KARANGANYAR, Suara Muhammadiyah – Pelatihan Mubaligh Mahasiswa Muhammadiyah Jawa Tengah yang digelar DPD IMM Jawa Tengah pada Jumat-Ahad, 13–15 Februari 2026 di Karanganyar berlangsung penuh semangat dan optimisme.
Mengusung tema “Menjawab Krisis, Merawat Harmoni: Peran Strategis Mubaligh Muda dalam Dakwah Berkemajuan”, kegiatan ini menghadirkan Ketua Lembaga Dakwah Komunitas Pimpinan Pusat Muhammadiyah Muchamad Arifin.
Dalam sesi materinya, Muchamad Arifin menegaskan bahwa mubaligh mahasiswa tidak cukup hanya piawai di atas mimbar, tetapi harus mampu membaca krisis sosial, krisis moral, dan krisis harmoni yang terjadi di tengah masyarakat.
“Dakwah hari ini bukan hanya soal retorika, tetapi tentang kehadiran nyata. Mubaligh muda harus mampu menjawab krisis dengan solusi, dan merawat harmoni dengan keteladanan,” tegas Arifin.
Ia mengajak para kader IMM untuk menjadikan dakwah sebagai gerakan pemberdayaan yang menyentuh akar persoalan umat. Menurutnya, tantangan era digital, polarisasi sosial, hingga krisis kepercayaan publik menuntut lahirnya mubaligh yang adaptif, inklusif, dan berkemajuan.
“Mahasiswa adalah agen perubahan. Maka dakwah kalian harus berbasis ilmu, berbasis data, dan menyentuh komunitas. Hadirkan Islam yang mencerahkan dan menggembirakan,” tambahnya.
Arifin juga menekankan pentingnya merawat harmoni kebangsaan di tengah keberagaman. Baginya, mubaligh muda Muhammadiyah harus menjadi jembatan dialog, bukan sumber perpecahan.
"Dakwah berkemajuan adalah dakwah yang menguatkan persatuan, memberdayakan masyarakat, dan menghadirkan solusi konkret," tuturnya.
Dengan semangat kebersamaan dan komitmen dakwah yang kuat, Pelatihan Mubaligh Mahasiswa Muhammadiyah Jawa Tengah menjadi momentum penting dalam menyiapkan generasi dai muda yang siap menjawab krisis zaman sekaligus merawat harmoni dalam bingkai dakwah berkemajuan.

