahun.

Percakapan sederhana tersebut menghadirkan suasana penuh keakraban sekaligus menjadi pengingat mengenai pentingnya mengisi umur dengan amal dan pengabdian. Semangat itu sejalan dengan pesan bahwa sebaik-baik manusia adalah mereka yang panjang usianya dan baik amal perbuatannya.

Pertemuan tersebut memperlihatkan bahwa usia tidak menjadi penghalang untuk terus berpikir, memberikan nasihat, dan menyumbangkan gagasan bagi kemajuan umat. Selama dua jam, Jusuf Kalla tetap aktif berdialog serta memberikan perhatian terhadap berbagai tantangan yang dihadapi lembaga pendidikan kader ulama.

Dalam arahannya, Jusuf Kalla menegaskan bahwa calon ulama Muhammadiyah perlu memiliki dasar keilmuan agama yang kuat. Para kader ulama harus bersungguh-sungguh mendalami kitab-kitab turats berbahasa Arab sebagai bagian penting dari penguasaan khazanah intelektual Islam.

Namun, menurutnya, penguasaan terhadap ilmu-ilmu keislaman klasik saja belum cukup untuk menghadapi kompleksitas masyarakat modern. Kader PUTM juga perlu menguasai bahasa Inggris dan membuka diri terhadap berbagai disiplin ilmu, seperti teknik, kedokteran, psikologi, ekonomi, antropologi, sosiologi, dan bidang ilmu lainnya.

Penguasaan lintas disiplin diperlukan agar ulama mampu memahami persoalan umat secara lebih utuh. Ulama tidak cukup hanya dapat menjelaskan ajaran agama secara tekstual, tetapi juga harus mampu membaca kenyataan sosial dan memberikan solusi yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat serta perkembangan zaman.

Jusuf Kalla mengingatkan bahwa ulama pada hakikatnya juga memiliki peran sebagai zuama atau pemimpin. Oleh karena itu, seorang ulama tidak hanya bertanggung jawab terhadap kehidupan keagamaan, tetapi juga terhadap masa depan umat, kemajuan bangsa, dan kelestarian alam semesta.

“Ulama itu sekaligus zuama, pemimpin yang mempunyai tanggung jawab terhadap umat, bangsa, serta pelestarian alam semesta,” pesannya.

Menurutnya, keluasan wawasan dan kepedulian terhadap berbagai persoalan kehidupan menjadi bagian penting agar kehadiran Islam benar-benar membawa semangat rahmatan lil ‘alamin. Nilai-nilai Islam harus dapat dirasakan manfaatnya dalam kehidupan sosial, pendidikan, ekonomi, kemanusiaan, dan lingkungan hidup.

Dalam pertemuan tersebut, Jusuf Kalla menyatakan kesiapan untuk memberikan dukungan bagi kemajuan PUTM. Ia berharap PUTM terus berkembang menjadi pusat pendidikan kader ulama Muhammadiyah yang memiliki kedalaman ilmu agama, keluasan pengetahuan, kematangan kepemimpinan, serta kemampuan membaca tantangan masa depan.

Bagi PUTM, silaturahim tersebut bukan sekadar kunjungan kelembagaan. Pertemuan itu menjadi tambahan energi sekaligus penguatan terhadap ikhtiar kaderisasi ulama yang telah dimulai sejak 1968.

Di tengah tantangan zaman yang semakin kompleks, PUTM memikul tanggung jawab untuk menjaga kesinambungan kader ulama Muhammadiyah. Ulama yang dilahirkan tidak hanya diharapkan kuat dalam penguasaan kitab dan ilmu agama, tetapi juga memahami persoalan masyarakat, memiliki kemampuan memimpin, dan bersedia mengabdikan ilmunya bagi kemaslahatan bersama.

Nasihat Jusuf Kalla menjadi pesan penting bahwa ulama masa depan harus mampu mempertemukan kedalaman tradisi dengan kecakapan membaca realitas. Dari ulama yang berilmu, berpandangan luas, dan berjiwa pemimpin itulah diharapkan lahir pencerahan bagi umat, kemajuan bagi bangsa, serta kemaslahatan bagi seluruh alam. (fahmi/diko)


Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Berita

YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah - Perubahan iklim saat ini merupakan keniscayaan yang tengah dihadapi....

Suara Muhammadiyah

7 December 2025

Berita

JAKARTA, Suara Muhammadiyah - Mahasiswa Magister Teknologi Pendidikan Sekolah Pascasarjana Universit....

Suara Muhammadiyah

2 December 2024

Berita

SURAKARTA, Suara Muhammadiyah – Muhammadiyah melalui Lembaga Hubungan dan Kerjasama Internasio....

Suara Muhammadiyah

16 December 2024

Berita

CILACAP, Suara Muhammadiyah - Program pemberdayaan masyarakat melalui pelatihan pembuatan pupuk dan ....

Suara Muhammadiyah

11 May 2026

Berita

KEDIRI, Suara Muhammadiyah - Salah satu pesan Kiai Dahlan dalam bemuhammadiyah yang harus senantiasa....

Suara Muhammadiyah

27 April 2025

Tentang

© Copyright . Suara Muhammadiyah