JAKARTA, Suara Muhammadiyah — Pimpinan Pusat Muhammadiyah menyelenggarakan Pengajian Umum pada Jumat (24/04), bertempat di Gedung Dakwah Muhammadiyah Menteng Raya, Jakarta Pusat. Tema yang diangkat berfokus pada perkembangan situasi di Timur Tengah dan relevansinya bagi kehidupan umat serta masyarakat global.
Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah Syafiq A Mughni menegaskan, Muhammadiyah sebagai organisasi sosial keagamaan memiliki kepedulian yang mendalam terhadap kondisi dunia saat ini. Ia menyatakan bahwa cita-cita Islam dan Muhammadiyah adalah terwujudnya dunia yang aman, damai, dan berkeadilan.
"Muhammadiyah adalah sebuah organisasi sosial keagamaan yang menginginkan dan bekerja bersama-sama untuk membangun dunia yang aman, damai, dan berkeadilan," ujar Syafiq.
Ia mengingatkan bahwa kekerasan, konflik, dan peperangan merupakan bagian dari sejarah umat manusia. Bahkan, lanjutnya, para malaikat pun telah mempertanyakan hal tersebut ketika Allah menyatakan akan menjadikan manusia sebagai khalifah di muka bumi, sebagaimana termaktub dalam Al-Qur'an surah Al-Baqarah ayat 30.
Syafiq mendorong seluruh umat untuk tidak bersikap pasif di hadapan berbagai tantangan global. Meskipun konflik yang terjadi bukan bersumber dari dalam negeri, dampaknya tetap dirasakan oleh masyarakat di seluruh dunia, termasuk Indonesia.
Ia mengutip firman Allah dalam surah Al-A'raf ayat 97 sebagai landasan teologis pentingnya kewaspadaan: "Afa amina ahlul qura ay ya'tiyahum ba'suna bayatan wa hum na'imun" yang artinya "apakah penduduk negeri-negeri itu merasa aman dari kedatangan siksaan Kami di malam hari ketika mereka sedang tidur?"
"Kita harus menanamkan mental mitigasi, mental yang kokoh untuk menghadapi kemungkinan situasi yang lebih buruk dari yang kita perkirakan," tegasnya.
Ia juga mengingatkan peringatan Allah dalam Al-Qur'an surah Al-Anfal ayat 25 agar umat beriman mewaspadai fitnah yang tidak hanya menimpa orang-orang zalim, tetapi juga seluruh lapisan masyarakat. Hal ini, menurutnya, memperkuat urgensi bagi Muhammadiyah untuk terus bergerak dalam membangun kehidupan yang lebih resilien.
Pengajian ini turut dihadiri oleh sejumlah tokoh senior dan ilmuwan yang memiliki kompetensi di bidang hubungan internasional, perdamaian, dan kajian Timur Tengah, memperkuat nuansa akademis sekaligus keislaman dalam forum tersebut. (Naf)

