Kemproh, Serampangan yang Berdampak

Suara Muhammadiyah

17 August 2026

182
Ilustrasi

Ilustrasi

Kemproh, Serampangan yang Berdampak 

Oleh: Hafidz Sirojudin 

Dalam bahasa Jawa, Kemproh artinya jorok, kotor atau ceroboh dalam hal kebersihan. Makna lainnya yaitu serampangan, tidak tertib, dumeh (sok kuasa), grusa-grusu (tergesa-gesa, instan), kurang etis, serta melakukan sesuatu tanpa perhitungan yang matang. Kedengarannya kemproh itu sesuatu yang sepele. Namun kalau kita bongkar pelan-pelan, kata ini menyentuh beragam sendi kehidupan.

 

Pertama, Kemproh dalam Perspektif Budaya Jawa

Kemproh merusak harmoni kerukunan dalam komunitas: kampung, desa, negara, organisasi. Karena satu orang kemproh bisa bikin satu kampung repot. Gotong royong, kerjasama, ta’awun menjadi bubar karena adanya seseorang –apalagi yang melakukan tokoh atau pemimpin– berbuat "yang penting jadi" atau “yang penting ambisi, tujuan dan target pribadi tercapai”. 

 

Sikap kemproh seringkali menggerus “tepo seliro” (tenggang rasa) dan “eling lan waspodho”. Eling bermakna sadar dan ingat keberadaan Tuhan dalam setiap langkah dan tindakan (Tauhid). Menyadari asal-usul dan tujuan hidup (sangkan paraning dumadi). Waspada berarti mawas diri dan cermat dalam menghadapi segala situasi kondisi agar tidak terjerumus dalam kesalahan yang mencakup dimensi spiritual dan sosial kehidupan manusia.

 

Orang Jawa mempunyai ajaran “alon-alon waton kelakon” (meskipun terlihat pelan, asal selamat dan selesai). Kosok balen (lawan kata, antonim)-nya “kemproh”. Kemproh itu wujud dari sok kuasa (dumeh) dan tergesa-gesa atau instan (kesusu, grusa-grusu). Dalam pitutur luhur Jawa, orang kemproh dianggap kurang etis. Contohnya, makan sambil berdiri dan memakai tangan kiri, bekerja asal-asalan, hidup boros alias biar tekor asal kesohor, dan sebagainya. Budaya Jawa menekankan “tata, titi lan titi laksana”: ada nilai dalam aturan, ada nilai dalam ukuran, ada nilai dalam cara. 

 

Kedua, Kemproh terhadap Lingkungan

Yang paling kelihatan adalah membuang sampah sembarangan karena berpikiran nanti ada yang menyapu atau membersihkan. Menebang pohon serampangan tanpa mau menanam kembali atau reboisasi. Mereka lupa jika pohon yang ditebang dalam waktu 5 menit itu telah hidup berusia 30 bahkan 50 tahun. Mereka khilaf bilamana tanaman itu penghasil oksigen gratis yang manusia butuhkan agar tetap hidup. Membakar lahan hutan asal cepat dan segera bisa diubah menjadi lahan sawit, sebagaimana saya pernah menyaksikan pada suatu daerah di Kalimantan Barat.

 

Perilaku kemproh lain seperti memakai plastik berlebihan karena tidak mau ribet. Dengan alasan praktis, menjamu tamu dan menghidangkan kudapan rapat rutin dengan AMDK (Air Minum Dalam Kemasan). Yang paling miris justru perilaku kemproh menyediakan milyaran gelas plastik sekali pakai untuk meminum air zam-zam di masjidil Haram dan masjid Nabawi bagi jamaah haji dan umroh. Perilaku kemproh di tempat yang suci untuk meminum air yang suci. Agar tidak ikutan kemproh, KBIH dapat menginisiasi jamaahnya membawa gembes (tumbler) ketika ziarah ke Makkah dan Madinah.

   

Masyarakat Jawa memiliki konsep “memayu hayuning bawana”: menjaga dan memperindah bumi. Kemproh adalah kebalikannya “ngrusak hayuning bawana”. Berbagai bencana alam: banjir, longsor, kali buthek (sungai keruh), air sungai tercemar merkuri, udara panas, kebakaran hutan dan lahan (karhutla) semua berawal dari keputusan dan laku sosial kecil yang kemproh. Alam mencatat, lalu menagihnya saat musim hujan dan musim kemarau tiba.

 

Ketiga, Kemproh dalam Kehidupan Sosial Politik Kebangsaan

Kemproh paling berbahaya terjadi di ruang publik dan kehidupan kebangsaan. Kemproh membikin peraturan, kemproh bikin program atau proyek tanpa data dan fakta, tidak didahului dengan uji publik serta analisa sosial dan kebijakan publik yang memadai. Sehingga yang kemudian terjadi di dalam praktek lapangan adanya in-efisiensi, tidak efektif, tidak tepat guna dan tepat sasaran, anggaran bocor serta proyek mangkrak.

  

Di dunia media dan sosial media, kita menyaksikan adanya kemproh berpendapat. Asal posting atau forward, gemar share konten hoax, komentar mengadu domba dan ujaran kebencian. Juga kemproh dalam berdemokrasi, memilih pemimpin. Ikut-ikutan memilih karena dikasih amplop, maupun menjadi korban pencitraan calon nan viral. Akibatnya, selama Lima tahun semua rakyat yang menanggung akibatnya.

 

Orang Jawa dalam memilih pemimpin dibekali ajaran “weruh sak durunge winarah” (melihat dan mengetahui sebelum sesuatu terjadi). Kita sering mengabaikan “anecdotal record” seseorang. Yakni catatan (literasi) obyektif dan faktual mengenai perilaku, tindakan, sikap atau pernyataan seorang calon pemimpin yang diamati secara langsung dalam waktu cukup lama, terutama saat terjadi peristiwa penting atau khusus. Kita menyadari bahwa tidak ada kandidat yang sempurna. Jika peserta kontestasi sama-sama memiliki kebaikan, keunggulan dan kelebihan, maka pilihlah yang memilikii lebih banyak kebaikan dan keunggulan. Jika para kandidat memiliki keburukan, kelemahan dan kekurangan, maka dipilih yang lebih sedikit memiliki keburukan dan kekurangan.

 

Dalam perpektif ilmu hadits (literasi tentang sunah Nabi saw), ketika menilai perawi hadits misalnya, indikator yang dipakai menilai seorang periwayat itu layak disebut mutawatir, shahih, dhaif atau maudhu’ dilihat dari anecdotal record (rekam jejak). Hanya karena pernah terlihat “berbohong atau tidak jujur terhadap kuda peliharaan dalam memberi pakan”, maka gugurlah hadits yang dia riwayatkan. Maknanya, kejujuran atau tidak pernah berbohong adalah nilai yang dipakai sebagai Key Performance Indicator (Indikator Kinerja Utama).

 

Kondisi kehidupan kebangsaan paska Era Reformasi 1998 banyak terlihat perilaku politik yang kemproh: asal pilih, asal menang. Sehingga mengakibatkan tata kelola pemerintahan menjadi tambal sulam, bongkar pasang, ganti menteri ganti kebijakan.

 

Keempat, Kemproh dalam Organisasi Keagamaan

Kemproh jenis ini yang patut disayangkan. Barangkali niatnya baik tapi proses, peraturan, target dan tujuan organisasi seringkali dibuat laksana korporasi perusahaan. Dimana modal (harta, uang, saham) seakan menjadi pemegang kendali organisasi. Para pemimpin model ini lupa bahwa Ormas Keagamaan itu Korporasi Amal Saleh. Dimana di setiap struktur organisasi dan amal usaha mempunyai keunikan dan key performance indicator keberhasilan amal usaha yang unik, berkemajuan dan “profesional” sesuai tingkatannya. 

  

Kemproh di tubuh Ormas Keagamaan dapat terjadi di berbagai tingkatan. Kemproh dalam niat, kemproh dalam kegiatan yang digelar untuk pencitraan, kemproh dalam tata kelola amal usaha, kemproh dalam kaderisasi, kemproh dalam misi dakwah dan aksi sosial, serta laku kemproh lainnya yang dibungkus dengan indikator kuantitatif semata: sang juara, paling atau ter…. Saya meyakini KH. Ahmad Dahlan tatkala mendirikan Muhammadiyah tidak pernah mencita-citakan persyarikatan menjadi Ormas Keagamaan yang paling kaya, paling banyak anggota, juara dunia versi lembaga pemeringkat kapitalisme dunia. 

 

Orang Jawa mengajarkan “Megah, ojo Megahi”. Kita boleh membangun sesuatu yang tampak besar, gagah dan mengagumkan penglihatan. Bangunan yang megah itu perlu, tetapi jangan menjadikan sifat angkuh iblis muncul di hati sanubari. Gedung perkantoran yang megah jangan membuat umat dan masyarakat enggan mendekat, takut berkunjung. Megah karena terlihat bangunan fisiknya mengagumkan, tetapi pelayanan kepada anggota, warga dan masyarakat buruk, “ora nguwongke” (tidak manusiawi). Bukankah ajaran agama dan nilai Jawa sama-sama menekankan kejujuran, kesederhanaan, istiqamah, amanah, dan hikmah. Kemproh membuat ormas keagamaan yang seharusnya menjadi teladan justru menjadi sumber gaduh.

 

Eling, Waspodho, Tepo Seliro

 

Melawan kemproh tidak memerlukan pidato yang menggelegar laksana seorang motivator MLM (Multi-Level Marketing), narasi yang canggih laksana pidato pengukuhan guru besar, ataupun program yang ndakik-ndakik biar terlihat profesional dan modern. Cukup dilawan dengan Tiga Kata: Eling, Waspodho, Tepo Seliro.  

 

Eling artinya sadar bahwa kekuasaan dan jabatan adalah amanat yang bersifat relatif dan tidak tak terbatas, semacam outsourching atau sementara waktu, dan dibatasi ruang dan waktu periodisasi. Kita wajib eling masih ada Gusti Allah yang Maha Kuasa, Maha Rahman dan Maha Rahim menutup aib-aib kita.

  

Waspodho, kita mesti membersihkan dan menjernihkan niat, proses, tujuan, dan akibat yang bakal terjadi atas setiap keputusan dan peraturan organisasi yang hendak ditetapkan. Jauhkan dari mengejar keuntungan (profit) bagi kepentingan pribadi, kelompok, klan atau genk: bijak sini, bijik sana. Harus lebih mengedepankan manfaat (benefit) dan nilai tambah (value added) bagi organisasi dan kalangan yang lebih luas.

  

Tepo Seliro, jangan membikin repot orang lain. Budaya Jawa dan Budaya Keagamaan tidak anti cepat. Tetapi cepat dan tergesa-gesa tanpa didasari nilai ketulusan, kejujuran, keadilan dan kemanfaatan masyarakat disebut kemproh. Dan kemproh, sekecil apapun, kalau dikalikan jutaan orang dan dilembagakan di dalam ormas keagamaan akan menjadi bencana organisasi di kemudian hari.

  

Perilaku kemproh tidak hanya melanda pada empat bidang yang kami tuliskan diatas. Kemproh bisa terjadi di ruang lingkup kehidupan dan beragam lini kehidupan. Kesehatan (rumah sakit, poliklinik), lembaga pendidikan (dasar hingga perguruan tinggi), lembaga sosial (panti asuhan), lembaga bisnis dan perusahaan (BUMN/BUMD/PMA/PMDN/Swasta), lembaga kebudayaan dan peradaban lainnya. Ada baiknya kita mulai lafazkan sebait doa sebagai ritual pribadi peribadatan keseharian: “Ya Allah aku berlindung kepada-Mu dari perilaku kemproh dalam kehidupan. Amin”

 

Tegalmulyo, 17 Agustus 2026 


Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Wawasan

Syahadatain, Sumpah Hidup Yang Sering Terlupakan Oleh: Dr Jaharuddin, Dosen FEB Universitas Muhamma....

Suara Muhammadiyah

26 January 2026

Wawasan

Memahami Hakikat Ghaddul Bashar Oleh: Donny Syofyan, Dosen Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas....

Suara Muhammadiyah

12 June 2026

Wawasan

Oleh: Baskoro Tri Caroko Menyimak webinar yang diselenggarakan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BR....

Suara Muhammadiyah

30 November 2023

Wawasan

Religiusitas yang Berbuah: Dari Ibadah Pribadi ke Kesalehan Sosial Oleh: Ahsan Jamet Hamidi –....

Suara Muhammadiyah

20 March 2026

Wawasan

Beras Mentari, Icon Kedaulatan Pangan dan Simbol Persatuan Oleh: Wahyudi Nasution, MPM PP Muhammadi....

Suara Muhammadiyah

26 September 2025

Tentang

© Copyright . Suara Muhammadiyah