Tekankan Integritas, Konferensi Internasional UMY Diikuti 82 Negara

Suara Muhammadiyah

5 August 2026

152
Istimewa

Istimewa

YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah – Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) menegaskan bahwa konferensi internasional merupakan instrumen strategis untuk diseminasi hasil penelitian terbaru serta perlu mengedepankan integritas. Selain itu, luaran hasil penelitian pun tak pelak memiliki standar dan terbit ke dalam jurnal internasional bereputasi.

Rektor UMY Prof Achmad Nurmandi menjelaskan bahwa agenda tahunan ini bertujuan sebagai sarana diseminasi hasil penelitian terbaru baik yang dilakukan oleh dosen maupun mahasiswa. "Tahun ke tahun jumlah partisipan terus meningkat. Tahun ini kami menerima 2.088 paper yang tersebar di 22 bidang fokus (focal areas)," ungkapnya di Kampus Terpadu UMY, 5 Agustus 2026.

Konferensi Internasional UMY ini menaungi beberapa konferensi seperti International Conference on Sustainable Innovation (ICoSI), International Conference on Community Service (ICCS), UMY International Graduate Conference (UMYGrace), serta Seminar Nasional Pengabdian Masyarakat Mahasiswa (SIBISA).

Para peserta yang hadir memiliki latar belakang beragam, mulai dari praktisi, akademisi, hingga mahasiswa yang berasal dari 82 negara dan 6 benua. Selain sesi presentasi, setiap bidang fokus menghadirkan pembicara kunci (keynote speakers) yang kompeten di bidangnya masing-masing. Luaran dari konferensi ini ditargetkan berupa jurnal internasional bereputasi, prosiding, hingga poster ilmiah.

Di tengah maraknya fenomena konferensi "abal-abal" yang hanya berorientasi pada keuntungan finansial tanpa proses akademik yang jelas, UMY menegaskan komitmennya terhadap kualitas. Rektor menekankan bahwa seluruh konferensi di bawah UMY harus melalui proses review yang ketat.

"Konferensi yang baik harus memiliki standar mutu. Di UMY, semua dikontrol di bawah manajemen Direktorat Penelitian dan Pengabdian. Kami memastikan setiap bidang fokus memiliki minimal tiga reviewer, website resmi yang valid, serta mitra jurnal atau penerbit yang kredibel," tegas Nurmandi.

Selain itu, untuk menjaga transparansi dan menghindari penyimpangan, seluruh biaya administrasi atau article processing cost diwajibkan melalui rekening resmi universitas. Langkah ini diambil guna mengantisipasi pencatutan nama universitas oleh pihak yang tidak bertanggung jawab serta memastikan karya ilmiah yang dihasilkan tidak terjebak dalam jurnal predator.

Diplomasi Religi Kunci Perdamaian Dunia

Di tengah dinamika konflik global yang semakin kompleks, Duta Besar Indonesia untuk Vatikan, Michael Trias Kuncahyono, menekankan pentingnya peran diplomasi religi (religious diplomacy) sebagai instrumen vital dalam mewujudkan perdamaian dunia. Hal tersebut disampaikannya saat memberikan keynote speech dalam pembukaan Konferensi Internasional UMY 2026.

Dalam paparannya, Trias Kuncahyono menjelaskan bahwa penyebab konflik internasional saat ini telah meluas dari sekadar perebutan sumber daya atau batas wilayah menjadi isu budaya dan agama. Ia menegaskan bahwa diplomasi religi sangat diperlukan karena mengajarkan nilai-nilai fundamental seperti keadilan, perdamaian, dan kepercayaan (trust).

"Seorang diplomat atau atase harus memahami literasi agama. Tidak perlu menjadi pemimpin agama, namun harus paham nilai-nilainya agar dalam setiap pendekatan diplomasi dapat mengedukasi tentang toleransi dan kebersamaan yang diinginkan semua orang," ungkap jurnalis senior itu.

Trias juga menyoroti konsep interfaith dialogue (dialog lintas iman) yang telah diperkenalkan pemerintah Indonesia. Menurutnya, dialog ini bukan bertujuan menyamakan keyakinan, melainkan membuka pikiran untuk menerima perbedaan dan menemukan kesepakatan agar dapat berjalan berdampingan.

Ia mendefinisikan diplomasi sebagai seni berkomunikasi untuk meyakinkan pihak lain. "Keterbukaan adalah syarat utama komunikasi. Jika ada persoalan, jangan ditutup-tutupi, tetapi harus segera diselesaikan melalui komunikasi yang terbuka antarumat beragama," tambahnya.

Menanggapi situasi krisis global saat ini, Trias berpendapat bahwa dunia sedang mengalami kekosongan kepemimpinan sentral, di mana negara-negara besar seperti Amerika Serikat, Rusia, dan Cina cenderung terjebak pada kepentingan politik dan ekonomi mereka sendiri.

Dalam konteks ini, ia menyebut sosok Paus Fransiskus sebagai tokoh sentral yang suaranya didengar secara global karena konsistensinya menyuarakan perdamaian, seperti pada konflik di Gaza dan Ukraina, tanpa adanya kepentingan politik praktis.

"Pemimpin agama bertugas untuk terus-menerus mengingatkan para pemimpin dunia tentang moral dan etika. Meski terkadang terasa seperti 'berteriak di padang gurun', pesan perdamaian harus terus diteriakkan agar dunia sadar bahwa tidak ada rakyat yang menginginkan perang; semua orang butuh damai," tegasnya.

 


Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Berita

Gong Kejuaraan Dunia Tapak Suci, Diawali Tapak Suci Student Nasional Championship 2025  Gender....

Suara Muhammadiyah

28 July 2025

Berita

Simbol Kekuatan Ukhuwah dan Syiar Dakwah MAKASSAR, Suara Muhammadiyah - Ratusan warga dan simpatisa....

Suara Muhammadiyah

5 December 2025

Berita

BANDUNG, Suara Muhammadiyah  — Universitas Muhammadiyah (UM) Bandung melalui Unit Kegiata....

Suara Muhammadiyah

23 October 2024

Berita

Gorontalo, Suara Muhammadiyah -Sebanyak 306 mahasiswa Universitas Muhammadiyah Gorontalo (UMGO) berh....

Suara Muhammadiyah

13 June 2024

Berita

MPKU PP Muhammadiyah Kolaborasi UNFPA  JAKARTA, Suara Muhammadiyah - Sebagai bagian dari upaya....

Suara Muhammadiyah

22 July 2026

Tentang

© Copyright . Suara Muhammadiyah