KUDUS, Suara Muhammadiyah - Pengajian rutin Badan Pembina Harian, Dosen dan Tenaga Kependidikan Universitas Muhammadiyah Kudus (UMKU) dibuka oleh Dr. Sukarmin, S.Kep., Ns., M.Kep., Sp.KMB Wakil Rektor I Bidang Akademik Universitas Muhammadiyah Kudus, Senin, 18 Mei 2026. Pengajian menghadirkan pembicara Abdul Wahid, S.Pd.I, M.H. dengan moderator H. Syahrial Aman, S.T., M.T., di ruang Serbaguna Universitas Muhammadiyah Kudus, Jalan Ganesha 1, Purwosari Kota Kudus.
Abdul Wahid yang juga Anggota Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kabupaten Kudus menyampaikan materi tentang ‘Spirit Qurban : Menumbuhkan keikhlasan dan kepedulian sosial di Lingkungan Perguruan Tinggi Muhammadiyah ‘Aisyiyah (PTMA) ”, yang dihadiri Pengurus Badan Pembina Harian, Dosen dan Tenaga Kependidikan UMKU.
Sedangkan Abdul Wahid yang lulusan Pendidikan Ulama Tarjih Muhammadiyah Yogyakarta menjelaskan bahwa “ Tidak ada hari dimana amal shalih pada saat itu lebih dicintai oleh Allah daripada hari-hari ini, yaitu : Sepuluh hari dari bulan Dzulhijjah. Mereka bertanya : Ya Rasulullah, tidak juga jihad fi sabilillah?. Beliau menjawab : Tidak juga jihad fi sabilillah, kecuali orang yang keluar (berjihad) dengan jiwa dan hartanya, kemudian tidak kembali dengan sesuatu apapun“. (Hadis riwayat al-Bukhari no. 969)
Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda, ”Sesungguhnya Allah tidak memandang kepada rupa kalian, juga tidak kepada harta kalian, akan tetapi Dia melihat kepada hati dan amal kalian”. (H.R. Muslim 2564 dan Ahmad, Ibnu Majah, Baihaqi, Abu Nu’aim ).
Abdul Wahid yang juga anggota Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kabupaten Kudus menjelaskan kembali bahwa Spirit Qurban: Menumbuhkan Keikhlasan, dan ada 4 (empat) definisi dari ikhlas yang bisa kita simpulkan dari perkataan ulama, yaitu:
Pertama, Meniatkan suatu amalan hanya untuk Allah, sebagaimana firman Allah “Katakanlah: sesungguhnya shalatku, sembelihanku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah Rabb semesta alam. ” (QS. Al-An‘am: 162)
Kedua, Tidak mengharap-harap pujian manusia dalam beramal. Dalam Islam, tidak mengharap pujian manusia adalah fondasi dari keikhlasan. Beramal hanya untuk Allah (lillahita'ala) menjaga ibadah agar tidak gugur menjadi riya (pamer) atau ujub (bangga diri), yang pada hakikatnya tidak bernilai di mata Allah. Segala bentuk kebaikan atau kelebihan yang ada pada diri manusia pada hakikatnya adalah anugerah dan karunia dari Allah SWT.
Ketiga, Kesamaan antara sesuatu yang tampak dan yang tersembunyi. Kesamaan antara sesuatu yang tampak (lahiriah) dan yang tersembunyi (batiniah) merupakan hakikat tertinggi dari keikhlasan. Dalam ajaran Islam, hal ini berarti amal perbuatan yang dilakukan di hadapan publik sama persis kualitas dan niatnya dengan saat sendirian, semata-mata mengharap ridha Allah Subhanahu wa Ta'ala.
Keempat, Mengharap balasan dari amalannya di akhirat, ampunan, dan ridha Allah SWT adalah bentuk motivasi yang diperintahkan dalam Al-Qur'an. Ini membuktikan bahwa seseorang beramal bukan karena pujian manusia (riya'), melainkan karena keyakinan kepada hari pembalasan di akhirat kelak.
Abdul Wahid menegaskan bahwa Spirit Qurban menumbuhkan keikhlasan dan menuju Ketaqwaan kepada Allah SWT sebagaimana firman Allah SWT “Daging dan darahnya itu sekali-kali tidak akan sampai kepada Allah, tetapi yang sampai kepada-Nya adalah ketakwaan kamu… ” (QS. Al-Hajj: 37)
Abdul Wahid yang juga pengasuh Pondok Pesantren Muhammadiyah Kudus mengutip Ibnul Qayyim rahimahullah berkata bahwa “Puncak keikhlasan adalah ketika seseorang rela memberikan apa yang paling ia cintai demi Allah. Itulah yang dilakukan Ibrahim, dan karena itu ia digelari Khalilullah (kekasih Allah). ”
“Katakanlah (Nabi Muhammad), ‘Jika bapak-bapakmu, anak-anakmu, saudara-saudaramu, istri-istrimu, keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perdagangan yang kamu khawatir kerugiannya, dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai, lebih kamu cintai daripada Allah dan Rasul-Nya serta berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah memberikan keputusan-Nya.’ Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang fasik.” (AT-TAUBAH: 24)
Abdul Wahid menegaskan kembali bahwa “Manusia yang paling dicintai Allah adalah yang paling bermanfaat bagi manusia. Amal yang paling dicintai Allah ialah memasukkan kebahagiaan kepada seorang muslim, menghilangkan kesusahannya, melunasi utangnya, atau menghilangkan laparnya. Sungguh aku berjalan bersama saudaraku untuk memenuhi kebutuhannya lebih aku cintai daripada i’tikaf sebulan di masjid ini.” (HR. Ath-Thabrani dalam Al-Mu’jam Al-Kabir no. 13646, dihasankan AlAlbani dalam Shahih Al-Jami’ no. 176)
“Disebutkan kepada Nabi صلى الله عليه وسلم tentang seorang wanita yang rajin shalat malam dan puasa sunnah tetapi menyakiti tetangganya dengan lisannya.”Beliau bersabda: “Dia di neraka.” (HR. Ahmad no. 9675, shahih). (Supardi)

