MAGELANG, Suara Muhammadiyah - Upaya meningkatkan daya saing kopi Indonesia di pasar global membutuhkan penguatan kompetensi petani, peningkatan kualitas produk, serta kelembagaan agribisnis yang kuat dan berkelanjutan.
Menjawab tantangan tersebut, Program Studi Agribisnis Fakultas Pertanian Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) berkolaborasi dengan University Community Transformation Centre (UCTC) Universiti Putra Malaysia (UPM) dalam kegiatan pengabdian kepada masyarakat di Kelompok Tani Kopi Sumber Berkah, Jogahan, Desa Citrosono, Kecamatan Grabag, Kabupaten Magelang, Senin (16/2).
Kolaborasi ini bertujuan memperkuat agribisnis kopi dari hulu hingga hilir, mulai dari peningkatan kapasitas petani, penguatan kelembagaan, hingga pengembangan nilai tambah dan perluasan akses pasar. Grabag dipilih sebagai lokasi kegiatan karena memiliki potensi kopi robusta yang terus berkembang dan menjadi salah satu komoditas unggulan daerah.
Ketua Program Studi Agribisnis UMY, Zuhud Rozaki, Ph.D., saat dihubungi secara daring pada Rabu (18/2), menegaskan bahwa daya saing kopi tidak hanya ditentukan oleh volume produksi, tetapi juga oleh kualitas, manajemen usaha, serta strategi hilirisasi.
“Kami ingin mendorong petani tidak hanya fokus pada produksi, tetapi juga memahami aspek kualitas, pengolahan, dan pemasaran. Kolaborasi internasional ini menjadi langkah strategis untuk memperkuat kapasitas petani sekaligus kelembagaan agribisnis,” ujarnya.
Menurut Zuhud, kerja sama dengan UCTC UPM akan dilanjutkan melalui pendampingan jangka panjang, termasuk penguatan rantai pasok, penerapan standar mutu, serta pengembangan model agribisnis berbasis komunitas.
Ketua pelaksana kegiatan, Oki Wijaya, S.P., M.P., menyampaikan bahwa program ini merupakan tahap awal dari kolaborasi berkelanjutan yang dirancang secara sistematis.
“Ke depan, fokus kami tidak hanya pada pelatihan, tetapi juga pendampingan intensif dan pengembangan pasar. Harapannya, petani dapat memperoleh nilai tambah yang lebih besar dari produk kopi yang dihasilkan,” jelasnya.
Delegasi UPM dipimpin oleh Profesor Norsida Man, Ph.D., selaku Timbalan Pengarah UCTC UPM Bidang Pengembangan Pertanian. Ia menekankan pentingnya pendekatan agribisnis terintegrasi dalam meningkatkan daya saing komoditas pertanian di tingkat global.
“Kolaborasi lintas negara dapat membuka peluang baru bagi petani. Pertukaran pengetahuan dan pengalaman akan memperkuat inovasi sekaligus keberlanjutan usaha,” ungkapnya.
Kegiatan ini juga mendapat dukungan dari pemerintah daerah. Perwakilan Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Magelang, Widiarto Tri Saksono, menilai sinergi antara pemerintah, perguruan tinggi, dan mitra internasional sangat penting untuk meningkatkan kualitas serta konsistensi produksi kopi.
“Kami mendorong peningkatan mutu dan stabilitas produksi agar petani mampu memenuhi standar pasar, baik nasional maupun internasional,” ujarnya.
Sementara itu, Sukamsi dari Bappeda dan Litbangda Kabupaten Magelang menilai kegiatan ini selaras dengan upaya penguatan indikasi geografis Kopi Magelang.
“Standar mutu yang baik serta penguatan kelembagaan akan membuka peluang ekspor, termasuk ke Malaysia,” jelasnya.
Dalam rangkaian kegiatan, peserta melakukan kunjungan lapangan ke kebun kopi robusta dan unit pengolahan milik kelompok tani. Diskusi berlangsung mengenai praktik budidaya, adaptasi terhadap perubahan iklim, serta strategi peningkatan kualitas pascapanen.
Tim UCTC UPM juga memberikan pelatihan pemanfaatan limbah kulit kopi menjadi pupuk organik. Pendekatan ini diharapkan dapat meningkatkan efisiensi biaya produksi sekaligus mendukung praktik pertanian berkelanjutan yang ramah lingkungan.
Sebagai bentuk dukungan terhadap hilirisasi produk, kelompok tani menerima bantuan mesin grinder dan mesin espresso guna memperkuat pengolahan serta pemasaran kopi olahan.
Melalui kolaborasi ini, Program Studi Agribisnis UMY menargetkan pengembangan model agribisnis kopi berbasis kompetensi petani yang dapat direplikasi di berbagai wilayah. Pendekatan kolaboratif antara perguruan tinggi, pemerintah, dan mitra internasional diharapkan mampu memperkuat posisi kopi Indonesia di pasar global sekaligus meningkatkan kesejahteraan petani secara berkelanjutan. (Mut/Nafisa)

