BANYUMAS, Suara Muhammadiyah - Meski jam sudah menunjukkan pukul 22.26 WIB. Bukan berarti rasa kantuk dapat dengan mudah menguasai. Ini bukan soal piket jaga malam, begadang nonton bola yang umumnya tayang pada waktu dini hari, atau perkumpulan lain sebagaimana kultur masyarakat kita. Tapi ini tentang respon kepada keberlangsungan hidup umat manusia di bumi. Terkait bagaimana mengelola energi secara efisien untuk mencapai Program Net Zero Emission (NZE).
Setelah berlangsung intens selama dua hari, dua malam, Lokakarya dengan tajuk Efisiensi dan Transisi Energi Listrik di Lingkungan Pesantren secara resmi ditutup pada Ahad malam, 1 Maret 2026. Hadir dalam penutupan tersebut Ketua Lembaga Pengembangan Pesantren (LP2) Pimpinan Pusat Muhammadiyah Dr H Maskuri, M.Ed, Direktur Program 1000 Cahaya Hening Parlan, dan Mudir Pondok Pesantren Modern Zam-Zam Muhammadiyah Arif Fauzi Lc, M.Pd selaku tuan rumah.
Dalam amanatnya, Maskuri menegaskan bahwa makna modern dalam pengelolaan pesantren adalah kemampuan untuk terus relevan dengan perkembangan zaman. Menurutnya, pesantren tidak cukup hanya mempertahankan tradisi, tetapi juga harus adaptif terhadap perubahan dan tantangan masa kini, khususnya tantangan krisis energi dan ancaman perubahan iklim.
Menurutnya, pesantren yang sehat setidaknya memiliki empat indikator utama. Pertama, sehat secara fisik, yakni memiliki sarana dan prasarana yang memadai serta mendukung kenyamanan santri. Kedua, sehat lingkungan, dengan tata kelola kebersihan dan kelestarian yang baik. Ketiga, sehat secara spiritual, dengan penguatan nilai-nilai keagamaan dalam kehidupan sehari-hari. Keempat, sehat secara manajerial, yakni dikelola secara profesional, terstruktur, dan akuntabel.
“Kedepan, pesantren harus dikelola secara modern,” tegasnya. Modernitas tersebut, lanjutnya, harus diwujudkan dalam sistem manajemen, pola pembinaan, hingga budaya organisasi yang kuat.
Ia pun menyampaikan apresiasinya kepada 1000 Cahaya yang dinilai sejalan dengan upaya membangun pesantren yang unggul dan berkemajuan. Ia mengajak seluruh pihak untuk bersinergi, karena kemajuan tidak dapat diraih dengan berjalan sendiri-sendiri.
Lebih lanjut, ia menekankan bahwa untuk menjadikan nilai-nilai positif sebagai budaya, diperlukan pembiasaan yang konsisten dan berkelanjutan. Dengan semangat itu, Maskuri optimistis Pesantren Muhammadiyah akan terus tumbuh menjadi pesantren yang unggul dan berkemajuan sebagaimana yang diinginkan masyarakat.
Senada dengan itu, Hening Parlan menekankan bahwa upaya efisiensi energi di pesantren harus dilakukan secara bertahap dan terencana. Ia mengingatkan agar efisiensi dan transaksi energi tidak dilakukan secara tergesa-gesa tanpa perencanaan matang. “Sesuatu yang baik itu harus dilakukan step by step,” ujarnya.
Hening juga menegaskan bahwa pondok pesantren memiliki kontribusi nyata dalam penurunan emisi. Bahkan, pihaknya akan memberikan penghargaan kepada pesantren yang berhasil menurunkan emisi sesuai target yang telah ditetapkan.
“Kalau bisa ngobrol, banyak hal yang bisa kita lakukan bersama,” tambahnya. Upaya efisiensi energi dan penurunan emisi ini, menurutnya, bukan sekadar program teknis, melainkan bagian dari tanggung jawab moral untuk melindungi bumi, menjaga masa depan anak-anak, serta menghadirkan keberkahan bagi semua.
Menanggapi hal tersebut, Arif menegaskan komitmennya menjadikan Pondok Pesantren Modern Zam-Zam tumbuh menjadi pusat peradaban di Banyumas khususnya, dan Indonesia pada umumnya. Harapan ini sejalan dengan komitmen untuk terus mengembangkan kualitas pendidikan, penguatan nilai keislaman, serta kontribusi kepada alam dan lingkungan secara yang luas.
Menurutnya, pengembangan Zam-Zam merupakan proses yang tidak pernah berhenti. “Kami belum pernah merasa cukup untuk mengembangkan Zam-Zam ini,” ungkapnya, menegaskan semangat berkelanjutan dalam membangun dan memajukan pesantren.
Dengan komitmen modernisasi, penguatan manajerial, dan kepedulian terhadap lingkungan, Pesantren Muhammadiyah diharapkan terus tumbuh sebagai institusi pendidikan yang unggul, berkemajuan, dan berkontribusi nyata bagi keberlanjutan kehidupan di bumi. (diko)

