Muhammadiyah Butuh Intelektual Organik, Bukan Menara Gading

Suara Muhammadiyah

Penulis

0
153

MAKASSAR, Suara Muhammadiyah — Ketua Majelis Pembinaan Kader dan Sumber Daya Insani (MPKSDI) Pimpinan Pusat Muhammadiyah Bachtiar Dwi Kurniawan menyampaikan kepada sivitas akademika Universitas Muhammadiyah Makassar agar tidak berhenti menjadi kaum terdidik yang sibuk dengan capaian akademik pribadi. Dalam Darul Arqam Angkatan IV Unismuh Makassar, ia menyerukan pentingnya melahirkan intelektual organik, yakni intelektual yang membumi, kritis, solutif, dan berpihak pada masyarakat.

Di hadapan peserta pembukaan Darul Arqam yang berlangsung di Balai Sidang Muktamar Unismuh Makassar, Kamis, 21 Mei 2026, Bachtiar mengingatkan bahwa kemajuan Muhammadiyah tidak boleh hanya tampak pada gedung, amal usaha, infrastruktur, dan capaian institusional. Kemajuan itu, katanya, harus diisi dengan jiwa, spirit, dan ideologi agar tidak kehilangan arah.

“Kemajuan itu jangan sampai kropos. Kemajuan itu harus diisi dengan jiwa. Diisi dengan spirit. Diisi dengan ideologi,” kata Bachtiar. 

Menurut Bachtiar, Darul Arqam menjadi ruang penting untuk menyamakan gelombang bermuhammadiyah. Ia menyebut penguatan ideologi, paham keislaman, dan kemuhammadiyahan tidak boleh berhenti di ruang normatif, tetapi harus turun ke amal usaha, organisasi otonom, jamaah, dan kehidupan sosial warga Muhammadiyah.

Dalam konteks perguruan tinggi, Bachtiar menyoroti posisi dosen sebagai kader terdidik Muhammadiyah. Ia mengingatkan bahwa dosen Muhammadiyah tidak cukup hanya pandai meneliti, menulis jurnal, mengejar angka kredit, atau memenuhi jabatan fungsional. Semua capaian itu penting, tetapi menjadi hampa apabila tidak memberi manfaat bagi masyarakat.

Ia lalu mengutip gagasan Antonio Gramsci tentang intelektual tradisional dan intelektual organik. Menurut Bachtiar, Muhammadiyah tidak menghendaki lahirnya intelektual tradisional yang hanya berdiri di menara gading dan abai terhadap penderitaan masyarakat.

“Masyarakat mau bodoh, nggak peduli. Masyarakat susah, nggak peduli. Pemerintah ugal-ugalan, nggak peduli. Yang penting publikasi saya jalan. Yang penting kum saya meningkat. Yang penting jabatan fungsional saya tercapai,” ujarnya. 

Bachtiar menegaskan, sikap seperti itu bertentangan dengan watak dakwah Muhammadiyah. Bagi Muhammadiyah, ilmu harus menjadi jalan keberpihakan. Riset harus melahirkan solusi. Intelektualisme harus menjadi energi perubahan sosial.

“Nah Muhammadiyah nggak ingin kader-kadernya, termasuk kader-kadernya dosen ini, hanya menjadi intelektual tradisional. Tapi intelektual organik seperti yang digambarkan oleh Antonio Gramsci,” kata Bachtiar. 

Ia kemudian merumuskan watak intelektual organik Muhammadiyah sebagai intelektual yang kritis, solutif, problem solver, dan down to earth. Intelektual seperti ini tidak hanya membaca persoalan dari ruang kelas, tetapi hadir dalam denyut kehidupan masyarakat.

“Jadilah intelektual kritis, intelektual yang solutif, intelektual yang problem solver, intelektual yang down to earth, yang melakukan gerak-gerak dakwah memberikan solusi kepada masyarakat,” ujarnya. 

Bachtiar juga mengingatkan agar hasil penelitian dosen tidak jatuh ke dalam “valley of death” atau lembah kematian. Istilah itu ia gunakan untuk menggambarkan banyaknya riset dan inovasi yang berhenti di laboratorium, laporan, gudang, atau dokumen visitasi tanpa pernah menyentuh kebutuhan masyarakat.

Karena itu, ia mendorong sinergi perguruan tinggi, industri, dan pemerintah. Dalam pandangannya, ilmu yang diproduksi kampus Muhammadiyah harus bergerak keluar, menjawab persoalan umat, dan menjadi bagian dari dakwah berkemajuan.

“Ilmu Bapak Ibu itu menjadi bermanfaat, solutif bagi kehidupan,” katanya. 

Selain kompetensi intelektual akademik, Bachtiar menegaskan pentingnya kompetensi ideologis. Dosen Muhammadiyah, katanya, perlu memahami untuk apa ilmu digunakan, kepada siapa ilmu berpihak, dan melalui jalan apa ilmu itu diabdikan.

Ia mendorong peserta Darul Arqam agar tidak berhenti sebagai pegawai amal usaha. Mereka diminta aktif dalam Muhammadiyah, baik di tingkat ranting, cabang, daerah, wilayah, maupun pusat. Amal usaha, menurut Bachtiar, adalah sarana dakwah dan alat perjuangan untuk mewujudkan masyarakat Islam yang sebenar-benarnya.


Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Berita

SURABAYA, Suara Muhammadiyah - Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) adalah fondasi penting dalam pe....

Suara Muhammadiyah

24 October 2024

Berita

YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah - Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) secara resmi meluncurkan ....

Suara Muhammadiyah

10 October 2025

Berita

SURAKARTA, Suara Muhammadiyah - Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) menjadi tuan rumah penyelen....

Suara Muhammadiyah

15 October 2024

Berita

BANTUL, Suara Muhammadiyah - Dosen Program Studi Ekonomi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Muh....

Suara Muhammadiyah

2 March 2026

Berita

YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah – Pasca Muktamar keempat beberapa waktu lalu di Malang Jawa Tim....

Suara Muhammadiyah

9 October 2023

Tentang

© Copyright . Suara Muhammadiyah