SLEMAN, Suara Muhammadiyah - Perubahan zaman menuntut semua pihak harus beraklimatisasi sedemikian rupa. Demikian halnya dalam konteks menjalankan bisnis di Muhammadiyah.
Bagi Muhadjir Effendy, ciri khas bisnis Muhammadiyah berbeda dengan yang lainnya. "Untungnya bukan untuk diri masing-masing di Muhammadiyah, tapi untuk organisasi Muhammadiyah," ungkap Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah tersebut.
Sungguh demikian telah menjelma menjadi urat nadi jejak langkah Muhammadiyah. "Sudah dibangun oleh yang jalan 100 tahun lebih," singkapnya saat pembukaan Rapat Kerja Nasional (Rakernas) dan Seminar Nasional Majelis Ekonomi, Bisnis dan Pariwisata PP Muhammadiyah, Kamis (5/2) di Hotel Hyatt Yogyakarta, Palagan Tentara Pelajar, Sleman.
Dikerucutkan lagi oleh Muhadjir, ciri watak utama Muhammadiyah itu sebagai Social Corporation. "Jadi korporasi sosial, bukan private corporation," terangnya.
Maknanya kemudian, bisnis yang dijalankan oleh Muhammadiyah bukan untuk mencari keuntungan diri sendiri. "Dikembalikan untuk kepentingan masyarakat," tekannya.
Di situlah karakteristik watak dakwah Muhammadiyah. "Muhammadiyah itu inklusif," jelasnya. Bukan sebaliknya, eksklusif. Dengan demikian, bisnis Muhammadiyah orientasinya menyemai benih kemaslahatan.
"Untuk masyarakat luas, tidak untuk warga Muhammadiyah atau umat Islam saja, tapi untuk seluruh rakyat Indonesia," tegas Muhadjir.
Karena itu, pilar ketiga Persyarikatan yakni ekonomi meniscayakan gerakan prioritas. Bagi Muhadjir, banyak hal yang bisa dijalankan, pelan tapi pasti, dengan pilar ketiga ini.
"Dan ini terus kita dorong. Kita upayakan agar pilar itu segera terbangun dengan kokoh," urainya.
Terlebih lagi, pilar ketiga sudah berjalan selama 10 tahun. "Menetapkan diri, bukan ditetapkan, bertekad menjadikan ekonomi sebagai pilar ketiga setelah pendidikan dan kesehatan," jelasnya.
Maka, Muhadjir mengajak semua pengurus MEBP untuk menguatkan komitmen untuk mengejawantahkan pilar ketiga tersebut dalam denyut kehidupan secara keseluruhan. (Cris)

