Membangun Kembali Fondasi Silaturahmi

Publish

17 March 2026

Suara Muhammadiyah

Penulis

0
67
Foto: Freepik

Foto: Freepik

MEMBANGUN KEMBALI FONDASI SILATURAHIM

Oleh: Prof. Dr. H. Muh. Hizbul Muflihin, M.Pd, PDM Banyumas, Jawa Tengah

Konsep Silaturrahim

Silaturrahim berasal dari dua kata yaitu „silatun“ dan „rahim“. Silatun secara bahasa mengandung arti; menyambung, menghubungkan, mengkaitkan dan makna yang sejenis. Sadangkan „rahiim“ berarti; kandungan dan kasih sayang. Dengan demikian „Silaturahim“ adalah suatu aktivitas menyambung dan mengeratkan persaudaraan atas dasar hubungan kasih sayang terhadap saudara serahim, sepersusuan dan seketurunan.  

Dalam konteks sosial hakikatnya silaturahim bisa terjadi kapan saja dan dimanapun, namun kata silaturahim menjadi hit dan populer seiring dengan datangnya masa lebaran atau „Idul Fithri“ atau masa lebaran sebagaimana tahun 2026 ini.

Silaturahim adalah proses sosial dengan tujuan menumbuhkan rasa empati, rasa senang, dan sikap saling mengenal dan saling membantu yang terjadi dalam suatu kelompok sosial tertentu, dengan beragam kelompok dan status sosial yang terkadang dibalut dengan nama suatu komunitas tertentu. Silaturahim menjadi pintu penting untuk tumbuh kembangnya rasa saling menyayangi, mengasihi dan saling menerima secara lahiriyah dan bathiniyah.

Dengan adanya silaturahim penghambat penyelesaian masalah atau konflik bisa diselesaikan dan bisa diputuskan bersama-sama. Sebab munculnya konflik atau masalah dalam scope kecil seperti rumah tangga atau scope besar dalam organisasi atau negara, terkadang disebabkan oleh tujuan yang sama namun berbeda cara pandang dan cara mewujudkanya.

Filosofi Putusnya Tali

Makna dibalik „silatun“ atau menyambung dapat menimbulkan beberapan varian, yaitu menyambung suatu hal yang terputus, menyambung dua hal yang memang sudah panjang, dan menyabung sesuatu yang pendek kemudian terputus sehingga menjadi  beberapa bagian.

Dilihat dari kacamata sosiologi, terbentuknya keluarga karena adanya dua hal yang memang berbeda jenis kelamin, strata sosial, pendidikan dan bahkan berbeda suku dan bangsa.  Dimana keluarga sebagai unsur terkecil dari terbentuknya suatu bangsa adalah merupakan satuan rumah tangga terdiri dari seorang laki-laki sebagai suami dan seorang perempuan sebagai istri. 

Dari pasangan suami dan istri secara kodrati akan melahirkan anak-anak laki-laki dan juga perempuan. Munculnya anak dalam keluarga merupakan salah satu pertanda keluarga mendapatkan barokah dari Allah SWT, dan hal ini bukan berarti bahwa pasangan suami istri yang belum atau tidak dikaruniai anak  sebagai keluarga yang tidak diberkahi oleh Allah SWT. Hal ini merujuk pendapat Soerjono Soekanto bahwa keluarga adalah satuan terkecil terdiri dari suami-istri dan atau anak.                    

Dalam keluarga muda atau pemula relatif terjalin hubungan yang sangat akrab, saling menyayangi mengasihi antara ayah dan ibu, dan antara ibu dengan anak serta bapak dengan anak. Hubungan hangat di antara anggota keluarga tersebut terjadi kerena tidak ada sekat waktu dan tempat, karena anak-anak masih dalam satu asuhan  dan satu rumah sehingga ayah dan ibunya bisa mencurahkan kasih dan sayangnya secara maksimal dan tulus.

Terputus Silaturahim : Antara kodrat dan Keinginan

Keutuhan keluarga merupakan suatu harapan, namun ketika anak-anak sudah mulai mengenal dunia luar, secara alami akan terbentuk sikap hidup, pedoman hidup dan orientasi hidup. Ketika anak-anak beranjak dewasa juga sudah mengenal hoby dan bisa menjadi pembuka untuk mendapatkan jenis pekerjaan. Seiring dengan kedewasaannya dalam betindak dan berpikir,  saat itu pula anak akan menjatuhkan pilihan untuk membangun rumah tangga dan siap dengan segala konsekwensinya.

Di sinilah keluarga kecil (keluarga inti)  mulai membesar melebarkan sayap persaudaraan dan terjalin tali silaturrahim yang lebih besar pula. Kondisi yang demikian bisa menjadi semakin membesar dan menjadi keluarga besar, saat orang tua memiliki anak-anak dengan jumlah banyak. Saat anak-anak mulai menikah, maka saat itu pula kelurga inti menjadi keluarga besar untuk sementara waktu (bisa jadi akan berkumpulkan dengan orang tuanya). 

Saat orang tua berkumpul dengan anak-anak dan bersama dengan anak-anak menantu (bisa jadi belum punya keturunan atau sudah), maka jalinan komunikasi dan silaturahim landai dan aman-aman saja berjalan dengan baik dan lancar. Namun pada saaat anak-anak sudah berrumah tangga, ditambah dengan mendapatkan pekerjaan tertentu  di luar kota, maka mulai saaat itu jalinan komunikasi dan silaturahim secara berangsur sudah mulai terhambat dan mulai kurang intensif.

Kondisi yang demikian  adalah merupakan kodrat Allah Yang Maha Kuasa oleh karena anak-anak sudah mulai bisa berpikir dan bisa mengambil sikap dalam menjalani bahtera rumah tangganya. Secara alami moment kumpul bareng dan silaturahim yang awalnya bisa diikuti dengan nyaman dan enak (karena masih bersama kedua orang tuanya), mulailah renggang, terhambat dan bisa benar-benar terputus karena soal tempat tinggal yang acapkali ada kaitannya dengan pekerjaan pokok yang dijalani oleh anaknya (sebagai suami atau istri).

Renggang dan terputusnya tali silaturrahim dari keluarga inti (orang tua masing-masing), bisa terjadi bukan karena disebabkan oleh jarak atau rumah tinggal yang memang tidak berdekatan lagi dengan orang tuanya atau dengan saudara-saudara yang lain, namun juga terkadang bisa disebabkan oleh rasa kurang nyaman untuk bergaul dan saling menyapa yang disebabkan oleh faktor ekonomi pula. Al Qur’an memberi isyarat tentang kemungkian retaknya hubungan  silaturahim karena masalah kekuasaan dan keberadaan. Allah SWT telah menggambarkannya dalam surat Muhammad Ayat 22-23. 

فَهَلْ عَسَيْتُمْ اِنْ تَوَلَّيْتُمْ اَنْ تُفْسِدُوْا فِى الْاَرْضِ وَتُقَطِّعُوْٓا اَرْحَامَكُمْ.٢٢ اُولٰۤىِٕكَ الَّذِيْنَ لَعَنَهُمُ اللّٰهُ فَاَصَمَّهُمْ وَاَعْمٰٓى اَبْصَارَهُم٢٣.

Artinya: "Maka apakah kiranya jika kamu berkuasa kamu akan membuat kerusakan di muka bumi dan memutuskan hubungan kekeluargaan? Mereka itulah orang-orang yang dilaknati Allah dan ditulikan-Nya telinga mereka, dan dibutakan-Nya penglihatan mereka."

Wujud dan Bentuk Menyambung Silaturahim

Soal menyambung silaturahim dalam dalam Sejarah sudah diajarkan 14 abad yang lalu, sebagaimana ditegaskan dalam surat An-Nisa‘ : 1, dan hadis Rasulullah SAW yang diriwayatkan Bukhari Nomor : 5532,  5986 & Muslim No. 2557. Begitu pentingnya silaturahim hadis Nabi Muhammad SAW  yang diriwayatkan oleh Bukhari No. 5988 & Muslim No. 2555, menegaskan larangan keras memutus tali persuadaraan atau silaturahim.

Silaturahim dapat dilaksanakan dalam bentuk informal berupa; mengunjungi rumah orang tua, kerabat, atau teman lama secara langsung sebagaimana musim mudik lebaran tahun ini. Tradisi mudik bukan saja menjadi moment untuk bertemu dengan sanak kerabat, dan keluarga besar, namu juga bisa diisi dengan kegiatan sosial dengan berbagi rizki dalam bentuk infaq dan shodaqoh.

Silaturahim bisa juga dilakukan dengan cara menghubungi saudara atau teman yang sudah lama tidak disapa melalui telepon atau pesan. Hal yang demikian tidak mengurangi makna dan nilai silaturahim, sebab juga bisa dilakukan secara face to face secara pribadi atau berkelompok (Video Call). Selain itu silaturahim juga dapat dilakukan dengan mengadakan reuni keluarga (halal bihalal) sebagaimana moment idul fithri 1447 H.

Dengan masa libur yang cukup panjang sekitar 7 hari, dapat dimanfaatkan sebaik-baiknya untuk menjalin silaturahim dengan sanak saudara, apalagi bagi yang masih mempunyai orang tua. Mudik lebaran memang melelahkan secara fisik, namun dengan dibalut niat untuk menggembirakan sanak saudara dan keluarga batih dikampung halaman berupa berinfaq dan shodaqoh, lelah akan menjadi berbuah lillah. 


Komentar

Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Wawasan

Kesehatan Otak, Para Pemimpin Indonesia Antara “Leadership” dan “Dealership”....

Suara Muhammadiyah

23 October 2023

Wawasan

Menjaga Kesadaran dalam Berkomunikasi Oleh: Afita Nur Hayati, Bekerja di UIN Sultan Aji Muhammad Id....

Suara Muhammadiyah

29 April 2024

Wawasan

Mendamaikan Sains dan Al-Qur'an: Banjir Nuh dalam Pandangan Islam Oleh: Donny Syofyan, Dosen Fakult....

Suara Muhammadiyah

15 October 2025

Wawasan

Qurban Bentuk Pengorbanan, Kesetiaan dan Kasih Sayang Ika Sofia Rizqiani, S.Pd.I., M.S.I, Dosen Al ....

Suara Muhammadiyah

17 May 2025

Wawasan

Baju Lebaran, Simbol Kesucian atau Ritual Konsumsi Tahunan? Oleh: Ratna Arunika, Anggota LLHPB &nda....

Suara Muhammadiyah

17 March 2026

Tentang

© Copyright . Suara Muhammadiyah