Menjelang Keruntuhan Amerika
Oleh: Immawan Wahyudi, Tenaga Pengajar pada Fakultas Hukum UAD, Mantan Ketua Umum DPP (S) IMM 1985-1986
Judul tulisan sederhana ini sama persis dengan Buku Karya Emmanuel Todd yang aslinya berjudul l'Empire: Essai sur la décomposition du système américain (2002) lalu diterjemahkan menjadi Menjelang Keruntuhan Amerika, diterbitkan oleh Penerbit Menara tahun 2006. Buku ini merupakan analisis geopolitik yang provokatif dan mendalam. Buku ini menarik karena pengarang buku Emmanuel Todd adalah seorang antropolog, demografer, dan sejarawan Prancis. Dengan menggunakan pendekatan unik untuk meramalkan kemunduran Amerika Serikat sebagai satu-satunya negara adidaya. Lebih menarik lagi Kata Pengantar buku ini ditulis Prof. Syafii Maarif dalam tiga halaman lebih sedikit.
Ungkapan Buya Syafii menjadi menarik karena sepertinya beliau menaruh respek kepada Todd. Penulis kutip tulisan Buya Syafii:
”Pada 1975 Todd memprediksi akan terjadinya kemerosotan dan kejatuhan Uni Soviet berdasarkan hasil penelitiannya berdasarkan sudut pandang antropologi kultural, demografi, dan ekonomi. Sarjana Barat lain yang mengaku ahli ahli Soviet pada waktu itu melecehkan prediksi ”gila” ini...´ Tetapi tampilnya Mikhail S. Gorbachev dengan glasnost (keterbukaan) dan perestroika (penataan kembali) yang kemudian membawa kehancuran Uni Soviet.” Buya Syafii mengutip Todd bahwa tampilnya Gorbachev hanya mempercepat keruntuhan saja.,,”
Mungkin ada kesamaan antara Gorbachev dengan Trump yakni sama-sama kurang disukai oleh rakyatnya. Kalo Gorbachev tidak disukai karena tidak suka minuman keras sedang Presiden Trump tidak disukai rakyat Amerika Serikat (AS) karena (salah satunya) terlibat langsung dalam kekejaman Israel terhadap Bangsa Merdeka Palestina dengan dengan kekejaman yang sangat luar biasa.
AnalisisTodd
Penulis ingin memperoleh gambaran yang relatif akurat dengan bertanya kepada AI apa saja yang menjadi inti pemikiran Todd tentang keruntuhan Amerika Serikat. Berikut adalah uraian inti analisis dan teori yang digunakan oleh Emmanuel Todd. Inti Analisis Todd adalah kemunduran hegemoni AS. Todd berargumen bahwa Amerika Serikat, setelah runtuhnya Uni Soviet, bukan lagi sebagai negara adidaya yang kokoh, melainkan sebuah "kekaisaran" yang rapuh (pseudo-empire). Todd juga menyoroti pergeseran posisi AS yang tadinya menjadi super power dalam mengatasi atau mencari solusi atau pemecah masalahan (problem-solver) berubah menjadi bagian dari "masalah itu sendiri" (the problem) bagi dunia.
Jika bicara soal AS tidak mungkin mengabaikan pembicara tentang militer. Tetapi Todd menempatkan tindakan militer AS yang agresif dalam perspektif negatif dengan menyebut tindakan penyerangan Irak dan Afganistan –dan juga Libya (penulis). Bagi Todd realita ini bukanlah merupakan tanda kekuatan, melainkan tanda kelemahan dan ketidakamanan, yang oleh Todd disebut sebagai "mikro militerisme teatrikal". Sebagaimana begitu pentingnya militer bagi AS begitu pula dengan ekonomi. Todd menyebut AS mengalami ketergantungan ekonomi yang digambarkan sebagai "ekonomi bulimia" yakni ketergantungan pada impor dan modal asing, yang menyebabkan hancur secara industri, dan tidak lagi memproduksi nilai yang cukup untuk menopang perannya sebagai “polisi dunia.”
Teori dan Tiga Kelemahan AS
Sebenarnya Todd tidak menggunakan pendekatan politik murni, melainkan kombinasi multidisipliner yakni: Antropologi Keluarga dan Demografi karena posisinya sebagai spesialis antropologi keluarga, dan teori Imperial Overstretch (kekaisaran yang berlebihan) yakni kerakusan untuk terus berusaha mengendalikan terlalu banyak area di dunia dengan sumber daya yang semakin terbatas, dan teori Analisis Ideologis yakni kemerosotan nilai-nilai universalisme AS (kesetaraan) digantikan oleh "diferensialisme" dan "eksepsionalisme" (rasisme/rasa unggul), yang bermuara pada kenyataan AS kehilangan soft power.
Di luar persoalan teori ilmiah sebagai basis analisis, Todd mengatakan adanya tiga kelemahan struktural AS. Todd memerinci tiga penyebab utama runtuhnya sistem Amerika sebagai berikut. Pertama, kekurangan sumber daya ekonomi dan finansial yakni defisit perdagangan yang masif yang membuat AS bergantung pada kebaikan hati investor asing. Kedua, kekurangan sumber daya militer maksudnya meskipun canggih, namun militer AS tidak mampu melakukan pendudukan jangka panjang yang efektif dengan contoh pendudukannya terhadap Irak sebagai keterbatasan yang nyata. Ketiga, hilangnya universalitas dimana AS yang berideologi liberal dan demokratis, telah berubah menjadi arogan dan paranoid, menjadikan berkurangnya legitimasi internasional..
Prediksi Masa Depan AS
Dalam bukunya itu, Todd memprediksi runtuhnya Pax Americana, dimana Amerika akan kehilangan statusnya sebagai satu-satunya adidaya. Todd memprediksi akan munculnya aliansi Eurasia. Suatu koalisis baru sebagai ganti dominasi AS, terutama munculnya aliansi kekuatan Eropa, Rusia, dan Jepang. Todd juga memprediksi AS akan mengalami Stalemate (jalan buntu). Secara eksplisit Todd memang tidak meramalkan kehancuran total AS secara instan, melainkan transisi ke dunia multipolar di mana tidak akan ada lagi negara yang bisa mendominasi secara mutlak, sebagaimana yang biasa dibangga-banggakan oleh AS.
Analisis Todd berfokus pada pergeseran dari "kekaisaran" yang aktif menjadi negara biasa yang bermasalah (penuh masalah, pen.), di mana ketergantungan ekonomi dan penurunan komitmen terhadap nilai-nilai demokrasi universal menjadi pemicu utama keruntuhan tersebut. Kesimpulan Todd ini menurut hemat penulis sedikit atau banyak tergambarkan oleh kebrutalan kepemimpinan Donald Trump yang nampaknya ”gila perang.” Hari-hari ini Presiden Trump bersama Netanyahu sedang mendemonstrasikan wajah neraka dengan menyerang Republik Islam Iran karena tidak mau tunduk kepada nafsu kuasa dua tokoh brutal yang melampaui norma universal manusia.
Menurut hemat penulis Presiden Trump tidak menunjukkan kepemimpinan AS dengan nilai-nlai universal tetapi menjadi rasis yang sangat berbahaya. Semua tingkah polah Presiden Trump relatif menggambarkan apa yang telah dikatakan dikatakan oleh Todd tahun 2002 yakni AS telah berubah dari negara liberal demokratis yang menjadi pemecah masalah dunia menjadi negara yang menimbulkan permasalahan-permasalahan serius baru di dunia.
Tingkah laku politik domestik Presiden Trump, misalnya sikap arogan dan rasisnya ketika mengomentari Walikota New York yang Muslim, menangkap Presiden Venezuela, mendikte secara arogan negara-negara (termasuk Republik Indonesia) untuk berkomitmen dalam gagasan perdamaian di Palestina (yang sebenarnya hanyalah tipu daya belaka) dan arogansinya dalam perjanjian tarif sepenuhnya telah menggambarkan bahwa pemimpin bangsa (mungkin juga dengan bangsanya) yang angkuh, dzolim dan penuh masalah memang pantas dan akan segera menemui kehancurannya.*

