Khutbah Jum'at: Mestinya Malu Berbuat Maksiat

Publish

26 February 2026

Suara Muhammadiyah

Penulis

0
705
Foto Istimewa

Foto Istimewa

Oleh: Aeger Kemal Mubarok, Anggota Majelis Tarjih dan Tajdid PDM Kota Tasikmalaya

الْحَمْدُ لِلّهِ الَّذِيْ أَرْسَلَ رَسُولَهُ بِالْهُدَى وَدِينِ الْحَقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّينِ كُلِّهِ وَكَفَى بِاللَّهِ شَهِيدًا . أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلٰهَ إِلاّ اللهُ وَأَشْهَدُ أَنّ مُحَمّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُه . اَللّٰهُمّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى مُحَمّدٍ وَعَلَى آلِهِ وِأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْن. فَيَا عِبَادَاللهُ اُوصِيْكُمْ وَنَفْسِى بِتَقْوَاالله . اِتَّقُواللهَ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْن . أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ . 

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ حَقَّ تُقٰىتِهٖ وَلَا تَمُوْتُنَّ اِلَّا وَاَنْتُمْ مُّسْلِمُوْنَ . 

Jama’ah Sidang Jum’at Rahimahullah 

Sadarkah kita bahwa kebanyakan manusia di zaman ini sudah kehilangan rasa malu? Padahal sejatinya rasa malu ini yang dipegang kuat oleh ulama dan generasi terdahulu sehingga mereka dapat menjaga dan mempertahankan keimanan di tengah-tengah ujian keimanan yang menghampiri mereka. Setidaknya ada tiga jenis rasa malu yang disampaikan Al-Imam Mawardi dalam Kitab Adab Ad-Dunya Wa Ad-Din yang akan kita bedah satu persatu dalam khutbah ini. 

Jama’ah Sidang Jum’at Rahimahullah 

Sifat malu pertama, malu kepada Allah. Imam Al-Mawardi menuturkan: “rasa malu kepada Allah itu dengan mengerjakan perintah-Nya dan menahan diri dari larangan-Nya”. Kemudian Imam Mawardi, mengutip salah satu hadis riwayat Imam Tirmidzi, dari Abdullah bin Mas'ud berkata, Rasulullah ﷺ bersabda:

"Malulah kalian kepada Allah dengan sebenar-benarnya malu." Kami (para sahabat) berkata: "Wahai Rasulullah, sungguh kami sudah malu (kepada Allah), walhamdulillah."Beliau bersabda: "Bukan (sekadar) itu (yang dimaksud). Akan tetapi, malu kepada Allah dengan sebenar-benarnya malu adalah:”Engkau menjaga kepala dan apa yang dikandungnya (pikiran, mata, telinga, lisan). Engkau menjaga perut dan apa yang di dalamnya (makanan/minuman dan kemaluan). Engkau mengingat kematian dan kebinasaan (tubuh yang hancur di dalam tanah). Dan barangsiapa yang menginginkan akhirat, ia akan meninggalkan (berlebih-lebihan dalam) perhiasan dunia. Barangsiapa yang melakukan hal-hal tersebut, maka sungguh ia telah malu kepada Allah dengan sebenar-benarnya malu”. HR. Tirmidzi.

Jama’ah Sidang Jum’at Rahimahullah 

Jenis sifat malu kedua, Malu Kepada Manusia. Bagaimana kita bersikap malu kepada manusia? Imam Al-Mawardi mengatakan: “rasa malu kepada manusia itu dengan menjaga diri dari menyakiti orang lain dan meninggalkan terang-terangan dalam berbuat keburukan”. 

Padahal di dalam suatu hadis, Rasulullah Saw mengancam dari ummatnya yang terang-terangan bermaksiat, ia tidak akan mendapatkan ampunan dari Allah: Dari Abu Hurairah Ra, katanya:

“Saya mendengar Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: ”Setiap ummatku itu dimaafkan, kecuali orang-orang yang menampak-nampakkan kejahatannya sendiri. Sesungguhnya termasuk dari menampakkan – keburukan sendiri – itu ialah jikalau seseorang melakukan sesuatu perbuatan di waktu malam, kemudian berpagi-pagi, sedangkan Allah telah menutupi keburukannya itu, tiba-tiba ia berkata – paginya itu: “Hai Fulan, saya tadi malam melakukan demikian, demikian.” Orang itu semalam-malaman telah ditutupi oleh Allah celanya, tetapi pagi-pagi ia membuka tutup Allah yang diberikan kepadanya itu.” (Muttafaq ‘alaih).

Jama’ah sidang jum’at Rahimahullah 

Jenis sifat malu ketiga, malu kepada diri sendiri. Bagaimana kita menanamkan rasa malu kepada diri sendiri? Al-Imam Mawardi berpesan: “rasa malu terhadap diri sendiri itu dengan menjaga kehormatan diri dan menjaga diri ketika sendiri”. 

Seringkali diantara kita bahkan mungkin diri sendiri berusaha untuk tampil, terlihat terbaik di hadapan orang lain. Namun tatkala ia sendiri, tidak ada pandangan orang lain, ia mendurhakai Allah dengan bermaksiat kepada-Nya. Ada salah satu ucapan beberapa ulama Ahli Adab yang dikutip Imam Al-Mawardi: “barangsiapa yang melakukan perbuatan yang ia malu jika dilakukan terang-terangan, maka ia tidak memiliki kadar / nilai harga diri”.

Semoga dari tiga sifat malu ini dapat menjadikan diri kita menjadi pribadi yang lebih baik, semakin mawas diri, dan tentunya menambah ketakwaan dan kecintaan kita kepada Allah agar kita termasuk hamba yang mendapatkan ridha dan kasih sayang-Nya sehingga bisa masuk ke surga-Nya. 

بَارَكَ الله ُلِى وَلَكُمْ فِي اْلقُرْاَنِ اْلعَظِيمِ  وَنَفَعَنِى وَاِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلاَيَاتِ وَالذِّكْرِاْلحَكِيْمِ وَتَقَبَّلَ اللهُ مِنَّا وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ اِنَّهُ هُوَالسَّمِيْعُ اْلعَلِيْمِ

Khutbah Kedua

اَلْحَمْدُ للهِ الَّذِى جَعَلَنَا وَاِيَّكُمْ عِبَادِهِ الْمُتَّقِيْنَ وَاَدَّبَنَا بِالْقُرْاَنِ الْكَرِيْمِ. اَشْهَدُ اَنْ لاَ الَهَ اِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ. وَاَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ. َاللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَلِهِ وَصَحْبِهِ اَجْمَعِيْنَ اَمَّا بَعْدُ : فَيَا اَيُّهَا النَّا سُ اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوتُنَّ اِلاَّ وَاَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

إِنَّ ٱللَّهَ وَمَلٰئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِىِّ ۚ يٰأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوْاصَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا . اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيآءُ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ . اللّٰهُمَّ أَعِزَّ اْلإِسْلاَمَ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَاْلمُشْرِكِيْنَ وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ وَ دَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ وَاعْلِ كَلِمَاتِكَ إِلَى يَوْمَ الدِّيْنِ . اللّٰهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا اْلبَلاَءَ وَاْلوَبَاءَ وَالزَّلاَزِلَ وَاْلمِحَنَ وَسُوْءَ اْلفِتْنَةِ وَاْلمِحَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ عَنْ بَلَدِنَا اِنْدُونِيْسِيَّا خآصَّةً وَسَائِرِ اْلبُلْدَانِ اْلمُسْلِمِيْنَ عآمَّةً يَا رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ . رَبَّنَا آتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ . رَبَّنَا ظَلَمْنَا اَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ اْلخَاسِرِيْنَ . عِبَادَاللهِ ! إِنَّ اللهَ يَأْمُرُنَا بِاْلعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِي اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشآءِ وَاْلمُنْكَرِ وَاْلبَغْي يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ وَاذْكُرُوا اللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرْ

Sumber: Majalah SM Edisi 01/2026


Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Khutbah

Islam dan Peran Perempuan Oleh: Muhammad DN, S.Ag, MHI, Ketua PDM Hulu Sungai Tengah, Kalsel ....

Suara Muhammadiyah

23 April 2026

Khutbah

Khutbah Idul Adha: Makna Kurban dan Kemuliaan Ummat Manusia Oleh: Immawan Wahyudi, Dosen Fakultas H....

Suara Muhammadiyah

10 July 2025

Khutbah

Khutbah Idul Fitri Kemenangan Melawan Nafsu Digital: Mengembalikan Marwah Silaturahmi Oleh: Agus Tr....

Suara Muhammadiyah

19 March 2026

Khutbah

Khutbah Idul Fitri: Memahami Makna Kemengan Oleh Deri Adlis. SHI. Mubaligh Muhammadiyah Kepulauan A....

Suara Muhammadiyah

6 April 2024

Khutbah

Oleh: Ihsan Nursidik, MAg, Pengajar di Pondok Pesantren Darul Arqam Daerah Garut الْحَمْدُ....

Suara Muhammadiyah

22 May 2025

Tentang

© Copyright . Suara Muhammadiyah