Membumikan “Profetik” dalam Segala Bidang Kehidupan
Penulis: Dr. M. Samson Fajar, M.Sos.I, Dosen Universitas Muhammadiyah Metro
Istilah profetik mungkin belum sepenuhnya akrab di telinga masyarakat luas. Namun sesungguhnya, nilai profetik adalah inti terdalam dari visi dan gerakan Muhammadiyah sejak kelahirannya. Ia bukan sekadar istilah akademik, melainkan ruh dakwah amar makruf nahi munkar untuk mewujudkan masyarakat Islam yang sebenar-benarnya.
Dalam Al-Qur’an, misi profetik ditegaskan secara eksplisit “Kamu adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang makruf, mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah.”
(QS. Ali ‘Imran: 110)
Ayat ini bukan hanya deskripsi identitas, tetapi juga peta jalan peradaban. Profetik di sini bermakna: iman yang hidup, moral yang membumi, dan keberpihakan sosial yang nyata.
Profetik sebagai Visi: Dakwah yang Mencerahkan
Sebagai visi, profetik berarti menghadirkan dakwah rahmatan lil ‘alamin, dakwah yang mencerahkan kehidupan dunia tanpa memutus orientasi akhirat. Allah menegaskan “Allah adalah Pelindung orang-orang beriman; Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan menuju cahaya.”
(QS. Al-Baqarah: 257)
Muhammadiyah sejak awal berdiri tidak memilih jalur dakwah yang eksklusif dan simbolik semata, melainkan dakwah pencerahan: melalui pendidikan, kesehatan, sosial, ekonomi, dan kebudayaan. Inilah profetik yang bekerja dalam sejarah—mengubah gelap menjadi terang, ketertinggalan menjadi kemajuan.
KH. Ahmad Dahlan pernah menegaskan bahwa agama harus “menggerakkan”, bukan hanya “didengungkan”. Islam, dalam pandangan beliau, harus menjadi kekuatan transformasi sosial.
Profetik sebagai Sifat: Holistik Dunia dan Akhirat
Sebagai sifat, profetik meniscayakan cara pandang holistik: dunia dan akhirat tidak dipertentangkan, tetapi disatukan. Segala aktivitas hidup—belajar, bekerja, berorganisasi, berbisnis—harus memiliki nilai ukhrawi.
Inilah yang ditegaskan Al-Qur’an: “Carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu kebahagiaan negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bagianmu di dunia.”
(QS. Al-Qashash: 77)
Profetik membebaskan manusia dari dikotomi semu: modern tetapi kehilangan makna, religius tetapi terasing dari realitas. Dunia boleh maju, teknologi boleh berkembang, tetapi nilai akhirat tetap menjadi kompas moralnya.
Profetik sebagai Paradigma: Nalar Kenabian
Sebagai paradigma, profetik adalah cara berpikir kenabian—cara berpikir yang menyelamatkan, mensejahterakan, dan memanusiakan manusia. Filosof Muslim kontemporer, Kuntowijoyo, menyebut profetik sebagai integrasi tiga nilai utama:
humanisasi (amar makruf), liberasi (nahi munkar), dan transendensi (iman kepada Allah).
Paradigma ini tidak netral nilai. Ia berpihak pada keadilan, membela yang lemah, dan mengoreksi kekuasaan yang menyimpang. Inilah nalar para nabi: tidak hanya saleh secara personal, tetapi juga kritis terhadap struktur sosial yang zalim.
Haedar Nashir menegaskan bahwa Muhammadiyah harus terus menghadirkan Islam sebagai kekuatan etis dan peradaban, bukan sekadar identitas simbolik.
Profetik sebagai Gerakan: Kemanusiaan, Pembebasan, dan Tauhid
Sebagai gerakan, profetik menjelma menjadi:
1. Gerakan kemanusiaan – melayani tanpa diskriminasi;
2. Gerakan pembebasan – membebaskan manusia dari kebodohan, kemiskinan, dan ketidakadilan;
3. Gerakan tauhid – meneguhkan bahwa semua amal bermuara pada Allah.
Inilah yang tampak dalam Amal Usaha Muhammadiyah: sekolah, rumah sakit, panti asuhan, lembaga zakat, hingga gerakan kebencanaan. Semua bukan sekadar institusi, tetapi manifestasi tauhid sosial.
Profetik di Era Globalisasi: Ruh dan Kontrol Diri
Di tengah arus globalisasi yang serba cepat dan kompetitif, profetik menjadi ruh dan kontrol diri. Ia menjaga agar kemajuan tidak kehilangan arah, dan modernitas tidak menyingkirkan nilai.
Tanpa profetik, ilmu bisa kehilangan hikmah, kekuasaan kehilangan etika, dan kemajuan kehilangan kemanusiaan.
Menjadikan Profetik sebagai Ruh Gerakan Muhammadiyah
Sudah saatnya profetik tidak hanya menjadi jargon visi, tetapi bahasa sehari-hari gerakan. Seluruh amal usaha dan aktivitas Muhammadiyah perlu menjadikan profetik sebagai ruh, paradigma, dan orientasi.
Dengan demikian, profetik tidak lagi terdengar asing, tetapi terasa hidup—di sekolah, di rumah sakit, di mimbar dakwah, di ruang kebijakan, dan di tengah masyarakat.
Karena pada akhirnya, profetik bukan sekadar kata, melainkan jalan hidup:
jalan iman yang mencerahkan,
ilmu yang memanusiakan,

