PADANG, Suara Muhammadiyah - Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC) terus mengerahkan seluruh pasokan tenaganya melakukan proses pemulihan pascabencana hidrometeorologi di wilayah Sumatera.
Dengan mengemas program pelatihan dukungan psikososial, kegiatan ini diikuti sebanyak 600 guru dan siswa terdampak bencana, Senin-Rabu (5-7/1) di Aula Buya Syafii Maarif Universitas Muhammadiyah Sumatera Barat.
Pelatihan tersebut merupakan hasil kerja sama LRB/MDMC dengan Pusat Kurikulum dan Pembelajaran Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (PKPLK Kemendikdasmen).
Ketua MDMC Pimpinan Pusat Muhammadiyah Budi Setiawan mengapresiasi pelatihan ini. Menurutnya kegiatan ini sangat penting diberikan sebagai bagian dari edukasi pra maupun pascabencana.
"Memberikan pemahaman (edukasi) kepada guru dan siswa tentang sikap dan langkah yang semestinya dilakukan ketika terjadi bencana," katanya saat dimintai keterangan oleh Redaksi Suara Muhammadiyah, Selasa (6/1).
Hal yang tidak bisa diremehkan, kata Budi, adalah kalangan dari mereka para penyintas. "Yang kadang mengalami satu suasana shock (keadaan bencana), yang kemudian tidak mudah untuk dilupakan," bebernya.
Budi mengungkapkan, ada sebuah kampung yang pada awalnya terisolir. Biang keroknya akses jalan terputus, lebih khusus jembatan penyeberangan antar wilayah. Jelaslah di situlah menyebabkan timbul rasa ketakutan dari masyarakat.
"Mereka ingat ketika air sungai menjadi sangat dahsyat dan bergulung-gulung dalam pandangan mereka. Sehingga mereka mengatakan, 'Daripada kami menyiapkan, lebih baik kami tinggal di sini saja. Ini sesuatu yang tidak boleh terjadi cukup lama," urainya.
Di situlah titik tekannya pelatihan ini. "Mereka (peserta) akan ditugasi, dikoordinasi oleh MDMC atau Poskorwil (Pos Koordinasi Wilayah) di Sumatera Barat untuk kemudian mendampingi para penyintas," ujarnya.
Outputnya, mereka bisa kembali pada suasana sediakala yang menyenangkan.
"Mereka akan bangkit, semangat itu harapan kami," tuturnya.
Koordinator Layanan Psikososial Posko Nasional Muhammadiyah Respons Bencana Sumatera, Natts Hendriatti menjelaskan, pelatihan ini dirancang untuk memperkuat kapasitas guru dan murid dalam menghadapi dampak psikologis pascabencana.
"Pada fase transisi menuju pemulihan, anak-anak dan pendidik membutuhkan ruang aman untuk memulihkan kondisi psikososial agar proses pembelajaran dapat kembali berjalan secara bertahap dan berkelanjutan,” jelasnya.
Pelatihan ini membantu murid mengenali perasaan dan kecemasan pascabencana, membekali teknik dasar pengelolaan stres, serta menciptakan lingkungan yang aman dan suportif bagi anak untuk berbagi pengalaman.
"Peserta juga didorong menyusun rencana pemulihan yang dapat diterapkan di sekolah maupun hunian sementara," sambungnya.
Sementara itu, bagi guru, pelatihan difokuskan pada peningkatan pemahaman mengenai dukungan psikososial dalam situasi darurat, penguatan kemampuan mendeteksi gejala psikologis pada murid, serta keterampilan menyediakan ruang aman dan pendampingan yang efektif selama masa pemulihan.
"Guru juga dibekali penyusunan rencana aksi pemulihan untuk menjamin keberlanjutan layanan pendidikan di sekolah terdampak," imbuhnya.
Pelatihan ini menghadirkan narasumber dan fasilitator dari MDMC serta kalangan profesional, antara lain Budi Santoso, SPsi., MKM., Zakarija Achmat, MSi., Psikolog, Dr Elisa Kurniadewi, Psikolog, serta Natta Hendriatti, SPsi., MSi. Dan didukung PWM Aceh, Sumatra Barat, dan Sumatra Utara.
Bersamaan dengan itu, juga melibatkan UMSB, Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara (UMSU), Universitas Muhammadiyah Mahakarya Aceh (UMMAH) Bireuen, Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Aceh (UNMUHA), serta Dinas Pendidikan Provinsi Aceh, Sumatra Barat, dan Sumatra Utara. (Budi/Cris)

