Membangun Baldah Thayyibah, Diperlukan Unifikasi Ilmu Pengetahuan dan Teknologi

Suara Muhammadiyah

10 March 2025

1457
Syafiq A Mughni

Syafiq A Mughni

LAMONGAN, Suara Muhammadiyah – Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah Syafiq A Mughni menyebut, tema "Baldah Thayyibah: Refleksi Untuk Negeri" yang diusung dalam Kajian Ramadhan 1446 H PWM Jawa Timur, Sabtu (8/3) di Universitas Muhammadiyah Lamongan, Jawa Timur sangat penting. Menurutnya tema ini menunjukkan sebuah komitmen yang tidak bisa tawar-menawar bagi Persyarikatan Muhammadiyah.

“Adalah bagaimana membangun sebuah negeri seperti yang disifati di dalam Al-Qur’an sebagai Baldatun Thayyibatun wa Rabbun Ghaffur,” katanya.

Merujuk pada asbabun nuzul (sebab muasal turunnya ayat—Qs Saba’ [34]: 15), redaksi ayat ini berkaitan dengan sebuah negeri Saba’ di Yaman. Pada zaman Nabi Sulaiman, menjadi penguasa dan kemudian mendapatkan tentang negeri tersebut.

“Maka karena bagusnya negeri itu, disifati dengan Baldatun Thayyibatun wa Rabbun Ghaffur,” terangnya.

Dalam pemikiran Muhammadiyah, representasi dari Negeri Saba’ meniscayakan sebuah negara ideal. Yakni negara yang yang sesuai dengan yang dicita-citakan, dan ini mestinyalah dapat diwujudkan bersama-sama oleh umat Islam.

“Ini adalah negara yang ideal, yang dicita-citakan. Yang mungkin saya tidak terwujud nyata yang secara persis kita bisa sebut negara itu sebagai Baldah Thayyibah wa Rabbun Ghaffur. Melainkan sebuah proses. Jadi negara itu dianggap berhasil kalau terus berproses menuju gambaran yang ideal itu,” ujarnya.

Konsep Baldah Thayyibah kalau ditinjau di era sekarang, sebagai visi kenegaraan. Visi yang harus dituju. Meski tidak bisa terwujud saat ini, akan tetapi yang terpenting adalah terletak pada proses menuju ke arah situ. Maka ini yang disebut Syafiq sebagai state of becoming.

“Sehingga kalau kita bertanya, apakah Indonesia sudah mendekati visi itu atau tidak? Maka kalau semakin mendekati berarti kita berhasil menuju Baldah Thayyibah. Tapi kalau semakin menjauh berarti kita menuju Baldah Sayyiah,” tuturnya.

Untuk menuju Baldah Thayyibah, maka sambung Syafiq dibutuhkan integrasi antara ilmu pengetahuan dan teknologi. Ini menjadi suatu perkembangan yang terus-menerus akan terus terjadi secara akumulatif.

“Semakin hari (teknologi) semakin tinggi, semakin canggih. Tidak ada istilah surut ke belakang. Tidak ada istilah stagnasi di dalam perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Maka, sudah jelas bahwa ilmu pengetahuan yang terus berkembang, menjadi salah satu indikator sebuah negeri bisa dikatakan sebagai Baldah Thayyibah,” sebutnya. (Cris)


Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Berita

MAKASSAR, Suara Muhammadiyah — Universitas Muhammadiyah (Unismuh) Makassar mencatat capaian ba....

Suara Muhammadiyah

16 December 2025

Berita

KUALA LUMPUR, Suara Muhammadiyah – Dalam rangka memperluas jaringan kerjasama internasional, F....

Suara Muhammadiyah

22 May 2024

Berita

GOWA, Suara Muhammadiyah - Penelitian Eco Bhinneka Muhammadiyah Sulawesi Selatan (Sulsel) di Manimba....

Suara Muhammadiyah

22 October 2025

Berita

PEKALONGAN, Suara Muhammadiyah — Kabar membanggakan datang dari Universitas Muhammadiyah Pekaj....

Suara Muhammadiyah

9 April 2026

Berita

YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah - SD Muhammadiyah Sapen terus mengembangkan relasi dan kolaboras....

Suara Muhammadiyah

26 September 2024

Tentang

© Copyright . Suara Muhammadiyah