Semangat Fastabiqul Khairat dalam Pengembangan PTMA di Daerah

Publish

6 May 2026

Suara Muhammadiyah

Penulis

0
53
Foto Istimewa

Foto Istimewa

Oleh: Dr Sapardiyono, SHut, MH, Wakil Ketua PWM DIY/Dosen Universitas Muhammadiyah Purworejo

Rencana Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) membangun kampus di Kabupaten Purworejo merupakan perkembangan penting yang perlu disikapi secara arif. Dalam perspektif Muhammadiyah, setiap upaya memperluas akses pendidikan tinggi pada dasarnya patut diapresiasi. Semakin banyak masyarakat memperoleh kesempatan kuliah dengan mutu baik dan biaya terjangkau, semakin besar peluang lahirnya sumber daya manusia unggul bagi bangsa.

Karena itu, kehadiran UNY tidak semestinya dilihat semata sebagai ancaman. Muhammadiyah sejak awal menjadikan pendidikan sebagai jalan pencerahan dan kemajuan. Dalam spirit fastabiqul khairat, berlomba-lomba dalam kebaikan, persaingan yang sehat justru dapat mendorong peningkatan kualitas perguruan tinggi. Namun demikian, Muhammadiyah juga berkepentingan agar ekosistem pendidikan tinggi tetap adil, sehingga kampus-kampus di daerah tidak terpinggirkan oleh ekspansi institusi besar.

Purworejo bukan ruang kosong. Daerah ini telah memiliki beberapa perguruan tinggi swasta, termasuk Universitas Muhammadiyah Purworejo (UMPWR), yang selama puluhan tahun berkontribusi mencerdaskan masyarakat. Kampus daerah memiliki peran strategis: membuka akses pendidikan bagi masyarakat lokal, menggerakkan ekonomi sekitar, dan menjadi pusat pengembangan sumber daya manusia setempat. Karena itu, masuknya kampus besar perlu dibaca dengan kebijakan yang seimbang.

Dalam pandangan Muhammadiyah, kampus besar seperti UNY seyogianya tetap menempatkan mutu sebagai orientasi utama. Keunggulan perguruan tinggi tidak diukur dari banyaknya cabang, melainkan dari kualitas akademik, riset, inovasi, dan reputasi nasional maupun internasional. Indonesia membutuhkan universitas unggul yang mampu bersaing di tingkat global, sekaligus memberi manfaat nyata bagi daerah.

Di sisi lain, rencana UNY harus menjadi momentum introspeksi bagi Perguruan Tinggi Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah (PTMA), terutama yang berada di daerah. Era kompetisi baru menuntut kampus Muhammadiyah lebih adaptif, profesional, dan inovatif. Tidak cukup hanya mengandalkan sejarah panjang atau kedekatan emosional dengan masyarakat. Yang dibutuhkan adalah kualitas nyata, layanan baik, dan program studi yang relevan dengan kebutuhan zaman.

Karena itu, penguatan PTMA perlu dilakukan melalui beberapa langkah. Pertama, memperbaiki tata kelola kelembagaan yang modern dan akuntabel. Kedua, meningkatkan kualitas dosen, riset, dan kurikulum. Ketiga, membuka program studi unggulan berbasis potensi daerah, seperti pertanian, teknologi terapan, kesehatan, kewirausahaan, dan pariwisata. Keempat, mempercepat digitalisasi layanan akademik agar kampus semakin responsif dan efisien.

Selain itu, sudah saatnya Muhammadiyah kembali menghidupkan wacana merger atau penggabungan strategis antar PTMA. Ini bukan semata penyatuan administratif, tetapi konsolidasi kekuatan agar kampus-kampus Muhammadiyah semakin kokoh menghadapi kompetisi. PTMA yang besar dan mapan perlu menjadi lokomotif bagi PTMA di daerah yang sedang berkembang.

Beberapa contoh dapat dipertimbangkan misalnya, Universitas Muhammadiyah Gombong (UNIMUGO) dapat bersinergi dengan Universitas Muhammadiyah Purwokerto (UMP) agar terjadi penguatan kelembagaan dan percepatan mutu. Universitas Muhammadiyah Purworejo (UMPWR) dapat menjajaki model kolaborasi strategis dengan Universitas Muhammadiyah Magelang (UNIMA). Bahkan, tidak tertutup kemungkinan UMPWR membangun integrasi lebih erat dengan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) yang mempunyai kedekatan secara geografis serta telah memiliki reputasi nasional bahkan internasional. Dengan langkah seperti ini, kampus daerah tidak berjalan sendiri, tetapi bertumbuh dalam kekuatan jaringan Muhammadiyah.

Semangat merger dan kolaborasi tersebut sejalan dengan nilai ta’awun dan fastabiqul khairat: saling menolong sambil berlomba menghadirkan kebaikan terbaik bagi umat dan bangsa. Kekuatan Muhammadiyah terletak pada jaringan, bukan pada persaingan internal. Jika PTMA saling menopang, maka mutu pendidikan akan meningkat, akreditasi membaik, dan daya saing lulusan semakin kuat.

Pada akhirnya, rencana UNY membangun kampus di Purworejo harus dibaca sebagai tantangan sekaligus peluang. Tantangan karena persaingan akan semakin ketat, tetapi peluang karena dapat memacu kebangkitan PTMA untuk berbenah dan berkolaborasi. Muhammadiyah percaya, masa depan pendidikan tidak ditentukan oleh siapa yang paling besar, melainkan oleh siapa yang paling siap berubah, menjaga mutu, dan memberi manfaat bagi masyarakat. Jika semangat fastabiqul khairat terus dihidupkan, PTMA di daerah akan tetap maju dan menjadi pilar penting pendidikan bangsa.


Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Wawasan

Mengatasi Krisis Iman di Kalangan Anak-Anak Muda Oleh: Donny Syofyan, Dosen Fakultas Ilmu Budaya Un....

Suara Muhammadiyah

8 September 2025

Wawasan

Oleh: Donny Syofyan. Dosen Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas Mari kita lanjutkan perjalanan ....

Suara Muhammadiyah

6 November 2024

Wawasan

Sebuah Alasan untuk Tetap Semangat Berkarya Oleh: Heriyanti, Kepala SMP Muhammadiyah 3 Yogyakarta, ....

Suara Muhammadiyah

22 May 2024

Wawasan

Dakwah Muhammadiyah di Era Algoritma dan Post-Truth Oleh: Mohammad Nur Rianto Al Arif, Guru Besar U....

Suara Muhammadiyah

26 December 2025

Wawasan

Diskursus dan Pembelajaran Bahasa untuk Membangun Peradaban Manusia Pidato Pengukuhan Guru Besar TE....

Suara Muhammadiyah

2 January 2025

Tentang

© Copyright . Suara Muhammadiyah