AI Makin Banyak Dipakai, Ini Tips Akademisi Agar Riset Tetap Kritis dan Orisinal

Suara Muhammadiyah

22 August 2026

132
Foto Istimewa

Foto Istimewa

BANDUNG, Suara Muhammadiyah — Kecerdasan buatan (AI) semakin mudah digunakan mahasiswa untuk mencari ide, menyusun kerangka penelitian, hingga membantu proses penulisan. Namun, penggunaan AI dalam riset tidak berarti mahasiswa bisa menyerahkan seluruh proses berpikir kepada mesin.

Dosen Fakultas Ilmu Komunikasi Unpad Dr Ira Mirawati MSi mengatakan, AI justru akan lebih bermanfaat jika digunakan sebagai teman berdiskusi untuk membantu mahasiswa mengembangkan gagasan penelitian.

Menurut Ira, AI dapat membantu ketika mahasiswa mengalami kebuntuan dalam menentukan topik atau arah penelitian. Teknologi ini bisa digunakan untuk memetakan ide, menemukan sudut pandang, mengembangkan pertanyaan penelitian, hingga membantu menyusun alur berpikir.

“Adanya AI untuk mahasiswa berarti tidak ada lagi stuck dan bingung mau melakukan apa,” kata Ira dalam Workshop Riset di Era AI di Universitas Muhammadiyah Bandung pada Kamis (20/8/2026).

Namun, mahasiswa tetap harus menjadi pihak yang menentukan substansi penelitian. AI boleh membantu membuka jalan, tetapi masalah penelitian, argumentasi, analisis, dan kesimpulan harus lahir dari proses berpikir peneliti.

“AI bisa membantu menemukan ide, keluar dari kebuntuan, dan membuatkan create atau jalur. Namun, langkah selanjutnya untuk menjalankan substansinya teman-teman mahasiswa tetap harus mengeluarkan pemikirannya sendiri,” ujarnya.

Ira mengingatkan mahasiswa agar tidak menggunakan AI dengan cara instan. Misalnya, meminta teknologi tersebut menulis seluruh proposal atau skripsi hanya melalui satu perintah.

“Kesalahan terbesar pemula adalah meminta AI menulis seluruh proposal dalam satu kali prompt atau perintah,” tutur Ira.

Menurutnya, cara yang lebih efektif adalah menggunakan AI secara bertahap. Mahasiswa dapat mendiskusikan satu bagian penelitian terlebih dahulu, kemudian mengevaluasi hasilnya sebelum melanjutkan ke bagian berikutnya.

Misalnya, AI dapat digunakan untuk mendiskusikan latar belakang masalah, kemudian membantu menguji rumusan masalah, memetakan teori yang relevan, atau membandingkan beberapa pilihan metode penelitian.

Dengan cara tersebut, mahasiswa tidak sekadar mendapatkan teks jadi. Namun, dapat menggunakan AI untuk menguji apakah gagasan penelitian mereka sudah cukup kuat.

Beri Konteks, Jangan Sekadar Bertanya

Ira juga menyarankan mahasiswa memberikan instruksi yang jelas ketika menggunakan AI. Topik penelitian, objek yang dikaji, tujuan penelitian, perspektif yang digunakan, hingga data awal yang sudah dimiliki perlu dijelaskan agar AI dapat memberikan respons yang lebih relevan.

Selain itu, data statistik dan informasi penting juga harus berasal dari sumber yang jelas. AI tidak boleh dijadikan satu-satunya sumber data penelitian.

“Jadikan AI sebagai partner diskusi yang membukakan jalan buntu, memperbaiki struktur berpikir, dan mempercepat teknis penulisan agar kita bisa fokus pada esensi inovasi ide kita,” katanya.

Artinya, AI lebih tepat digunakan untuk mempercepat pekerjaan teknis dan memperkaya proses berpikir, bukan menggantikan proses penelitian itu sendiri.

Satu hal yang tidak boleh dilewatkan mahasiswa adalah memeriksa kembali hasil yang diberikan AI. Ira mengingatkan adanya kemungkinan halusinasi AI, yakni ketika AI memberikan informasi yang terdengar benar padahal keliru.

Oleh karena itu, setiap data, teori, referensi, nama penulis, kutipan, dan klaim akademik, kata Ira, harus diverifikasi melalui sumber yang dapat dipertanggungjawabkan.

Mahasiswa juga perlu mengedit kembali tulisan yang dibantu AI agar tetap mencerminkan pemikiran dan gaya bahasa mereka sendiri. Pemeriksaan plagiarisme juga tetap diperlukan.

“AI adalah alat atau tool, bukan penulis pengganti atau author. Oleh karena itu, setiap argumen, data, dan klaim di dalam proposal adalah seratus persen tanggung jawab kita,” tegas Ira.

Menurut Ira, penggunaan AI di kampus sudah menjadi kenyataan yang tidak mungkin dihindari. Oleh karena itu, kampus perlu memiliki aturan yang jelas agar mahasiswa mengetahui bagaimana AI boleh digunakan dalam pembelajaran ataupun penelitian.

“Saya rasa ini sudah waktunya bagi kampus untuk menyusun berbagai kebijakan terkait penggunaan AI. Bagaimanapun AI tidak terhindarkan lagi dan bagaimana kita mengarahkan anak-anak didik kita menggunakan AI lebih bermanfaat lagi, tetapi sesuai dengan etikanya,” ujarnya.

Pandangan tersebut disampaikan Ira dalam Workshop Riset di Era AI bertajuk “Strategi Riset dan Etika Akademik bagi Mahasiswa PTKI” yang berlangsung di Auditorium KH Ahmad Dahlan UM Bandung.

Ratusan mahasiswa dari UM Bandung dan sejumlah kampus di Bandung Raya mengikuti kegiatan tersebut. Anggota DPR RI Komisi VIII Atalia Praratya juga turut memberikan pandangan mengenai perkembangan AI dan pentingnya etika dalam pemanfaatannya.***(FK)


Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Berita

BANDUNG, Suara Muhammadiyah – Dalam resepsi Milad 111 tahun Muhammadiyah yang berlangsung di G....

Suara Muhammadiyah

19 January 2024

Berita

LAMPUNG, Suara Muhammadiyah - Salman Amar Raif selaku Ketua Bidang Pengkajian Ilmu Pengetahuan (PIP)....

Suara Muhammadiyah

23 November 2024

Berita

BANDAACEH, Suara Muhammadiyah – ketua Senat Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan (STIKes) Muhammadiya....

Suara Muhammadiyah

21 December 2023

Berita

YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah – Ahmad Husni, seorang pensiunan dosen Fakultas Hukum Universit....

Suara Muhammadiyah

26 December 2024

Berita

JAKARTA, Suara Muhammadiyah - Acara Recon PR 2.0 yang diselenggarakan oleh Perhumas Muda Jakarta Ray....

Suara Muhammadiyah

3 October 2025

Tentang

© Copyright . Suara Muhammadiyah