YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah – Pimpinan Wilayah Muhammadiyah DIY mengadakan Pengajian Ramadhan 1447 H pada hari Sabtu, 28 Februari 2026. Acara yang mengusung tema "Keadaban Ekologis untuk Masa Depan Semesta" tersebut dilangsungkan di Amphitarium Universitas Ahmad Dahlan.
Pengajian bertema lingkungan ini tidak luput membahas isu krisis lingkungan global. Pada pembahasan tersebut menghadirkan Hening Purwati Parlan, S.Sos., M.M selaku Wakil Ketua II Majelis Lingkungan Hidup PP Muhammadiyah.
Ia menegaskan bahwa dunia saat ini menghadapi tiga persoalan besar yang dikenal sebagai Triple Planetary Crisis.
Menurut Hening, tiga krisis tersebut meliputi perubahan iklim (climate change), polusi, dan hilangnya keanekaragaman hayati (biodiversity loss). Ketiganya saling berkaitan dan memberikan dampak nyata bagi Indonesia.
“Kita ini sangat kental terdampak, tetapi sekaligus juga berkontribusi dalam merusaknya,” ujarnya.
Ia menjelaskan bahwa Indonesia termasuk negara yang sangat rentan terhadap perubahan iklim. Intensitas hujan ekstrem yang memicu banjir dan longsor bukanlah peristiwa yang terjadi secara tiba-tiba, melainkan akibat anomali iklim yang terus berulang.
Data pemerintah menunjukkan lebih dari 85 persen bencana di Indonesia merupakan bencana hidrometeorologi, seperti banjir, longsor, kebakaran hutan dan lahan, kekeringan, dan gelombang pasang. Bahkan pada periode November–Desember, angka tersebut dapat mencapai 92 persen. Artinya, bencana yang benar-benar murni geologis jumlahnya relatif kecil dibandingkan bencana akibat perubahan iklim.
Selain perubahan iklim, persoalan polusi juga menjadi perhatian serius. Hening menyoroti kondisi kualitas udara di Jawa Barat dan Jakarta yang mengalami peningkatan pencemaran signifikan, terutama akibat aktivitas industri besar dan keberadaan PLTU.
Dalam kerja sama dengan MPKU (Majelis Pembinaan Kesehatan Umum) Jawa Barat, ditemukan bahwa angka penderita penyakit jantung dan tekanan darah tinggi meningkat di wilayah sekitar pembangkit listrik. “Udara yang kita hirup sesungguhnya sudah sangat berbahaya,” tegasnya. Dampaknya mulai dari batuk, iritasi mata, kelelahan, hingga gangguan pernapasan serius.
Persoalan ketiga adalah hilangnya keanekaragaman hayati. Indonesia yang dikenal sebagai negara megabiodiversitas kini mengalami penurunan signifikan. Hening mencontohkan hilangnya capung dan suara kodok yang dahulu mudah dijumpai, tetapi kini semakin jarang terdengar. Terutama di kawasan perkotaan seperti Jakarta.
Di sektor kehutanan, Indonesia disebut telah kehilangan sekitar 11 juta hektare hutan, setara dengan 110 kali luas Kota Jakarta atau lebih luas dari Korea Selatan. Kerusakan tersebut, menurutnya, bukan semata akibat aktivitas petani kecil, melainkan karena sistem perizinan penebangan skala besar.
Sebagai solusi, Hening menekankan pentingnya restorasi ekologi yang bekerja pada level ekosistem secara menyeluruh, tidak hanya pemulihan fisik lingkungan tetapi juga aspek sosial dan ekonomi masyarakat.
Ia juga mengaitkan isu lingkungan dengan dimensi teologis. “Kalau kita berislam dan menyatakan tauhid, maka tauhid harus terefleksikan dalam tindakan. Kalau masih merusak, berarti belum benar tauhidnya,” ujarnya.
Melalui gerakan “1.000 Cahaya” di Yogyakarta, Muhammadiyah melakukan langkah konkret berupa pelatihan efisiensi dan transisi energi bagi 270 kepala rumah tangga Amal Usaha Muhammadiyah (AUM). Pelatihan juga dilakukan bersama 50 guru Pondok Pesantren Zam-zam serta audit energi di RS PKU Gamping.
Hasil audit menunjukkan pemborosan energi justru banyak terjadi di area non-medis seperti kantin dan laundry, bukan di ruang operasi.
Targetnya, setiap AUM mampu menghemat energi hingga 23 persen. Universitas Ahmad Dahlan (UAD) saat ini telah mencapai penghematan 9 persen dan terus diarahkan menuju target tersebut.
Mahasiswa yang mengambil mata kuliah Green Fikih juga akan diterjunkan ke lima rumah sakit di Yogyakarta untuk melakukan audit energi sebagai bagian dari kontribusi nyata penurunan emisi.
“Kami tidak ingin mengutuk kegelapan. Muhammadiyah harus berkemajuan dengan berkontribusi pada penurunan emisi dunia,” pungkasnya. (Naf)
